Rabu, 12 Aug 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Sumber Mata Air Bertuah Muncul dari Batu Karang

Pura Tirta Suci Tampak Lawang, Tulamben

11 Juli 2020, 01: 42: 50 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Sumber Mata Air Bertuah Muncul dari Batu Karang

SUMUR: Jro Mangku Nengah Putu berada di sumur tempat tirta suci Tampak Lawang yang  terhubung ke bibir pantai. (Agus Eka Purna Negara/Bali Express)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPRESS - Pura Tirta Suci Tampak Lawang terletak di pinggir Pantai Tulamben, Desa Adat Tulamben, Kecamatan Kubu, Karangasem. Lokasinya sangat eksotis, karena berdampingan dengan laut lepas dengan panorama laut biru, serta bebatuan dan pasir hitamnya.

Selain panorama indah, mengunjungi Pura Tirta Suci Tampak Lawang juga dapat memberikan pengalaman spiritual. Seperti nunas (memohon) toya panglukatan yang bertuah. Pasucian Tampak Lawang memiliki fungsi strategis, sebagai tempat pasucian atau mlasti krama Desa Adat Tulamben. Hal ini dikatakan salah satu pemangku yang juga Ketua Paguyuban Pemangku, Jro Mangku Nengah Putu.

Selain berfungsi untuk membersihkan diri secara sekala maupun niskala, Jro Mangku Nengah juga menyebut, di pura ini kerap dijadikan tempat memohon keselamatan maupun mohon kesembuhan dari penyakit non medis.

Banyak krama Karangasem sampai luar Bali datang untuk memohon dan membawa air suci ke masing-masing rumah. Dikatakannya, fungsi air ada dua, yakni toya segara untuk menyucikan parahyangan, palemahan, dan pawongan. Air tawar khusus untuk kegiatan upacara.

Di pura tersebut dapat dijumpai tiga palinggih utama. Masing-masing Palinggih Padmasana yang dibangun untuk stana Batara Segara atau Baruna. Kemudian Palinggih Dewi Gangga, serta Palinggih Ida Ratu Niang. Menariknya, di depan area Palinggih Ratu Niang dan Dewi Gangga terdapat daratan karang.

Di dalam karang itulah terdapat bulakan (sumber mata air)  besar atau kelebutan yang dipercaya titik munculnya sumber mata air tawar. Konon, mata air tersebut bertuah. Misalnya untuk membersihkan jiwa sampai menyembuhkan macam penyakit non medis. Bahkan, bulakan itu terhubung dengan sumur yang dibangun di sebelah utara Palinggih Ida Ratu Niang.

Jeo Mangku Nengah mengakui, air itu tak pernah surut, sekalipun air laut pernah surut beberapa jam. Debit air memang pernah mengecil, namun terus mengalir. “Kami percaya air itu suci. Pertemuan air laut dan tawar menjadikan air payau. Tapi kalau air laut surut bisa dicicipi, airnya tawar. Orang-orang nunas (memohon) dipakai membersihkan pekarangan sampai obat,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, sebagaimana diketahui banyak krama Hindu, segara (laut) sebagai tempat yang disucikan. Prosesi malukat, bertujuan membersihkan diri dari kekotoran sekala maupun niskala. Nah, air yang dikeluarkan dari sumur maupun bulakan, juga sama halnya untuk membersihkan diri dari aura negatif.

Krama tidak hanya malukat langsung di pura, melainkan ada juga yang hanya memohon tirtanya untuk dibawa pulang. Sepengetahuan Jro Mangku Nengah, beberapa tokoh spiritual pernah datang untuk membawa air suci ke tempatnya untuk proses pengobatan.

Pernah pula suatu ketika, satu keluarga datang ke Pura Tirta Suci Tampak Lawang, mengajak salah seorang kerabatnya dalam kondisi tidak sadar. Orang tersebut dibopong, lalu diberikan tirta suci kemudian malukat. Beberapa saat kemudian, orang tersebut sadar. Jro Mangku Nengah tidak tahu persis, bagaimana keluarga tersebut bisa mengetahui keberadaan pura.

“Tidak cuma orang Karangasem. Orang Bali, bahkan luar juga ada datang ke sini. Intinya, siapa pun boleh datang asal ada niat baik dan tulus. Cukup membawa sarana seperti canang sari atau pajati, malukat di sini dipersilakan,” kata dia.

Prosesi malukat di Pura Tirta Suci Tampak Lawang sama seperti pura pada umumnya. Pamedek dipersilakan melakukan pembersihan diri lebih dulu di pantai atau segara. Kemudian pamedek memohon tirta di tempat panglukatan, dipandu pemangku. Setelah itu, berdoa di Palinggih Ratu Niang. Jika ada yang memohon tirta saja, cukup ambil air di segara dan tirta suci, lalu kemudian diakhiri persembahyangan.

Jro Mangku Nengah Putu mengatakan, piodalan di pura jatuh pada Purnama Karo. Saat itu akan ada banyak pamedek. Termasuk rerahinan seperti Purnama dan Tilem. “Pemangku setiap hari selalu berjaga dan bergantian. Biasanya ramai saat Banyu Pinaruh dan Purnama,” pungkasnya.

(bx/aka/rin/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news