Rabu, 12 Aug 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
Ada Celah Misterius, Tempat Mohon Kesidhian

Pura Goa Raja, Tiga Naga Penjaga Unsur Inti Bumi

29 Juli 2020, 08: 26: 16 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Pura Goa Raja, Tiga Naga Penjaga Unsur Inti Bumi

TEMBUS: Gusti Mangku Varuna menunjukkan celah di Goa Raja yang disebut tembus hingga ke Goa Lawah di Kabupaten Klungkung. (Agus Eka Purna Negara/Bali Express)

Share this      

BESAKIH, BALI EXPRESS - Goa Raja yang dikenal dengan nama Pura Goa Naga Raja di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, konon menjadi tempat bertemunya Mpu Bekung atau Dang Hyang Sidhi Mantra dengan Sanghyang Naga Raja atau Naga Basuki.

Di Goa Raja juga dikisahkan telah terjadi pemotongan ekor Naga Basuki yang dilakukan putra Mpu Bekung, yakni Dang Hyang Bang Manik Angkeran, sehingga membuatnya dilebur. Seperti dituturkan pangempon yang juga Pemangku Pura Goa Raja, Gusti Mangku Varuna Kubayan Manik Mantra, belum lama ini, di tempat ini juga dipercaya masyarakat sebagai tempat pelebur mala, dan bagi pasangan suami-istri memohon manik atau keturunan.

Gusti Mangku Varuna menjelaskan, Goa Raja sudah ada sejak lama, bahkan tidak dapat diperkirakan sejak kapan goa itu terbentuk. Dia mengakui belum ada sumber-sumber atau catatan sejarah yang menceritakan persis soal tersebut. Hanya orang pada masa lampau membenarkan lokasi goa sangat angker, pingit, dan tak satupun yang berani turun ke area sekitar.

Pura Goa Raja, Tiga Naga Penjaga Unsur Inti Bumi

TIGA PRALINGGA: Area utama Pura Goa Raja yang terdapat tiga pralingga Sang Hyang Naga Tiga. (Agus Eka Purna Negara/Bali Express)

Menariknya, Goa Raja dipercaya masyarakat terhubung hingga Goa Lawah di Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Klungkung. Kisah-kisah tentang terhubungnya dua goa itu bahkan sudah menyebar dan menjadi folklore secara turun-temurun.

Dijelaskannya, konon saat ada sabung ayam di Goa Lawah, salah seekor ayam aduan milik seseorang dari Besakih lari ke goa dan dikejar pemiliknya. Lama tak ditemukan, si pemilik percaya ayam itu akan kembali. Ternyata benar, ayam itu ditemukan di Besakih melalui celah di Goa Raja.

 “Memang catatan yang menjelaskan itu belum ditemukan. Tapi ceritanya sudah turun-temurun dari tiap generasi. Tidak di Besakih saja, tapi juga di sekitar Goa Lawah,” tegas Gusti Mangku Varuna.

Tidak hanya ke Klungkung, Goa Raja juga diyakini terhubung sampai kepundan Gunung Agung. Hal itu pernah dibuktikan Gusti Mangku Varuna saat erupsi 2017 lalu. Saat itu, salah satu celah di sebelah kiri mulut goa mengeluarkan asap. Meski saat itu asap belerang tidak terlalu besar.

Selain itu, para orang tua pada tahun 1963 juga menuturkan dan pernah membuktikannya. Kata Gusti Mangku Varuna, aroma belerang begitu kentara keluar dari salah satu celah. Tak lama kemudian, Gunung Agung erupsi. “Saya juga tidak mengerti kenapa goa ini bisa terhubung ke dua titik itu,” jelasnya.

Pada 1979, setelah upacara besar Karya Eka Dasa Ludra di Besakih, para panglingsir berkeinginan menata lokasi goa dan sekitarnya, tapi tetap tidak dapat terlaksana. Saat itu akses menuju goa sangat sulit. Penuh pohon besar, semak, dan curam. Orang harus menyelam dulu untuk dapat masuk ke mulut goa, karena adanya genangan air. “Secara niskala dan sekala memang saat itu belum direstui,” ungkap pemangku berusia 52 tahun itu.

Barulah pada 1986 penataan dapat dilakukan hingga bisa dijamah seperti saat ini. Secara eksplisit, tidak ada yang berbeda di Goa Raja dari pada lainnya di Bali. Ada tiga pralingga arca berbentuk Naga di tengah-tengah bagian dalam goa.

Arca tersebut sebagai perwujudan Sang Hyang Naga Tiga. Sebab, selain menjadi stana Sang Naga Basuki, goa tersebut konon menjadi pasamuhan atau tempat bertemunya tiga naga penjaga kestabilan alam semesta. Yakni perwujudan Sang Hyang Naga Ananta Bogha, Sang Hyang Naga Basuki, dan Sang Hyang Naga Taksaka.

Ketiganya memiliki fungsi menjaga tiga unsur, seperti inti bumi, air, dan udara. Selain menjadi tempat pemujaan Ida Bhatara Naga Basuki, bagian utama dari area suci tersebut dipercaya jadi tempat memohon ke-sidhian, memohon obat untuk melebur mala bahaya, dan memohon keturunan.

Gusti Mangku Varuna menjabarkan, pamedek dapat membawa sarana berupa susu murni perahan, madu, dan telur ayam. Ketiga sarana itu nanti akan dihaturkan ke hadapan Ida Bhatara Naga Basuki untuk mendapat anugerah. Setelah rangkaian pendukung dan persembahyangan dilakukan, sarana yang tadi dihaturkan bisa diminum kepada mereka yang memohon. Misalnya pasangan yang memohon keturunan maupun pamedek yang memohon untuk sembuh dari penyakitnya.

“Yang percaya sudah banyak. Ada tamu dari Korea dan Tiongkok pernah datang ke Goa Raja. Mereka bahkan percaya di negaranya juga ada naga suci. Mereka sebut Naga Emas. Mereka mengakui kepercayaan mereka sama. Makanya pernah mereka lakukan pemujaan, menyerahkan sarana berupa susu murni juga,” tutur Gusti Mangku Varuna.

Mengenai asal-usul nama, disebut Goa Raja atau Pura Goa Raja karena lokasi itu dijaga dan dijadikan stana Naga Basuki. “Sebenarnya nama pura ini Goa Naga Raja, tapi masyarakat hanya berani menyebut Goa Raja atau Pura Goa Raja sampai sekarang. Untuk upacara berlangsung tiap Buda Wage Klawu, Purnama Kasa, dan Karya Ida Bhatara Turun Kabeh,” jelasnya.

Selain tempat distanakannya pralingga tiga naga, di depan area goa juga ada Payogan Agung, tempat Mpu Bekung atau Dang Hyang Sidhi Mantra melakukan tapa yoga saat akan menyambung kembali ekor naga yang diputus putranya Manik Angkeran. “Ada dua tempat yang dipercaya lokasi ayogan Mpu Bekung. Satu di area ini saat menghadap Naga Basuki di Besakih, satu lagi di Segara Rupek, Buleleng, saat beryoga memutus Pulau Dawa yang sekarang disebut Jawa dan Bali,” pungkas Gusti Mangku Varuna.

(bx/aka/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news