Jumat, 02 Oct 2020
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

Gunakan Bumbu Bali, Keripik Ni Luh Sri Tembus Pasar Internasional

03 Agustus 2020, 18: 50: 33 WIB | editor : Nyoman Suarna

Gunakan Bumbu Bali, Keripik Ni Luh Sri Tembus Pasar Internasional

KERIPIK : Keripik ayam Ni Luh Sri Wahyuningsih dari Kesiman, Denpasar yang menggunakan bumbu bali, kini sudah menembus pasar internasional. (DIAN SURYANTINI FOR BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Industri rumahan Kripik Biru yang dirintis Ni Luh Sri Wahyuningsih (45) kini sukses di pasaran. Keripik ayam yang diberi nama Kripik Biru ini dirintis sejak tahun 1997, sebelum ia menikah. Dan kini keripik buatannya ini sudah menembus pasar internasional.

Makanan rumahan buatannya sudah sampai di pasar Australia dan Jepang. Sri pun memproduksi keripik itu di Jalan Sulatri, Kesiman, Denpasar. “Saya usaha ini sebelum menikah. Waktu itu berusia 22 tahun,” akunya saat diwawancarai, Senin (3/8).

Usaha ini dibuatnya atas inisiatif sendiri dengan alasan agar bisa bekerja dari rumah sambil mengurus anak. “Awalnya saya berpikir bisa kerja di rumah sambil ngurus anak yang masih bayi. Jadi kepikiranlah membuat keripik dari limbah ayam yakni kepala dan leher ayam,” kata dia.

Pada masa awal pembuatan, dalam sehari hanya memproduksi 10 hingga 15 kg keripik ayam. Namun kini, produksinya dalam sehari sebanyak 250 kg dan bahkan mencapai 300 kg, terutama saat menjelang hari raya. Tak hanya di Bali, keripik hasil olahannya ini terjual hingga luar Bali bahkan luar negeri seperti Jepang dan Australia.

Dia juga memiliki sales atau reseler yang membantu memasarkan keripiknya ke semua kabupaten di Bali. Untuk harga, per paket berisi 10 bungkus dijual Rp 10 ribu.

Dengan bumbu racikan sendiri dengan menggunakan bumbu khas Bali, keripik ini pun memiliki rasa pedas yang mantap dan pas di lidah. “Kebetulan saudara saya memiliki usaha potong ayam. Jadi saya minta kepala dan lehernya untuk saya olah,” tambahnya.

Keterampilan membuat keripik ini pun ia dapatkan sejak sekolah dulu. “Waktu sekolah pernah diajarkan membuat keripik ampas tahu. Jadinya saya berpikir bahwa limbah itu bisa bernilai ekonomi. Setiap yang makan keripik saya, saya tanya apa kekurangannya. Ada yang nyaranin diisi cabai agar lebih enak dan saya ikuti. Akhirnya jadilah seperti keripik yang sekarang ini,” tuturnya.

Awalnya keripik ini ia buat sendiri dan dititipkan di warung-warung sekitaran Kesiman. Pada tahun 2005 pun ia mulai mencari tenaga kerja. Hingga kini ia berhasil mengajak 25 tenaga kerja dengan sistem borongan dan digaji harian. “Delapan tahun berjalan, tahun 2005 baru mulai mencari tenaga kerja. Awalnya memang sulit mencari orang yang mau tahan bekerja di dapur,” sambungnya.

Pada saat pandemi Covid-19 ini, usahanya sedikit terganggu karena harga daging ayam mahal. Bahkan harga daging ayam melonjak tiga kali lipat dari hari biasanya. Sementara untuk harga keripiknya tak berani ia naikkan. Meski dilematis, tetapi usahanya tetap berjalan. Namun belakangan, apalagi dengan adanya new normal ini, harga daging ayamnya pun mulai menurun. Ia pun kembali bisa bernapas lega dan pesanan kembali ramai.

(bx/dhi/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news