Senin, 28 Sep 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Pura Prapat Agung Jejak Nirartha Terakhir Ditemukan

04 Agustus 2020, 01: 05: 16 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Pura Prapat Agung Jejak Nirartha Terakhir Ditemukan

PERADABAN : Pura Prapat Agung diyakini menjadi tempat cikal bakalnya peradaban masyarakat Bali. (GDE RIANTORY/BALI EXPRESS)

Share this      

JEMBRANA, BALI EXPRESS-Dalam Lontar Dwijendra Tattwa, yang merupakan babon kisah sejarah perjalanan suci Dang Hyang Nirartha, disebutkan ada 35 tempat yang berkaitan dengan perjalanan suci siar keagamaan Dang Hyang Nirartha. Kemudian di tempat tersebut didirikan pura untuk mengenang dan memuja jasanya. Salah  satu tempatnya adalah Pura Prapat Agung yang berada di dalam kawasan hutan lindung Taman Nasional Bali Barat (TNBB).

Berdasarkan Lontar Dwijendra Tattwa, Pura Prapat Agung sejatinya adalah asal permandian Ida Bhatara Sakti Dwijendra. Di tempat inilah awal Dang Hyang Nirartha mempelajari dan menyelami peradaban masyarakat Bali. Hal ini ditandai dengan adanya tempat ‘payogan’ bersamadhi Dang Hyang Nirartha di sisi kiri utama mandala Pura Prapat Agung.

Selain mendalami tentang peradaban masyarakat Bali, dari payogannya, Dang Hyang Nirartha juga menciptakan sebuah telaga (kolam) yang diperuntukkan hewan-hewan yang kehausan. Telaga tersebut tidak pernah kering, meskipun terjadi kemarau panjang.

 Pura Prapat Agung Jejak Nirartha Terakhir Ditemukan

TELAGA :  Telaga  dengan air warna-warni, jadi penanda tempat tersebut bukti perjalanan Dang Hyang Nirartha. (GDE RIANTORY/BALI EXPRESS)

Kini di sisi utara telaga dibangun Pura Taman Beji, sebagai bagian dari Pura Dang Kahyangan Prapat Agung, terutama saat pelaksanaan pujawali. Berdasarkan penelusuran Lontar Deijendra Tatwa, sekitar tahun 1990 Pura Dang Kahyangan Prapat Agung beserta telaga warna yang ditemukan di areal hutan TNBB.

 “Ketika masih di dalam telaga, warna air biasa-biasa saja. Tetapi kalau diambil dan ditempatkan dalam wadah tersendiri, warnanya akan berbeda. Luas telaga sekitar 4 x 6 meter. Airnya memiliki lima warna berbeda, yakni merah, hitam, kuning, putih jernih, dan biru,” tutur Ketua Umum Yayasan Pengembang Dang Kahyangan Prapat Agung, Ida Bagus Susrama, akhir pecan kemarin.

Keberadaan telaga ini, lanjut Susrama, merupakan salah satu penanda (land mark) Pura Prapat Agung, seperti yang tertera dalam Lontar Dwijendra Tatwa. “Di lontar itu disebutkan ciri-ciri keberadaan pura, salah satunya adalah telaga tersebut,” terangnya.

Keberadaan Pura Dang Kahyangan Prapat Agung, diyakini merupakan salah satu pura yang didirikan Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh, atau yang juga dikenal dengan sebutan Dang Hyang Nirartha. Dalam perjalanan spiritualnya dari Kerajaan Majapahit, beliau mendirikan tempat peribadatan yang cukup banyak di Kabupaten Jembrana, seperti Pura Dang Kahyangan Jati, Pura Dang Kahyangan Gede Perancak, Pura Dang Kahyangan Rambut Siwi, Pura Dang Kahyangan Mertasari, dan Pura Dang Kahyangan Prapat Agung.

“Pura Dang Kahyangan Prapat Agung ditemukan paling terakhir dibanding pura-pura peninggalan Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh. Penelusuran dilakukan karena umat merasa masih ada satu pura yang belum ditemukan sesuai yang tercantum dalam Lontar Dwijendra Tatwa, yaitu Pura Prapat Agung ini,” imbuh Susrama. Keberadaan pura ini  tidak diketahui karena posisinya di dalam hutan, berbeda dengan pura lainnya yang berada di kawasan permukiman penduduk.

Dengan mendapat konsesi lahan seluas 3 hektare dari Kementerian Kehutanan, pengembangan pura, termasuk infrastruktur yang dibangun harus memperhatikan kelestarian lingkungan. Dengan pola pelestarian lingkungan, pengembangan pura termasuk akses jalan tidak merusak lingkungan, sehingga umat Hindu tidak saja dapat bersembahyang di pura, juga mendapatkan pemandangan alam yang indah di kawasan hutan. Pengunjung juga dapat menuju tempat itu melalui jalur laut. Dari Pelabuhan Penyebarangan Gilimanuk-Ketapang hanya dibutuhkan waktu 15 menit.

Untuk menuju telaga, para pengunjung juga dapat melalui jalan utama ruas Gilimanuk-Singaraja. Setelah itu, memasuki kawasan hutan yang kondisi jalannya tidak beraspal, sehingga nuansa alaminya dapat dipertahankan.

Meskipun pengunjung harus melalui kawasan yang secara administrasi masuk wilayah Kabupaten Buleleng, Susrama mengakui, pura dan telaga itu tetap berada di wilayah Kabupaten Jembrana. “Memang jalurnya melingkar. Tapi lingkaran itu kembali berujung-pangkal di wilayah Kabupaten Jembrana,” pungkasnya.

(bx/tor/rin/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news