Kamis, 06 Aug 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali
LOLOHIN MALU

Banyak Desa di Bali Bernama Suksma

Oleh : Made Adnyana Ole

11 Juli 2020, 08: 53: 48 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Banyak Desa di Bali Bernama Suksma

Made Adnyana Ole (dok)

Share this      

Tulisan ini saya mulai dengan sebuah cerita. Suatu kali saya mengantar teman dari Jakarta berwisata ke sejumlah obyek wisata di Bali. Saya ajak teman itu melewati desa-desa, jalan-jalan kecil, dan obyek wisata yang masih asri dan tak begitu terkenal, untuk menunjukkan bahwa Bali bukan hanya Kuta dan Nusa Dua. Setelah capek berkeliling dan tiba di rumah, teman itu bertanya dengan serius. “Kok banyak sekali desa di Bali bernama Suksma?!”

Saya kaget mendengar pertanyaan sekaligus pernyataan itu. Suksma? Setahu saya tak ada desa bernama Suksma di Bali. Darimana dia tahu banyak desa di Bali bernama Suksma? Saya bertanya. Dan ia menjawab: “Setiap lewat di sebuah desa, aku hampir selalu menemukan tugu batas desa dengan tulisan besa-besar: SUKSMA.” Dan, meledaklah tawa saya. Suksma itu bukan nama desa. Suksma artinya terima kasih. Pada tugu-tugu batas desa di Bali, terdapat dua sisi yang berisi tulisan mencolok. Pada satu sisi berisi tulisan nama desa, dan sisi di baliknya berisi ucapan Suksma. Artinya, saat masuk ke desa itu, kita diberitahu nama desa yang kita masuki, lalu ketika hendak meninggalkan desa itu di batas yang lain, kita disuguhi ucapan terima kasih.

“Untuk apa desa itu berterima kasih kepada kita?” tanya sang teman. Dan saya tak bisa menjawabnya. Ya, untuk apa? Saya pun jadi mikir-mikir, bahkan hingga sekarang tak tahu jawaban yang pasti. Apakah karena kita sudah berkenan lewat di desa itu maka kita layak mendapatkan ucapan terima kasih di batas desa? Apalagi, banyak juga kata Suksma itu diikuti dengan kata-kata lain: “Desa Kami Jangan Dilupakan!”. Hahaha. Jangankan mengingat desa yang hanya kita lintasi sekilas saja, bahkan tulisan itu pun tak kita ingat setelah kita baca sambil lewat.

Saya pikir-pikir, mungkin saja tugu-tugu yang dibuat dengan ukiran indah dan kata-kata sopan di batas desa itu punya tujuan sebagai daya tarik wisata,  misalnya sebagai bentuk penyambutan yang indah dan ramah ketika seorang turis masuk desa.  Dan karena hampir semua desa, bahkan banjar-banjar, juga membuat tugu yang serupa, dengan ucapan yang serupa, maka kata-kata sopan di batas desa itu sekaan-akan kehilangan makna, bahkan mungkin kehilangan ketulusannya.  Jika ini dikait-kaitkan dengan dunia pariwisata, mungkin pariwisata pun sudah kehilangan rasa tulus. Cap ramah tamah yang disematkan kepada kita sudah dimodifikasi menjadi semacam barang jualan, sehingga ketulusan untuk melayani tamu akhirnya terlihat sebagai sebuah “pekerjaan”, yakni kerja sebagai pelayan.

Dulu, jauh sebelum mengenal Om Swastiastu sebagai salam perjumpaan, saya sungguh takjub pada salam perjumpaan yang sering saya dengar dari para orang tua di desa. Saat bertemu seseorang di depan rumah, atau seseorang yang bertamu atau sekadar lewat di natah rumah, salam yang keluar dari mulut si tuan rumah adalah, “Ngajeng malu, ngopi malu (makan dulu, ngopi dulu)!”

Saya takjub karena salam “makan dulu” mengandung nada optimis, bahwa di rumah kita seakan-akan selalu tersedia makanan, entah pagi, siang, sore atau malam. Pokoknya, jika ada orang datang ke rumah, mau bertamu, mau lewat begitu saja, atau mau menyampaikan undangan adat atau pengumuman penting dari juru arah desa adat, salam “makan dulu” tak boleh dilewatkan. Jika dilewatkan, kita dianggap tak peduli, tak ramah, atau bahkan tak punya sopan santun. Tak penting apakah di dapur ada nasi atau tidak, ada kopi atau hanya terdapat serbuk arang alias aon di bungut paon.

Salam “makan dulu” atau “ngopi dulu” memang akhirnya terkesan sebagai salam yang remeh-temeh, hanya basa-basi, dan kadang terucap sambil lalu. Tentu berbeda dengan salam Om Swastiastu, atau salam lain, yang terdengar lebih serius dan religius.  Namun, jangan salah, salam “makan dulu”, adalah bentuk dari keramahtamahan tradisional bahwa orang harus selalu ingat makan, semiskin apa pun kondisi ekonomi rumah tangga. Jika di dapur sendiri tak ada makanan, kita bisa lewat ke dapur tetangga, ke dapur misan, ke dapur mindon, atau ke dapur sahabat sedulur.

Meski salam “makan dulu” kadang terdengar sebagai basa-basi, jika kita memang dengan sukacita ingin minta makan, maka dapur siapa pun bisa kita anggap sebagai dapur sendiri. Bahkan, kadang-kadang, kita bisa masak sendiri di dapur tetangga. Maka, ungkapan yang kini seakan tanpa arti, yakni “Anggap seperti dapur sendiri, atau seperti rumah sendiri,” dulu sejatinya memang benar-benar ada dalam kenyataan.  Di sini, rumah punya fungsi sosial, dan sang pemilik seakan hanya punya tugas untuk merawat agar orang lain yang singgah merasa nyaman, sekali lagi, seperti rumah mereka sendiri, bahkan untuk urusan makan. Salam saat itu terdengar seperti bagian dari hubungan panjang antarwarga, bukan hari ini saja, bukan besok saja, tapi selama kita hidup.

Tapi, salam, apa pun bentuknya, sehalus apa pun unggah-ungguh bahasanya, sereligius apa pun nada kalimatnya, belakangan memang terkadang seperti basa-basi. Ucapan terima kasih, yang kini sudah dianggap sebagai standar sopan-santun, misalnya, bahkan bisa diucapkan dengan spontan ketika suatu kali kita mendapatkan pertolongan dari seseorang, seakan-akan setelah itu kita tak punya kewajiban apa pun sebagai manusia yang habis ditolong. Terima kasih seakan-akan sudah cukup, seakan-akan kita tak punya hubungan apa-apa lagi dengan orang yang membantu kita.

Soal “ngopi dulu”, saya pernah punya pengalaman menggelikan. Suatu kali, keluarga saya menyelenggarakan upacara potong gigi. Saya diutus sebagai juru undang yang bertugas untuk mengundang saudara secara lisan, baik yang tinggal di desa sendiri, maupun yang tinggal di desa yang jauh. Saya berpakaian adat madya, masuk ke rumah-rumah. Dan di setiap rumah yang saya datangi, saya selalu disuguhi kopi. Saya tak boleh menolak, karena konon, sesuai adat dan kebiasaan, tuan rumah yang diundang memang wajib menyediakan kopi, dan si juru undang tak boleh menolaknya. Maka, saya pun sakit perut dan panas dalam sehabis berkeliling menyampaikan undangan. Bahkan, pada puncak upacara potong gigi, saya tak bisa membantu apa pun karena harus meringkuk di kamar akibat tak bisa bangun.

Saya sempat marah oleh tradisi “ngopi dulu” yang berlebihan itu. Tapi seorang sepupu justru menyalahkan saya. Kata dia, saya yang bodoh. Harusnya kopi yang disuguhkan itu diminum sedikit-sedikit saja. Tapi saya selalu minum kopi itu sampai tandas di setiap rumah, sehingga setidaknya saya meminum sekitar 30 gelas kopi dalam sehari. Dari situlah saya mengerti, bahwa keramahtamahan juga harus dihadapi dengan akal dan logika.  (*)

(bx/rin/rin/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news