Rabu, 12 Aug 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Teknik Meramal Bayu Ghana Relevan Hingga Kini

27 Juli 2020, 22: 40: 08 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Teknik Meramal Bayu Ghana Relevan Hingga Kini

Jro Made Bayu Gendeng (Kusuma Yoni/Bali Express)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS -Ramalan merupakan satu usaha yang dilakukan manusia untuk memeroleh satu pengetahuan tentang kondisi yang dialaminya, dengan melakukan beberapa teknik atau ritual. Bahkan di banyak peradaban dunia, ramalan menjadi sebuah ritual khusus, yang diyakini sebagai solusi terhadap banyak permasalahan yang sedang melanda. Lantas, bagaimana dengan ramalan dalam budaya Bali?

Jro Made Bayu Gendeng, salah seorang paranormal kondang di Bali, mengatakan, bagi masyarakat Pulau Dewata, ramalan masih menjadi sebuah keyakinan tentang konsepsi waktu, ruang, dan peristiwa, berdasarkan tatanan nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan kealaman, untuk membangun sebuah kehidupan yang harmonis.

“Salah satu teknik meramal yang sampai saat ini masih relevan adalah ramalan Bayu Ghana yang sudah ada sejak dahulu. Ramalan ini juga merupakan salah satu metode kuno,” jelasnya kepada Bali Express 9Jawa Pos Group), pekan kemarin.

Ramalan Bayu Ghana ini, lanjut Jro Bayu Gendeng, adalah bagian dari teknik meramal yang ada dalam khasanah budaya nusantara, khususnya dalam kehidupan masyarakat Bali. Ramalan Bayu Gana  mencakup hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Mulai dari watak, hingga peruntungan seseorang dalam jangka waktu tertentu.

Untuk membaca watak seseorang ini, dalam ramalan Bayu Ghana ada bagian yang menyebutkan, yakni Pewateka. Pewateka ini didasarkan atas perhitungan waktu kelahiran seseorang, serta dampak baik buruknya bagi kehidupan seseorang. Termasuk memprediksi mengenai peruntungan, karier, perjodohan, dan kondisi ekonomi seseorang.

Perhitungan waktu kelahiran didasarkan pada kombinasi Saptawara (satuan hari yang terdiri atas tujuh hari), Pancawara (satuan hari yang terdiri atas lima hari), dan wuku (pekan yang terdiri atas tiga puluh buah). “Khusus untuk ramalan ini, seseorang tidak bisa mengubah takdirnya. Karena takdir berkaitan dengan karma. Sedangkan nasib bisa diperbaiki,” terangnya.

Teknik ramalan Bayu Ghana ini juga bisa digunakan untuk memprediksi kondisi alam. Ini seperti yang tertuang dalam teknik ramalan Palelindon, yakni ramalan yang memprediksi tentang gempa bumi yang terjadi berdasarkan waktu kejadiannya. “Seperti contohnya, gempa bumi yang terjadi pada sasih (bulan) keenam misalnya. Bisa diramalkan atau diprediksi sebagai pertanda bahwa di bumi akan ada wabah penyakit yang mematikan,” urainya.

Dikatakannya, dalam kepercayaan masyarakat Hindu Bali, ritual meramal sangat erat kaitannya dengan mitologi Siwagama, yang mengisahkan tentang pengetahuan Dewa Ghana, yang mengetahui sejarah perjalanan ibunya, Dewi Uma di dunia fana.

Dalam Lontar Andabhuana, lanjutnya, diceritakan Dewa Siwa berpura-pura sakit untuk menguji kesetiaan Dewi Uma, maka diutuslah Dewi Uma untuk turun ke dunia mencari obat untuk Dewa Siwa. Dalam perjalanannya ke dunia fana ini, terjadi sesuatu kisah yang tidak bisa dijabarkan, akhirnya Dewi Uma ditugaskan menjadi penguasa Setra Gandamayu dan bergelar Dewi Durga.

Sejarah perjalanan Dewi Uma inilah yang berhasil ditenung Dewa Ghana, dan ketika apa yang ditenung ini terjadi dan benar, maka Dewi Uma yang sudah berwujud Dewi Durga menjadi marah. “Karena kemarahan Dewi Durga, maka kitab ramalan milik Dewa Ghana dibakar oleh Dewi Durga. Hal ini yang membuat beberapa pengetahuan dari ramalan itu menjadi musnah,” papar alumni ajang The Master Indonesia ini.

Karena mitologi ini, maka dalam kepercayaan masyarakat Bali, Dewa Ghana diyakini sebagai dewanya para peramal atau Balian Tenung di Bali.

Lantas bagaimana eksistensi dari ramalan pada pola kehidupan masyarakat Bali saat ini? Jro Bayu Gendeng mengakui, sampai saat ini masyarakat masih mempercayai adanya ramalan tersebut. “Tidak saja masyarakat tradisional, ramalan saat ini dipercaya hampir seluruh kalangan masyarakat yang ada di Bali maupun di Indonesia,” ungkapnya.

Sementara itu, dalam perspektif budaya Bali, Jro Bayu Gendeng mengakui, ramalan merupakan sistem pengetahuan tradisional yang berupaya mengungkap makna dibalik misteri tersembunyi dalam sebuah peristiwa yang terjadi pada alam. Tujuannya meraih kesempatan menuju kehidupan yang lebih baik, dengan cara membaca kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, dan mencari solusi. Termasuk menjadi cara penanganan yang digunakan mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Lantas, kapan waktu yang tepat bagi seseorang melakukan ritual ramalan? Secara umum, Jro Bayu Gendeng mengatakan, tidak ada syarat khusus bagi seseorang untuk melakukan ritual ramalan. Namun, jika ingin diramal, bagi seorang perempuan tidak dalam kondisi datang bulan. Selain itu, menurut Jro Bayu Gendeng, para peramal pun biasanya tidak mau melakukan aktivitas meramal pada hari Kajeng Kliwon yang bertepatan dengan tilem dan sehari setelah tilem.

(bx/gek/rin/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news