Senin, 28 Sep 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Bangkitkan Drama Gong Banyuning yang Redup

02 Agustus 2020, 23: 41: 04 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Bangkitkan Drama Gong Banyuning yang Redup

DRAMA GONG :Nyoman Suardika menunjukkan foto almarhum Nyoman Sujana alias Jedur, seniman Drama Gong Banyuning yang meninggal tahun 2005 silam. (I Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

BULELENG, BALI EXPRESS-Tak hanya berkecimpung dalam seni Tari khususnya Topeng Sidakarya, Sanggar Seni Nong-Nong Kling Banyuning, juga berperan penuh dalam pelestarian Drama Gong yang kian meredup akibat tergerus zaman. 

Ketua Sanggar Seni Nong-Nong Kling, Nyoman Suardika, S.Ag, M.Fil.H yang akrab disapa Komang Epo, mengatakan, Drama Gong Banyuning sangat erat kaitanya dengan masa kejayaan Drama Gong Puspa Anom tahun 1970 hingga 1990-an, yang dibesut almarhum Wayan Sujana alias Jedur bersama Gede Mangku.

Bahkan, saking terkenalnya, Sekaa Drama Gong ini sudah jelajahi desa di seluruh Bali, bahkan hingga di Lombok. Namun, seiring perjalanan waktu, pada tahun 1990 Puspa Anom kepopulerannya tenggelam, lalu disusul merontoknya sekaa drama gong lainnya di Bali.

“Memang Drama Gong Puspa Anom punya peran memperkenalkan drama gong khas Banyuning. Yang pementasannya pakai dekorasi sesuai dengan latar cerita. Selain itu, drama gong ini kental dengan logat Buleleng,” ujar Komang Epo kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) baru baru ini.

Selama ini, Drama Gong Banyuning kerap dipentaskan ketika Pesta Kesenian Bali (PKB) saja. Namun, seiring redupnya Sekaa Drama Gong Puspa Anom, pihaknya melalui Sanggar Seni Nong-Nong Kling kembali membangkitkan kesenian drama gong yang sempat mati suri.

Strateginya, ia melibatkan anak-anak muda sebagai bentuk regenerasi setiap pementasan drama gong di Banyuning. “Setiap odalan di pura, saya libatkan remaja dan anak-anak untuk bermain drama gong. Ini bentuk regenerasi, sehingga tidak putus. Meskipun anak-anak ini masih belum mengerti alur cerita, tetapi mereka dilibatkan dalam hal bermain dolanan,” tuturnya.

Komang Epo tak menampik jika peran sang mertua, almarhum Wayan Sujana alias Jedur sangat kuat dalam memberi karakter Drama Gong Banyuning. Ketika berjaya, drama gong ini kerap mengambil lakon Drama Sampik Ingtay. Bahkan, Jedur kerap ikut bermain sebagai tokoh punakawan dalam cerita yang diambil.

Kala itu, ia pun kerap mendampingi almarhum Jedur untuk melatih drama gong ke desa-desa di Buleleng untuk dipersiapkan di ajang PKB. Bahkan, Komang Epo mendapat banyak trik dalam melatih untuk mendapatkan alur cerita yang bagus.

“Beliau berpesan agar saya memperhatikan caranya melatih kesenian drama gong kala itu di Tamblang untuk persiapan PKB. Memang beliau selalu suskses mengantarkan drama gong meraih juara satu ketika dilombakan saat PKB,” jelasnya.

Komang Epo berharap, kiprah Sanggar Seni  Nong-Nong Kling bisa menjadi media pelestarian, khususnya seni Drama Gong di Buleleng, sehingga tidak punah dan tetap bertahan di tengah gempuran zaman. “Selama ini memana orang ngupah drama gong karena kebanyakan sesangi atau kaul. Sehingga kami sering diminta untuk mementaskan drama gong keliling di Buleleng,” pungkasnya.

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news