Rabu, 12 Aug 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Pembuang Orok Ngaku Bersetubuh dengan Sejumlah Pria

Hasil DNA Keluar, Ayah Biologis Masih Dilacak

31 Juli 2020, 14: 09: 50 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Pembuang Orok Ngaku Bersetubuh dengan Sejumlah Pria

LABFOR : Kasubbid Kimia dan Biologi Bid Labfor Polda Bali, AKBP Ngurah Wijaya Putra (tengah), didampingi Kasat Reskrim Polres Buleleng, AKP Vicky Tri Haryanto (kanan), saat ditemui di Mapolres Buleleng, Kamis (30/7). (I Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Masih ingat dengan kasus penemuan orok yang dimakan biawak di Banjar Dinas Kembang Sari, Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak pada awal Juni lalu? Kini Satreskrim Polres Buleleng telah menerima hasil test DNA dari darah daging tersangka KFS 17 tersebut. Polisi juga akan mencari ayah biologis dari bayi tersebut.

Kasat Reskrim Polres Buleleng, AKP Vicky Tri Haryanto, Jumat (31/7), menjelaskan, berdasarkan pengakuan tersangka KFS, ada beberapa lelaki yang sempat berhubungan badan dengan dirinya. Pihaknya pun berencana akan melakukan penelusuran melalui hasil tes DNA serta mencocokkan dengan DNA dari orok tersebut.

"Nanti ada beberapa orang yang kami curigai sempat melakukan hubungan badan dengan tersangka, untuk diambil sampel DNAnya. Sehingga kami bisa mengetahui siapa ayah biologis dari bayi tersebut. Yang jelas lebih dari satu orang," jelas AKP Vicky.

Sementara itu, Kasubbid Kimia dan Biologi Bid Labfor Polda Bali, AKBP Ngurah Wijaya Putra, saat ditemui di Mapolres Buleleng, menjelaskan, DNA merupakan struktur senyawa kimia yang ada di seluruh tubuh makhluk hidup, dan memiliki sifat diwariskan. Pembuktian siapa ibu dan ayah biologis dari orok tersebut, hanya dapat dilakukan dangan cara pemeriksaan DNA.

AKBP Ngurah Wijaya mengaku sudah all out mendukung pengungkapan kasus ini. “Dari permintaan penyidik, kami melakukan pemeriksaan terhadap orok yang sudah berbentuk tulang. Kami tentukam profil DNA nya, dan hasilnya benar bahwa ibu biologis dari orok tersebut adalah tersangka KFS," jelasnya.

Untuk mengungkap siapa ayah biologis dari orok tersebut, lanjut  AKBP Ngurah Wijaya, juga dapat dilakukan dengan tes DNA. Bid Labfor Polda Bali, lanjutnya, saat ini sifatnya masih menunggu pihak Satreskrim Polda Bali untuk menentukan siapa-siapa saja yang akan dilakukan tes DNA, untuk mencari ayah biologis dari orok tersebut. "Kami mendukung permintaan penyidik, bila saja ingin melakukan tes DNA terhadap ayah biologisnya," jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, seorang warga Banjar Dinas Kembang Sari, Desa Pemuteran, bernama Kadek Suwitra dibuat kaget karena melihat seekor biawak sedang menarik mayat bayi laki-laki, Minggu (7/6) sekitar pukul 14.00 wita di jalan setapak desa tersebut. 

Spontan, saksi Suwitra langsung mengusir biawak dari tumpukan sampah tempat mayat bayi tersebut berada. Saat menyaksikan peristiwa mengerikan itu, Suwitra pun bingung dan memilih menunggu temannya yang datang dari melaut bernama Made Musti dan Putu Darmada.

Setelah polisi melakukan penyelidikan, akhirnya sang ibu bayi berinisial KFS ditetapkan sebagai tersangka. Satu persatu fakta kasus pembuangan orok di Banjar Dinas Kembang Sari, Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak  pada 3 Juni 2020 lalu terkuak. Rupanya, motif tersangka KFS, 17, menghabisi darah dagingnya lantaran takut aibnya hamil di luar nikah terbongkar.

Remaja yang baru saja lulus dari salah satu SMK di Kecamatan Gerokgak itu, merasakan sakit perut dan air ketubannya pecah pada 3 Juni sekira pukul 23.00 Wita. Begitu tanda-tanda melahirkan terlihat, KFS langsung membuka celananya. Ia kemudian mengejan sebanyak tiga kali, hingga bayi berjenis kelamin laki-lakinya itu berhasil dilahirkan di kamarnya.

Seusai melahirkan, tersangka KFS langsung membungkus bayinya menggunakan selimut berwarna ungu, dan membawanya ke kamar mandi. Ia merasa takut jika kelahiran bayinya itu berhasil diketahui oleh keluarga, sebab KFS hamil diluar nikah.

Di dalam kamar mandi, KFS sempat memotong tali pusar yang masih menempel pada perut bayi  menggunakan gunting yang sempat ia ambil di atas rak televisi. Setelah tali pusarnya dipotong, tersangka kemudian takut kalau bayinya ini menangis.

Tersangka langsung membekap mulut dan hidung bayi tersebut sekitar dua menit hingga bayi tersebut tewas. Setelah itu, tersangka membersihkan tubuhnya, lalu mengambil kardus dan meletakan jenazah bayinya beserta ari-ari, serta selimut yang digunakan saat melahirkan ke dalam kardus.

Setelah jenazah bayi diletakan di dalam kardus, KFS kemudian membuang darah dagingnya itu  menggunakan sepeda motor di sebuah jalan setapak di Banjar Dinas Kembang Sari. Jarak rumah tersangka dengan lokasi dibuangnya  bayi itu sekitar 2.5 kilometer.

Empat hari kemudian, tepatnya, Minggu (7/6) sore jasad bayi malang itu ditemukan secara tak sengaja oleh seorang warga bernama Suwitra. Mirisnya lagi, kondisi jasad tidak utuh lantaran dimakan biawak. Temuannya ini pun langsung dilaporkan ke Mapolsek Gerokgak. Tak butuh waktu lama, polisi akhirnya berhasil menangkap pelaku KFS, Minggu (14/6).

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news