Rabu, 12 Aug 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Membeber Misteri Batu Berbentuk Ikan Jro Komang Sutrisna 

Terkait Pura Segara dan Pura Batu Mas Kuning

09 Juli 2020, 09: 38: 13 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Membeber Misteri Batu Berbentuk Ikan Jro Komang Sutrisna 

BATU IKAN: Batu milik Jro Komang Sutrisna yang berbentuk ikan, diyakini berkaitan dengan Pura Segara dan Pura Batu Mas Kuning Nusa Penida.   (istimewa)

Share this      

DENPASAR< BALI EXPRESS - Jro Komang Sutrisna memiliki sebuah batu berbentuk seperti ikan. Batu yang cukup besar ini memiliki cerita unik, dan kental dengan cerita mistis. Lantas bagaimana batu yang dia yakini berkaitan dengan Pura Segara dan Pura Batu Mas Kuning Nusa Penida ini bisa dimiliki keluarganya?

Cerita itu berawal sejak puluhan tahun silam ketika Jro Komang Sutrisna masih kecil, tepatnya tahun 1980an. Kepada Bali Express (Jawa Pos Grup) saat bertandang ke rumahnya di daerah Denpasar Timur, Jro Komang Sutrisna menuturkan, awalnya batu ini ditemukan secara tidak sengaja, ketika pembuatan sumur di rumahnya. Pada saat penggalian, tukang yang menggarap sumur, belum juga mendapatkan  tanda tanda munculnya air, padahal sudah menggali hingga kedalaman 7 meter.

Ketika penggalian terus dilakukan,  alat penggali sumur  seperti membentur benda keras, yang ternyata sebuah batu. Batu itu kemudian perlahan diangkat, dan seketika suara gemuruh air menyertai. “Ini ada oleh-oleh dari bawah. Saya masih ingat kata-kata tukang itu sambil menunjukkan batu tersebut setelah naik dari bawah,” ucap Jro Komang Sutrisna mengawali ceritanya.

Membeber Misteri Batu Berbentuk Ikan Jro Komang Sutrisna 

Jro Komang Sutrisna (istimewa)

Batu tersebut memang unik, karena bentuknya seperti ikan. Tapi, keluarga Jro Komang Sutrisna waktu itu tidak ngeh, bahwa batu itu nantinya amat disakralkan oleh Jro Komang Sutrisna. “Setelah itu, batu tersebut hanya diletakkan begitu saja di ebelah sumur, karena bentuknya mirip ikan. Ya biar ada hubungannya dengan air,” ucapnya.

Singkat cerita, kejadian mistis pun mengiringi. Ibu dari Jro Komang Sutrisna waktu itu sering bermimpi aneh. “Ibu saya sering berbicara , padahal tidurnya lelap. Sering juga katanya melihat angsa di sumur itu di dalam mimpi. Bukan hanya di mimpi, di sekitar sumur juga sering didengar suara okokan sapi dan kerap melihat kelebatan bayangan,” ucapnya.

Lama kelamaan sampai bertahun-tahun, sumur tersebut tidak dipergunakan lagi karena pasang surutnya air. Dan pada saat itu, keluarga Jro Komang Sutrisna berkeinginan membuat sebuah kamar suci yang lokasinya berada di sumur tersebut.

Dalam proses pengerjaannya, karena lama tak terurus, banyak rerumputan yang menghalangi sumur. Pada saat dibersihkan, ditemukanlah batu yang puluhan tahun tergelatak begitu saja. Alangkah kagetnya keluarga Jro Komang Sutrisna yang pada saat itu melihat ukuran batu sudah membesar dari pertama kali melihatnya.

“Saya ingat betul. Dahulu waktu saya kecil, batunya masih bisa dimasukkan ke ember. Sekarang ukurannya jauh berbeda dan malah lebih besar,” tegas Jro Komang Sutrisna yang juga Direktur PKBI Bali ini.

Karena keanehan itulah, batu tersebut dibersihkan dan diletakkan tidak sembarangan lagi. Namun, pikiran keluarganya belum mengarah ke hal mistis. “Tapi anehnya, ketika batu ditemukan itu, begitu diangkat banyak sekali semut yang keluar. Entah dari mana datangnya, jumlahnya luar biasa banyaknya,” imbuhnya.

Beberapa waktu berselang, ada seorang jro mangku datang ke rumah Jro Komang Sutrisna. Keanehan langsung terjadi, jro mangku tersebut langsung karauhan (trance) begitu masuk ke rumahnya. Dan, jro mangku tersebut berlari ke arah batu yang kini diletakkan di dekat pancoran air. Padahal, jro mangku itu baru pertama kalinya mengunjungi rumah Jro Komang Sutrisna.

“Anehnya lagi, karauhan jro mangku itu hampir persis dengan mimpi yang dialami ibu saya,” tambah Jro Komang Sutrisna yang berprofesi sebagai advokat ini.

Mimpi dari ibu Jro Komang Sutrisna itu disebutkan seperti menggendong seekor ikan besar, dan yang dialami jro mangku itu juga sama, dimana langsung menggendong batu tersebut saat karauhan. Itu terjadi di tahun 2010 lalu.

“Setelah itu barulah disucikan dan nangiang (membangunkan atau ngurip) yang berstana di Batu Ulam. Tabik pakulun, karena kelahirannya diikuti suara mangoos, beliau mapesengan Ratu Gede Mengoos yang merupakan pratisentana Ida Hyang Baruna dan Bhatari Ulam Ageng,” tuturnya.

Sasuhunan yang berstana tersebut, dikatakan Jro Komang Sutrisna, berhubungan dengan Pura Segara dan Pura Batu Mas Kuning Nusa Penida. Setelah nangiang, Jro Komang Sutrisna tangkil ke pura-pura tersebut dan mendak daksina linggih dan tirta. Untuk upakara setiap hari maupun hari-hari khusus, seperti Purnama, Tilem maupun Kajeng Kliwon. “Upakaranya sangat sederhana. Semampunya saja. Yang dihaturkan setiap hari itu segehan ireng (hitam). Tapi kalau hari-hari tertentu, menghaturkan segehan ireng-kuning,” tambahnya. Namun, ada upacara khusus juga disebutkan, yakni setiap Kajeng Kliwon, menghaturkan banten pejatian dan nyambleh (segehan agung dan sesamblehan).

Kemunculan batu unik tersebut, juga menjadi awal perjalanan spiritual Jro Komang Sutrisna yang juga jurnalist ini. Banyak kejadian tak terduga yang berhubungan dunia niskala sampai akhirnya dua palawatan, Ida Ratu Ayu dan Ida Ratu Gede ikut metangi. “Walau awalnya, banyak cobaan yang menyertai keberadaan beliau. Namun, Ida sareng sami selalu menjaga dan memberikan keselamatan dan kedamaian untuk keluarga kami,” kata Jro Komang Sutrisna.

Bagi Jro Komang Sutrisna, sasuhunannya tersebut tak terlepas dari pengalaman masa lalu yang pernah dialami olehnya yang tak jauh dari air. Salah satu pengalaman yang tak pernah ia lupakan, Jro Komang Sutrisna pernah tenggelam di sungai di utara Bendungan Wongan, Tonja, Denpasar, dan sempat lama tidak muncul-muncul di permukaan.

Saat tercebur itu, Jro Komang Sutrisna mengaku seperti ditarik dan masuk dalam air dengan cepat. Dia merasa bisa bernapas di dalam air, diluar logika dan sangat tidak masuk akal. Anehnya lagi, setelah beberapa lama di dalam air, badan Jro Komang Sutrisna seperti ada yang merangkul dari belakang dan tangannya ditarik ke atas lalu disenderkan ke batu di tepian. “Itu pengalaman yang tak bisa dilupakan. Cukup lama di dasar sungai, kaki tak bisa bergerak. Semua saya bisa lihat, di dasar sungai itu. Saya yakin, beliau masih bermurah hati, menyelamatkan saya,” pungkasnya. 

(bx/dhi/rin/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news