Rabu, 12 Aug 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Bikin Pertahanan, Pura Maospahit Dikonsep Panca Mandala

31 Juli 2020, 22: 52: 07 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Bentuk Pertahanan, Pura Maospahit Dikonsep Panca Mandala

KORI : Jro Mangku Ketut Gede Sudisna menuju Kori Agung Pura Maospahit. (Dian Suryantini/Bali Express)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS-Pura Maospahit di bilangan Jalan Sutomo, Kota Denpasar, yang ditetapkan sebagai Warisan Cagar Budaya Nasional, terbilang unik karena  memiliki konsep Panca Mandala.

Jro Mangku Ketut Gede Sudisna mengatakan, konsep Panca Mandala diterapkan di Pura Maospahit karena mengadopsi struktur pertahanan seperti Kerajaan Majapahit. “Pada konsep kerajaan, letak keraton itu ada di tengah dan mendapat perlindungan dari keempat arah mata angin, sehingga kondisi keraton benar-benar aman. Sama seperti pura ini, karena bagian pura diletakkan di tengah, sehingga keamanannya dapat dijamin,” ucapnya mengawali ceritanya kepada Bali Express  (Jawa Pos Group), pecan kemarin.

Adapun bagian Panca Mandala tersebut, meliputi mandala pertama yang ada di bagian depan dengan pintu gerbang bernama Candi Kusuma. Candi ini sendiri menghadap langsung Jalan Sutomo. Sebagaimana halnya sebuah pintu gerbang seperti kori agung lainnya, pintu Candi Kusuma ini pun ukurannya tidak lebar.

Kemudian ada bagian mandala kedua yang ada di sebelah selatan pura, yang saat ini berupa gang dengan lebar satu meter. Gang tersebut saat ini menjadi akses menuju gerbang berikutnya yang disebut Candi Renggat. Posisinya ada di sebelah barat pura.

Selanjutnya ada mandala ketiga yang disebut dengan jaba sisi. Posisinya berada di sisi barat, dan bisa diakses dari gang sebelah selatan melalui Candi Rebah. “Adapun fungsi utama dari mandala ini adalah sebagai dapur utama pura dalam proses menyiapkan sesajen ketika pujawali,” ungkapnya.

Selanjutnya mandala keempat adalah jaba tengah yang bisa diakses dari jaba sisi melalui candi bentar sebelah timur jaba sisi. Pada bagian mandala ini terdapat sejumlah bangunan suci yang terdiri dari Bale Pasucian, Bale Tajuk, dan Bale Sumanggen. Fungsi mandala ini sebagai tempat pementasan wali kesenian sakral ketika upacara berlangsung di Pura Maospahit.

Sedangkan bagian mandala utama terletak di tengah-tengah, dan bisa diakses melalui jaba tengah melalui kori agung dengan arsitektur yang didominasi bata merah dengan relief kuno khas abad pertengahan. Pada bagian utama mandala ini, terdapat cukup banyak bangunan, seperti dua bangunan utama, yakni Candi Raras Maospahit sebagai stana Ratu Ayu Mas Maospahit. Sedangkan Ida Bhatara Lingsir Sakti berstana di Candi Raras Majapahit. 

Di depan mandala utama terdapat Bale Semanggen. Bale ini difungsikan untuk meletakkan sarana upacara saat piodalan. Uniknya, khusus di Bale Semanggen ini terdapat pantangan yang hingga kini masih dipegang teguh masyarakat. “Bale ini dikenal pingit. Jadi tidak boleh sembarang orang yang memasuki areal bale ini,” tuturnya.

Pantangan yang dimaksud yakni larangan bagi seorang wanita yang tengah mengandung untuk beraktivitas di bale tersebut. Baik itu saat meletakkan banten ketika piodalan, ataupun saat ngayah di pura. Konon jika hal tersebut dilanggar, maka wanita yang tengah hamil itu akan keguguran dan tidak akan dikaruniai keturunan kembali.

 “Orang yang sedang hamil tidak boleh menek-tuun driki (naik-turun disini). Bisa berakibat fatal. Bayinya bisa keguguran nanti, dan tidak akan dikaruniai keturunan. Begitu menurut cerita para leluhur,” kata Mangku Ketut.

Mangku Ketut pun hingga kini belum mengetahui alasan pasti kenapa pantangan tersebut ada dan berlaku bagi wanita hamil. Ia pun belum mengetahui kebenaran secara pasti, apakah benar bisa berdampak seperti itu.

“Kami pun belum menemukan alasan ataupun jawabannya sampai sekarang. Jika ada yang bertanya kenapa, ya kami jawab seperti yang kami ketahui saja. Kami juga masih mencari tahu kepastian, apakah benar sampai tidak dianugerahi keturunan lagi. Bukannya tidak percaya, hanya saja kami masih mencari bukti penguat. Tapi masih belum ketemu,” terangnya.

Untuk pujawali di Pura Maospahit, dilangsungkan dua kali dalam setahun, yakni pada Purnama Jyesta untuk memuliakan Ratu Ayu Mas Maospahit, dan Purnama Kalima untuk memuliakan Ida Bhatara Lingsir Sakti.

(bx/dhi/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news