Rabu, 12 Aug 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Hujat Sulinggih Soal Hare Krishna, PHDI Bali Ingatkan Umat

31 Juli 2020, 18: 02: 11 WIB | editor : Nyoman Suarna

Hujat Sulinggih Soal Hare Krishna, PHDI Bali Ingatkan Umat

Ketua PHDI Bali, Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS - Pro dan kontra keberadaan Hare Krishna (HK), khususnya di Bali masih bergulir. Berbagai pendapat mengalir dalam berbagai diskusi langsung maupun di media sosial. Namun demikian, ada sejumlah ujaran di media sosial yang dianggap tidak pantas karena menggunakan kata-kata kasar. Bahkan kata-kata tersebut menyasar tokoh Hindu. Salah satunya mendiang Ida Pedanda Gede Ketut Sebali Tianyar Arimbawa.
Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali tak melarang umat menyampaikan pendapatnya. Hal ini membuktikan kepedulian umat terhadap permasalahan menyangkut agama Hindu. Namun, PHDI mengajak seluruh umat Hindu di Bali agar tak melupakan etika, sebagai salah satu ciri khas penganut Hindu. "Jika ada hujatan kepada Ida Pedanda Sebali, tyang (saya) kira kurang relevan dengan tujuan untuk menyelesaikan permasalahan terkait HK. Karena Beliau adalah seorang sulinggih dan (dulu) Dharma Adhyaksa (PHDI Pusat)," ungkap Ketua PHDI Bali, Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si saat dikonfirmasi, Jumat (31/7).
Lebih lanjut Prof. Ngurah Sudiana mengatakan, selaku sulinggih, mendiang Ida Pedanda Sebali dikenal sebagai pribadi yang senantiasa mengupayakan hadir di tengah masyarakat dalam berbagai kegiatan keagamaan, terutama jika diminta menjadi pendharma wacana, sesuai kapasitasnya selaku sulinggih. "Siapapun yang mengundang Beliau untuk dharma wacana, selaku Dharma Adhyaksa, beliau senantiasa meluangkan waktu untuk hadir jika ada kesempatan," jelasnya.
Rektor Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa ini pun mengajak umat agar mengingat jati diri sebagai penganut Hindu. Terlebih masyarakat Bali yang dikenal dengan etika dalam bersikap dan bertutur kata. "Kita jangan sampai mengeluarkan kata-kata kasar kepada sulinggih. Karena mengeluarkan kata-kata kasar itu kan dilarang oleh ajaran agama. Kita sebagai umat Hindu yang baik, jangan sampai ada kata-kata seperti itu, karena itu bukan ciri khas kita sebagai umat Hindu. Demikian juga penganut agama lain," ajaknya.
Prof. Ngurah Sudiana menerangkan, menghujat sulinggih bisa berdampak buruk. Hal itu dimuat dalam berbagai sastra Hindu. "Jika dibaca di lontar-lontar, menghujat sulinggih sangat berat hukumannya secara niskala. Memang mungkin tidak hari ini dampaknya. Karena kita percaya dengan hukum karmaphala. Apalagi Beliau (Ida Pedanda) sudah meninggal," terangnya.
Terlepas kekurangan mendiang sebagai manusia, Prof. Sudiana menuturkan, Ida Pedanda sangat berjasa sebagai tokoh umat. Ida Pedanda yang telah mengikuti proses dwijati 3 April 1985 itu senantiasa berupaya hadir untuk umat, baik di kegiatan keagamaan, adat, bahkan kegiatan tingkat nasional maupun internasional. Bahkan mendiang juga turut diundang dalam doa bersama mengenang tragedi WTC di Amerika Serikat. "Beliau sempat diundang memimpin doa setelah peristiwa WTC. Selaku perwakilan Hindu, beliau yang memimpin doa. Dari seluruh dunia berdoa, murwa daksina di sana," kenangnya.
Prof. Sudiana kembali menegaskan agar umat Hindu tak mengungkapkan kata kasar pada siapapun. Apalagi kepada sulinggih, selaku pemuka umat yang sudah semestinya dihormati. "Jadi tyang harapkan agar umat tidak mengeluarkan kata-kata kasar pada siapapun, apalagi kepada sulinggih," tegasnya.
Adapun Ida Pedanda Gede Ketut Sebali Tianyar Arimbawa lebar (wafat) pada 27 Februari 2017 silam. Atas permintaan beliau sebelum lebar, upacara pitra yadnya terhadap dirinya agar dilaksanakan melalui jalan kremasi. Layon Ida Pedanda kemudian dikremasi di kawasan Mumbul, Kuta Selatan, Badung. 

Almarhum semasa hidup sempat menduduki posisi Dharma Adhyaksa PHDI Pusat selama tiga periode, yakni 2001-2006, 2006-2011, dan 2011-2016.  Beliau juga pernah menjadi presiden World Hindu Parisad (WHP), yang sepeninggalnya dilanjutkan oleh anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Bali yang juga mantan Gubernur Bali, Made Mangku Pastika.
Terkait perkembangan penanganan soal pro-kontra HK, hingga saat ini PHDI Bali telah mengirim surat ke berbagai lembaga berdasarkan masukan umat. Pun melalui Tim Komunikasi, Mediasi dan Advokasi Sampradaya dan Organisasi Bernafaskan Hindu yang diketuai Sekretaris PHDI Bali, Putu Wirata Dwikora sudah menyerahkan hasil kerja kepada PHDI Pusat. "Pak Wirata Dwikora sudah ke PHDI pusat bertemu dengan ketua umum PHDI Pusat. Bertemu juga dengan direktur urusan pendidikan agama Hindu. Cuma jawabannya kan tidak bisa seketika," ujarnya.
Dijelaskan, di PHDI pusat ada mekanisme. Mulai dari laporan pengurus harian ke walaka. Dari walaka baru kemudian ditindaklanjuti dengan pasamuhan. "Pasamuhan ini baru kemudian memutuskan. Tidak bisa seperti keinginan kita langsung putus," katanya.
Ia pun mengimbau masyarakat Hindu di Bali agar bersikap tenang. PHDI telah berupaya optimal dalam penyelesaian persoalan tersebut. "Kami sudah salurkan masukan masyarakat sesuai dengan tugas dan fungsi lembaga. Biarkanlah lembaga PHDI, Majelis Desa Adat, Dirjen Bimas Hindu, Kejaksaan Agung dan sebagainya melaksanakan tugas masing-masing. Kita tunggu keputusannya," tandas Prof. Sudiana.

(bx/adi/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news