Rabu, 12 Aug 2020
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

Sepi Pesanan, Perajin Endek Sidemen Kurangi Produksi

28 Juli 2020, 21: 26: 47 WIB | editor : Nyoman Suarna

Sepi Pesanan, Perajin Endek Sidemen Kurangi Produksi

TRADISIONAL: Salah seorang perajin endek di Kecamatan Sidemen, Karangasem sebelum masa pandemi Covid-19. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

KARANGASEM, BALI EXPRESS – Hampir semua perajin kain tenun endek di Kecamatan Sidemen, Karangasem, mengurangi produksinya. Ini akibat sepinya pesanan gara-gara pandemi Covid-19. Para perajin memilih bekerja hanya untuk menyelesaikan pesanan yang sudah masuk sebelum pandemi.

Imbasnya, pemilik usaha memangkas jam kerja karyawan dari 9 jam menjadi 4 jam saja. “Kami tidak mau merumahkan tenaga (kerja). Ada 45 orang yang harus tetap kerja. Cuma jam kerja saja yang dikurangi,” ucap Dewa Ayu Kartika Dewi, pemilik usaha tenun di Sidemen, Selasa (28/7).

Dewa Ayu mengakui, selama ini lebih banyak bermain di pasar internasional melalui media sosial. Tapi order sepi setelah wisatawan mancanegara (wisman) tidak bisa ke Bali selama beberapa bulan terakhir. Untuk pesanan lokal memang masih ada, namun jumlahnya sedikit.

Baru-baru ini pesanan kain endek hanya tiga lembar. Perajin yang memulai usahanya sejak 1979 ini memilih menunggu penerbangan internasional normal kembali. Sebab ketika kunjungan wisman membeludak, barulah pihaknya dapat memproduksi endek lebih banyak. “Supaya stok tidak menumpuk,” kata dia.

Dijelaskan, pesanan endek sebelumnya memang sempat meningkat tajam, terutama sejak Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 79 Tahun 2018 berjalan. Beberapa instansi pemerintahan, swasta, dan lembaga pendidikan wajib mengenakan busana adat Bali setiap hari Kamis. Beberapa instansi pun berinisiatif membuat seragam dan menjadikan kain endek sebagai pilihan.

Pemilik usaha tenun Pelangi di Desa Sidemen itu pun selama ini mengerjakan pesanan dengan alat tradisional atau alat tenun bukan mesin (ATBM). Satu lembar kain bisa dihargai Rp 400 ribu lebih. Harga ini berlaku bagi yang memesan motif khusus. Misalnya logo instansi, perusahaan, dan lainnya.

Jika membeli kain bermotif biasa, atau memesan motif yang sudah ada, harganya mencapai Rp 250-300 ribu. Biasanya dipesan hingga 50 lembar. Adanya persaingan harga antara kain endek asli dengan kain berbahan sablonan juga jadi tantangan.

Dengan harga kain sablonan yang jauh lebih murah. Menyebabkan pelanggan banyak beralih ke produk lebih murah. “Kami juga senang konsumen tahu mana kualitas bagus yang tahan lama. Apalagi untuk dibuat seragam,” pungkasnya.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news