Rabu, 12 Aug 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Tanda Alam Muncul di Goa Raja Kerap Isyaratkan Bencana

30 Juli 2020, 10: 58: 36 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Tanda Alam Muncul di Goa Raja Kerap Isyaratkan Bencana

SIDHI : Palinggih Dang Hyang Sidhi Mantra  yang berada di kawasan Pura Goa Raja di Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem. (Agus Eka Purna Negara/Bali Express)

Share this      

BESAKIH, BALI EXPRESS-Sudah banyak peristiwa atau tanda alam yang terjadi di Goa Raja, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem. Sebagaimana yang dialami pangempon yang juga pemangku Goa Raja, Gusti Mangku Varuna Kubayan Manik Mantra, belum lama ini.

Gusti Mangku Varuna menuturkan, selain munculnya asap di celah goa yang menjadi tanda akan adanya gejolak di Gunung Agung. Tanda-tanda lain juga kerap terjadi di Goa Raja. Seperti tanda adanya genangan air, banjir, maupun longsor kecil di sekitar area suci goa. Dirinya percaya tanda itu menunjukkan bakal ada peristiwa besar di Nusantara.

Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Gusti Mangku Varuna mengakui, akhir tahun 2004 pernah ada air bah memutar di depan goa yang lama surut. Air itu menggenang beberapa jam di area suci tempat orang melakukan persembahyangan. Padahal, air sudah mulai surut di lokasi lain, beberapa meter dari bibir goa. Ternyata, kejadian itu seakan menjadi tanda, karena di tahun yang sama juga terjadi tsunami besar yang melanda Aceh, dan beberapa negara Asia lainnya.

Tanda Alam Muncul di Goa Raja Kerap Isyaratkan Bencana

Gusti Mangku Varuna Kubayan Manik Mantra (Agus Eka Purna Negara/Bali Express)

“Dahulu di atas goa pernah longsor tidak terlalu besar. Kami sudah bersihkan materialnya. Saya lupa tahunnya. Tapi saya ingat, saat itu longsor. Beberapa hari kemudian ternyata juga ada longsor di Papua. Saya masih ingat itu, sampai-sampai saya kaitkan dengan semua kejadian yang pernah terjadi di Goa Raja,” cerita Gusti Mangku Varuna kepada Bali Express (Jawa Pos Group) pekan kemarin.

Pemangku berusia 52 tahun itu juga masih ingat, ketika air kembali menggenang di area suci goa dan berlangsung beberapa jam. Dan, saat itu, dia kembali teringat dengan beberapa peristiwa yang pernah terjadi. “Saya pikir pasti akan ada peristiwa, ternyata benar. Saya ingat waktu itu terjadi longsor di Songan (Bangli). Saya kaitkan memang betul apa yang terjadi di sini jadi sebuah firasat,” imbuhnya.

Tidak hanya kejadian yang seperti menjadi firasat akan adanya bencana di Nusantara. Energi positif juga selalu menyertai pamedek yang akan tangkil ke Goa Raja. Disebutkan, beberapa titik sinar yang dianggap sinar suci juga kerap muncul di sepanjang jalan masuk. Kata pemangku, sinar suci tersebut merupakan perwujudan adanya penjaga tak kasat mata. Bahkan, siapa saja yang hendak masuk ke goa dengan tujuan buruk, maka akan terus dirundung kesulitan.

Seperti misalnya datang memohon kekuatan untuk menyakiti seseorang, memohon untuk dilancarkan berjudi, togel, dan hal lain. “Saya pastikan tidak bisa. Apalagi yang madaya corah, pasti lebur, bisa musnah,” kata dia.

Hal unik lain yang dirasakan Mangku Varuna, yakni Goa Raja dipercaya dapat meredam getaran. Misalnya gempa bumi. Dirinya pernah mengalami, suatu ketika ada gempa yang berkekuatan cukup besar terasa hingga Desa Besakih. Saat pemangku ngayah, getaran keras terdengar di rumah-rumah penduduk dekat pura. Bahkan, atap yang berbahan seng sampai terdengar keras.

Anehnya, getaran yang disebut cukup keras itu, tidak begitu terasa ketika berdiri di area Goa Raja. Mangku Varuna tidak dapat menjelaskan sebab dari fenomena itu secara ilmiah. Tapi dia percaya, bebatuan yang membentuk goa tersebut dapat meredam getaran. “Sudah ada beberapa retakan, tapi saya yakin tidak akan runtuh. Ada beberapa peneliti yang ngaku mau bangun pelindung supaya goa tidak runtuh. Tapi saya meminta jangan,” ucapnya mengingatkan.

Pamedek selain dapat menjumpai tiga pralingga linggih Ida Bhatara Sang Hyang Naga Tiga, beserta dua lubang yang dipercaya terhubung dengan Goa Lawah dan kepundan Gunung Agung,  di area Pura Goa Raja  juga ada pohon besar di atas goa. Pohon itu diperkirakan berusia berabad-abad, dan diyakini tak akan tumbang meski akarnya melingkari bebatuan.

Pemangku percaya pohon itu adalah simbol mahkota Sanghyang Naga Raja atau Naga Basuki. Bahkan, bentuk bibir goa juga menyerupai mulut naga sesungguhnya. Kata Gusti Mangku Varuna, ada batu yang menggelantung di sebelah kiri dan kanan. Mirip seperti taring naga.

“Selain sebagai tempat pasamuhan Sang Hyang Naga Tiga, di sini juga sebagai Istana Naga Basuki. Ketiga naga, baik Sang Hyang Naga Ananta Bogha, Sang Hyang Naga Basuki, dan Sang Hyang Naga Taksaka. Beliau bertugas menjaga tiga unsur, seperti inti bumi, air, dan udara,” jelas Gusti Mangku Varuna.

Dari cerita yang berkembang, goa ini adalah lokasi pertemuan antara Mpu Bekung atau Dang Hyang Sidhi Mantra dengan Sanghyang Naga Raja atau Naga Basuki, sebelum zaman kerajaan. Saking tingginya ilmu yang dimiliki Dang Hyang Sidhi Mantra, mampu berkomunikasi dengan Naga Basuki sehingga hubungan keduanya sangat dekat.

Di goa tersebut pula, Dang Hyang Sidhi Mantra melakukan tapa yoga saat upaya menyambung kembali ekor naga yang diputus anaknya, Manik Angkeran. Lokasi yang diyakini sebagai tempat beryoga Dang Hyang Sidhi Mantra kini telah dibangun Payogan Agung, tepatnya di depan goa, di atas bebatuan.

Menurut cerita, tempat itu biasanya dipakai untuk menghadap Ida Bhatara Naga Basuki. Kata Gusti Mangku Varuna, Payogan Agung ada dua di Bali. Satu di Goa Raja Besakih, satu lagi di Segara Rupek saat diputusnya daratan Jawa-Bali. Berkaitan dengan itu, di sebelah Palinggih Payogan terdapat lubang kecil yang diyakini tembus sampai hutan Bali Barat di Segara Rupek.

Di sana kerap terlihat rerancangan berwujud macan putih yang sesekali melintas secara niskala. Maka pangempon pura membangun sebuah palinggih serta patung berwujud macan putih sebagai simbolnya. Di sebelah palinggih juga terdapat bebaturan yang diselimuti kain poleng.

(bx/aka/rin/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news