Rabu, 12 Aug 2020
baliexpress
Home > Kolom
icon featured
Kolom
LOLOHIN MALU

Selamat Pilkada, Selamat Rakyat Jiwa Raga

Oleh: Made Adnyana Ole

11 Juli 2020, 08: 45: 26 WIB | editor : I Putu Suyatra

Selamat Pilkada, Selamat Rakyat Jiwa Raga

Made Adnyana Ole (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

SELAMAT, Pilkada serentak tahun 2020 tampaknya tak bakal distop, meski pandemi Covid-19 belum stop-stop juga. Untuk itu, maka mari main tebakan-tebakan. Materi kampanye apa yang paling efektif, yang akan membuat para calon bupati bisa meraup suara terbanyak saat pencoblosan? Sekolah gratis? Ah, kuno. Bagi-bagi sembako? Iiiih, tak punya ide. Saat pandemi bagi-bagi sembako, eh, saat kampanye bagi-bagi sembako juga. Bosan. Lalu apa? “Kami minta selamat, jiwa dan raga!” pekik seorang rakyat, bukan wakil rakyat, tapi suaranya mewakili rakyat.

Yang paling pentging pada saat pandemi sekarang ini, menurut rakyat yang bukan wakil rakyat itu, adalah selamat jiwa dan raga. Janji-janji politik yang sudah difotokopi berkali-kali saban pilkada, seperti perbaikan jalan rusak, perbaikan Pura, pembangunan bandara atau pembuatan jalan short-cut,  sudah tak penting lagi. Untuk apa ada jalan mulus, short-cut lurus atau bandara internasional jika orang masih takut ke mana-mana.

Perbaikan Pura juga tak lagi sesuatu paling penting. Bongkar tembok Pura masih bisa ditunda. Ganti ukiran, ganti atap pelinggih, atau ganti paras kuno dengan batu hitam dari Jawa, juga masih bisa dilaukan kapan-kapan. Toh, jika pandemi tak stop-stop, upacara adat dan agama seperti pujawali besar dan odalan jelih, pun tak  bisa dilaksanakan dengan model yang megah, meriah dan ramai-ramai. Siapa tahu, ya, siapa tahu, perbaikan Pura yang tertunda bisa-bisa mendatangkan kesadaran baru, misalnya, bahwa ternyata  penyengker batu hitam yang dipotong mesin rapi-jali tidak lebih bagus dari batu padas yang dikapak dengan acak dan sembarangan. 

Jadi, program-program untuk menciptaan selamat jiwa-raga bagi rakyat memang akan menjadi materi kampanye paling penting saat Pilkada 2020 ini, sebelum rakyat pemilih benar-benar putus asa. Karena jika rakyat sudah putus asa, maka jangankan diminta gotong-royong menanggulangi pandemi, bahkan mencoblos pun mereka tak akan sudi. Untuk apa memilih pemimpin jika setelah itu rakyat tetap harus menyelamatkan diri dengan cara masing-masing. Dan jika rakyat sibuk menyelamatkan diri masing-masing, maka siapa yang akan peduli dengan hasil-hasil Pilkada?

Maka, dengan begitu, saya menduga-duga, calon bupati bersama tim kampanye partai politik akan menyusun materi kampanye di masa pandemi ini dengan susah sungguh. Mereka tak bakal bisa memfotokopi lagi janji-janji kampanye lima tahun sebelumnya. Apalagi memfotokopi janji-janji yang belum dibayar lunas selama satu peridode masa jabatan, bahkan selama dua periode masa jabatan. Jika mamaksa main fotokopi lagi, meski sudah tahu tak akan didengar lagi, maka itu artinya politikus kita memang kaya bansos, namun miskin gagasan.

Lalu, materi kampanye apa yang harus disusun agar ia punya daya dan harapan untuk menyelamatkan rakyat, menyelamatkan jiwa dan raga  mereka? Apakah program pengobatan gratis masih laku jika dijadikan janji kampanye di masa penademi? Ah, jangan tanya rakyat. Soal pengobatan gratis, banyak teman-teman saya yang berstatus sebagai rakyat biasa, sudah tak paham lagi, apa yang dimaksud dengan pengobatan gratis. Apakah asuransi kesehatan masuk dalam katagori pengobatan gratis? Ah, soal asuransi kesehatan, jangankan tahu cara menggunakannya dengan mudah dan gratis, bahkan seorang kawan saya di sebuah desa hingga kini tak tahu cara membuatnya.

Jadi, soal asuransi kesehatan dengan segala ketidakpahaman rakyat itu bisa dijadikan bahan untuk memikirkan kembali dengan lebih jernih bagaimana cara menyelamatkan jiwa raga rakyat, terutama ketika mereka berhadapan dengan pandemi. Misalnya, boleh-boleh saja rakyat tak paham cara membuat kartu asuransi dan menggunakan asuransi dengan nyaman, tapi mereka harus paham cara mencari uang agar mereka bisa membayar iuran secara rutin, bahkan mungkin bisa meningkatkan level iuran ke tingkat lebih mewah.

Mendaftar dan membuat kartu asuransi bisa dibantu dengan mudah. Namun bantuan paling penting agar rakyat bisa bayar iuran asuransi adalah dengan membuatkan program-program jangka panjang, bukan dengan memberi bansos, sembako, atau memberi amplop berisi satusan menjelang pencoblosan. Skema pemulihan ekonomi di masa pandemi, atau persiapan jika pandemi berhasil dihentikan, tentu juga bisa dijadikan bahan kampanye. Jika skema itu lebih banyak berisi insentif dan bantuan-bantuan jangka pendek, maka kampanye harus dilengkapi dengan skema jangka panjang.

Di Bali, mumpung desa adat dapat pasokan anggaran dari pemerintah, maka hal itu harus disempurnakan dengan juknis dan program yang benar-benar berguna untuk menyelamatkan jiwa-raga rakyat, bukan digunakan untuk mendapatkan simpat politik jangka pendek, apalagi sependek masa jabatan Bupati atau Gubernur.  Dengan agak serius harus diniatkan bahwa Pilkada di masa pandemi adalah Pilkada luar biasa. Ia bisa jadi momentum untuk membuat rakyat bisa selalu selamat, ada pandemi atau tidak.

Saya tutup tulisan yang sungguh klise ini dengan cerita dua orang rakyat. Yang satu rakyat yang bukan wakil rakyat, satu lagi rakyat yang bertugas jadi wakil rakyat. Rakyat yang bukan wakil rakyat itu tak mengerti kenapa ia tetap miskin padahal pengeluarannya sangat sedikit, yakni hanya untuk makan dan bayar asuransi kesehatan. Sedangkan, rakyat yang benar-benar wakil rakyat itu makin kaya meskipun sebulan pengeluarannya sungguh banyak. “Bagaimana caranya menjadi makin kaya, padahal pengeluaran Bapak amat banyak?” tanya rakyat yang bukan wakil rakyat. Sang wakil rakyat menjawab, “Selain untuk makan dan bayar asuransi kesehatan, sebaiknya pengeluaranmu ditambah lagi,” jawab si wakil rakyat.

Si rakyat yang bukan wakil rakyat kaget. “Lho, kok pengeluaran ditambah, bisa jadi makin kaya?” Sang wakil rakyat menjawab santai. “Pengeluaran tambahan itu adalah menabung!” kata wakil rakyat. Si rakyat yang bukan wakil rakyat itu tampak bingung, tapi kemudian dia berkata pelan. “Nanti, ajari saya melakukan pengeluaran tambahan ya, Pak. Jika saya berhasil, saya akan terus-terusan memilih Bapak jadi wakil saya,” katanya. Dan si wakil rakyat pura-pura tak mendengar. (*)   

(bx/art/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news