Rabu, 12 Aug 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Pawiwahan Ngubeng, Sederhana Tak Kurangi Makna Perkawinan  

08 Juli 2020, 07: 59: 45 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Pawiwahan Ngubeng, Sederhana Tak Kurangi Makna Perkawinan   

NGUBENG: Pawiwahan Ngubeng yang dilaksanakan di Griya Agung Bangkasa antara Jro Mangku Made Dimas Agus Supryatna dan Jro Mangku Istri Kadek Citra Agustini, 2018 lalu.   (Surpa Adisastra/Bali Express)

Share this      

MANGUPURA, BALI EXPRESS-Perkawinan sesuatu yang sakral, tak hanya sebatas ikatan formal, melainkan spiritual. Sebab prosesinya di Hindu melibatkan Tri Upasaksi atau tiga saksi, yakni Dewa Saksi dalam hal ini Tuhan, Manusa Saksi dalam hal ini administrasi formal dan keluarga, serta Bhuta Saksi, bhuta kala. Sehingga ikatan perkawinan mempelai dipercaya sah secara sekala maupun niskala. 

Zaman terus berkembang. Prosesi perkawinan atau pawiwahan pun sedikit demi sedikit mengalami perubahan dalam sisi praktik. Namun, esensinya masih tetap sama. Bahwa ada Tri Upasaksi. Hal ini tentu wajar, sebab tata cara perkawinan yang diinisiasi oleh agama berbaur dengan sistem adat setempat. Demikian pula di Bali.

Biasanya prosesi perkawinan kebanyakan dilaksanakan di rumah mempelai. Sebab ada sesi natab di merajan. Namun, belakangan perkawinan cukup banyak dilaksanakan di griya dan dipuput sulinggih setempat. Muncullah istilah Pawiwahan Ngubeng. Sebagian besar prosesnya dilaksanakan di griya, dipimpin langsung Sang Dwijati.

Salah satu yang mengikuti Pawiwahan Ngubeng selaku mempelai adalah pasangan Jro Mangku Made Dimas Agus Supryatna dan Jro Mangku Istri Kadek Citra Agustini. Jro Dimas menceritakan pengalamannya saat mengikuti Pawiwahan Ngubeng 2018 lalu. Saat itu dirinya mengikuti Pabayuhan Tampel Bolong di Griya Agung Bangkasa, Banjar Pengembungan, Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal, Badung. Tidak sengaja, ia bertemu dengan adik temannya sewaktu SMA. “Selama 12 tahun tak bertemu, ternyata bertemu lagi dalam upacara tersebut,” ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) baru-baru ini.

Dari pertemuan itu, terjadilah kedekatan di antara keduanya. Tak berselang lama, akhir 2018, mereka pun memantapkan hati melangsungkan perkawinan. Namun, karena Jro Dimas saat itu sudah diwinten menjadi pamangku, calon mempelai wanita diarahkan untuk mengikuti pelatihan kepamangkuan di Griya Agung Bangkasa, lanjut diwinten menjadi pinandita wiwa. “Sehingga status kami sama-sama jro mangku,” ujar pemuda 27 tahun ini.

Keluarga Jro Dimas memiliki taraf ekonomi yang cukup mampu. Berasal dari Desa Sandakan, Kecamatan Petang, Badung, ia sekeluarga telah tinggal cukup lama di kawasan Jalan A Yani, Denpasar. “Ada banyak pertanyaan waktu itu, di Jalan A Yani, Denpasar tyang (saya) sudah punya rumah, terus di kampung juga ada merajan gede, kenapa justru melaksanakan pawiwahan di griya. Mungkin konsep menurut masyarakat umum agak menyimpang, kok sudah punya rumah, terus melaksanakan Pawiwahan Ngubeng?” ucapnya.

Dijelaskan pria yang pernah mengenyam pendidikan sarjana hukum di Universitas Mahasaraswati Denpasar ini, waktu itu tujuannya adalah efisiensi. Pertama terkait waktu, juga saudaranya banyak yang tinggal jauh. “Jadi bagaimana kalau kita tarik semuanya ke tengah, baik keluarga mempelai wanita juga keluarga mempelai pria, dan alangkah baiknya (upacara) dipuput seorang sulinggih,” jelasnya.

Jika biasanya prosesi terlihat menonjol saat resepsi, namun pihaknya berprinsip menonjolkan proses inti pawiwahan itu sendiri. Dalam pawiwahan yang dilaksanakan di Griya Agung Bangkasa itu, baik prajuru maupun keluarga mempelai diharapkan bisa melihat proses dan saling mengenal. Sebab, menurutnya tak hanya kedua mempelai yang perlu saling mengenal, namun kedua keluarga. “ Ngubeng, selain menghemat waktu dan tempat, ada makna tersendiri bagi tyang. Bagaimana jika bukan resepsi ataupun prewedding yang kami tonjolkan, namun apa sih pawiwahan itu sendiri,” katanya.

Hal ini juga diharapkan menjadi salah satu pertimbangan jika nantinya ada calon mempelai yang terkendala, seperti tidak punya keluarga atau tempat, namun tetap bisa melangsungkan pernikahan. “Harapannya,  para remaja yang suatu saat menjadi dewasa memiliki pertimbangan dalam melangsungkan perkawinan. Bahwa ada hal yang praktis, kelihatannya sederhana, namun tidak mengurangi makna yang utama. Karena perlalihan zaman itu sering menghilangkan makna sesungguhnya dari sebuah upacara. Itu menurut tyang pribadi,” tegasnya.

Di samping itu, Jro Dimas juga mempertimbangkan kondisi fisik orang tuanya saat itu. Di sisi lain, mereka telah tinggal di kota. “Bapak saya sudah tua, 75 tahun. Dahulu saya sering melihat upacara pawiwahan di rumah itu cukup rumit. Juga di zaman sekarang, kebanyakan orang bekerja. Sehingga kita sulit mendapat bantuan tenaga berupa ayahan,” terangnya.

Bukan tanpa pertentangan, awalnya ia dan calon istri sempat diberondong pertanyaan oleh keluarga soal memilih melakukan prosesi perkawinan di griya. “Saya jelaskan dengan sederhana. Saya tidak menghilangkan makna pawiwahan. Yang berubah adalah tempat dan waktu,” katanya.

Sebab terkadang, kata dia, saat kita melalui prosesi inti pawiwahan, konsentrasi terpecah. Semisal memikirkan undangan yang akan datang. Penyiapan resepsi yang terkadang begitu mepet. “Saya berpikir ini rumit, karena maknanya akan berkurang setengah, karena saya harus melaksanakan resepsi. Nah, bagaimana jika saya laksanakan di satu tempat dan sekalian. Jadi itu persepsi saya waktu itu, dan akhirnya mereka mengerti dan tidak terjadi dilema,” beber alumni SMA Dwijendra Denpasar ini.

Menurut Jro Mangku Gede Sugata Manuaba dari Griya Bangkasa menegaskan, Pawiwahan Ngubeng hanya berbeda dari sisi rangkaian, namun filosofinya sama. “Meski rangkaiannya berbeda dengan pawiwahan pada umumnya, titiang menyebut Pawiwahan Ngubeng dari segi makna dan filosofi tak memiliki perbedaan dengan pawiwahan pada umumnya,” tegasnya.

Menurut Ida Sinuhun Siwa Putri Parama Daksa Manuaba, lanjutnya, Pawiwahan Ngubeng dilakukan karena berbagai faktor. Semisal ingin lebih ringan, upacara nuwek (fokus) pada tattwa, atau karena keadaan tertentu lainnya.

(bx/adi/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news