Senin, 21 Sep 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali
Jejak Kotor Djoko Tjandra di Tanah Dewata (1)

Berstatus Buronan, Tapi Bangun Hotel Mulia di Pantai Geger

25 Agustus 2020, 20: 44: 08 WIB | editor : Nyoman Suarna

Berstatus Buronan, Tapi Bangun Hotel Mulia di Pantai Geger

GEGER : Kasus Djoko Tjandra bikin geger masyarakat Bali yang ditulis berbagai media di Bali. (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

Nama Joko Sugiarto Candra (Djoko Tjandra) kerap disebut Joker, mendadak tenar di negeri ini. Ketika Jaksa Agung RI menyebut bahwa Djoko Tjandra sempat berada di Indonesia dengan santai, walaupun berstatus buronan. Djoko Tjandra disebut mengajukan PK atas kasus ini.

PUBLIK mulai menjadikannya pusat perhatian. Hingga akhirnya garong cessie Bank Bali itu berhasil ditangkap di Malaysia dan dibawa menuju tanah air. Secara nasional Djoko Tjandra berhasil membuat geger negeri ini di tahun 2020. Jika ditelusuri, Djoko Tjandra lebih awal membuat geger Bali. Tepatnya membuat geger Pantai Geger, Kuta Selatan, Badung pada September tahun 2011. Namun saat itu buronan kasus korupsi Djoko Tjandra masih kebal. Kasusnya hilang ditelan bumi, seiring waktu berjalan.

“Secara nasional kasusnya baru heboh saat ini, namun di Bali sebenarnya sudah heboh tahun 2011, sembilan tahun lalu. Fakta – fakta yang ada, ia mengantongi izin yang diterbitkan hari Sabtu. Buronan ini bisa membangun hotel di Bali. Ada pejabat Badung yang bertemu Djoko Tjandra di Singapura. Namun saat itu Djoko Tjandra masih kebal,” ujar mantan ketua Komisi I DPRD Bali Made Arjaya saat dikonfirmasi, Selasa (25/8).

 “Namun akhirnya situasi yang berbeda membuatnya ditangkap juga. Apa perlakuan dari penegak hukum atas aset Djoko Tjandra Hotel Mulia di Bali, atas apa yang terjadi dalam proses perizinan di Badung dan lainnya. Semoga diusut tuntas,” harapnya.

Fakta – fakta yang dirangkum Bali Express (Jawa Pos Group) dari sumber Radar Bali (Jawa Pos Group) dan beberapa berita saat itu, didapatkan bahwa Djoko Tjandra saat itu tenar di Bali. Hampir beberapa bulan menjadi pusat berita utama di Bali.

Berawal dari informasi bahwa Djoko Tjandra yang menjadi seorang buronan malah membangun hotel Mulia Resort Bali di pinggir Pantai Geger, Peminge, Kuta Selatan, Badung. Akhirnya kabar ini ditindaklanjuti dengan sidak DPRD Bali, Kamis 29 September 2011 yang dipimpin Ketua Komisi I DPRD Bali saat itu Made Arjaya, melibatkan Sekretaris Komisi I DPRD Bali Dewa Nyoman Rai Adi, Sekretaris Komisi II yang juga Ketua Pansus Perda RTRW Bali saat itu Wayan Disel Astawa, Anggota Komisi III Wayan Budastra, Ketua BK DPRD Bali Wayan Sudarma, Anggota Komisi IV Cokorda Raka Kerthiyasa alias Cok Ibah.

Saat sidak dilakukan, akhirnya didapat beberapa fakta – fakta dari penjelasan pihak Hotel Mulia saat itu. Mereka adalah Manager Proyek Hotal Mulia Karnadi Kuntadi  dan staf Administrasi Mulia Resort Bali Djoko Suhartono. Yang pertama didapatkan dari foto copy izin hotel yang dipegang memang atas nama Djoko Tjandra atau Djoko Soegiarto Tjandra.  Kemudian juga dijelaskan, akan membangun hotel di lahan dengan luas 27 hektare, dengan 635 kamar hotel dan 108 vila dengan anggaran Rp 1,3 triliun.

Kemudian daerah pembangunan ada tiga pura. Di sisi kanan Pura Dhang Kahyangan Geger, di areal hotel Pura Batu Madeg dan sisi kiri Pura Melanting. Dan banyak lagi akhirnya fakta – fakta terkuak, setelah kasus ini meledak. Hasil temuan DPRD Bali, terdapat kejanggalan – kejanggalan proses izin dan lainnya dalam pembangunan Hotel Mulia Resort Bali.

Yang pertama, lahan itu memang milik Djoko Tjandra yang dibeli saat era Gubernur Bali Ida Bagus Oka sekitar tahun 1990. Bahkan lahan ini dibeli atas saran IB Oka dengan harga Rp 1,5 juta per are. Untuk memastikan lahan itu adalah miliki Djoko Tjandra, bisa dilihat dari Surat Pernyataan dan Kesepakatan Bersama antara PT Mulia Graha Tata Lestari dan Desa Adat Peminge dan Sangawangan tahun 1994.

Tercatat pada 14 Juli 1994, saat itu Djoko Tjandra selaku Dirut PT Mulia Graha Tata Lestari, memberikan kuasa pada pengacara Anak Agung Gde Dhalem Udayana untuk membuat kesepakatan. Dengan nomor surat 006/MGTL/JST/VII-94.

 Namun dalam perjalanannya, Ketika Kabupaten Badung menurunkan IMB balik nama dari Djoko Tjandra ke Viady Sutojo, terliha ada perubahan akta PT Mulia Graha Tata Lestari dari Djoko Tjandra ke Viady Sutojo tahun 2008 versi Badung. Kejanggalan mulai muncul, karena ketika Viady memberikan penjelasan tertulis, perubahan akta terjadi tahun 2007.

Kejanggalan berikutnya, menyangkut kepemilikan. Hasil sidak Komisi I DPRD Bali Made Arjaya, bersama Ketua Pansus RTRWP Wayan Disel Astawa, bersama anggota DPRD lainnya, mendapatkan pernyataan dari Manager Proyek PT Mulia Graha Tata Lestari Karnadi Kuntadi, bahwa Mulia Resort adalah milik keluarga, bukan perusahaan TBK (terbuka). Dan secara pasti mengatakan yang punya adalah keluarga Tjandra termasuk Djoko Tjandra.

Bagi Ketua Komisi I DPRD Bali Made Arjaya, balik nama IMB juga sangat tida lazim dalam urusan IMB. Karena IMB akan gugur dalam satu tahun setelah terbit, jika si pemegang IMB tidak melakukan pembangunan. Kejanggalan dalam kasus Djoko Tjandra ini, IMB awal terbit tahun 1997, namun balik nama baru 2011 yang ditandatangani oleh Kadis Cipta Karya Desy Dhamayanti.

Lucunya lagi, pihak pemohon sebenarnya memohon IMB dengan surat tertanggal 10 Maret 2011. Tapi pihak Cipta malah memberikan balik nama IMB pada 29 Maret 2011. Ada hal yang tidak nyambung dari yang dimohon dengan yang diberikan oleh Badung

Yang konyol lagi, memohon IMB pada tanggal 10 Maret 2011, langsung dalam hitungan dua hari yaitu tanggal 12 Maret 2011 menurunkan surat kajian teknis. Padahal 12 Maret 2011 adalah hari Sabtu, yaitu hari libur bagi PNS termasuk PNS di Badung. Saat kajian teknis turun, juga pembangunan sudah berjalan. Artinya Mulia Resort membangun sebelum memegang IMB.

Bupati Badung AA Gde Agung menurunkan pengesahan AMDAL. Namun bagi Arjaya, mestinya Gubernur Bali. Apalagi kawasan Geger adalah Kawasan Strategis Provinsi, semestinya perizinan melibatkan provinsi.

Secara radius kawasan suci juga menyalahi karena Pura Geger berstatus Dhang Kahyangan harusnya memiliki radius kawasan suci sejauh 2 kilometer. Namun belakangan status pura dijadikan pura swagina, oleh PHDI tandingan di Badung saat itu. Bukan PHDI di bawah Ketua Gusti Ngurah Sudiana.

“Yang paling aneh, kenapa buronan kakap bisa membuat hotel. Izin– izinnya janggal dan banyak indikasi permainan dan malah didukung pemerintah Badung. Ini pertanyaan besar,” ujar Made Arjaya saat itu.

Setelah sidak pertama, kasus Djoko Tjandra bergulir panas. DPRD Bali hampir setiap hari selama beberapa bulan melakukan pembahasan, pemanggilan para pihak dan banyak lagi. Bahkan saat itu pihak Kejati Bali melakukan pengusutan kasus itu. Pengusutan terhadap dugaan main sogok izin di Badung dan segala kejanggalan hingga akhirnya buronan negeri ini bisa membangun hotel dengan segala kejanggalan. Namun kasusnya mengendap sampai saat ini. Tidak jelas akhir dari kasus Djoko Tjandra dalam lingkaran permainan dengan Badung saat itu.

Koran ini berusaha mengkonfirmasi pihak Hotel Mulia Bali. Pertama menghubungi satu pengacara Hotel Mulia Bali Haris Nasution, namun pihak Haris mengatakan bahwa tidak ada kewenangan menjelaskan apa – apa selain terkait sengketa lahan yang terjadi di PN Denpasar. “Saya tidak bisa kasi penjelasan apa – apa, apalagi menyangkut Bapak Djoko Tjandra. Saya hanya fokus sebagai pengacara untuk sengketa lahan di PN Denpasar,” jelas Haris.

Kemudian koran ini berusaha mengkonfirmasi, ke Hotel Mulia Bali dengan menghubungi telepon yang tertera di website. Diangkat oleh perempuan bernama Mira, yang mengarahkan untuk konfirmasi ke Hotel Mulia Jakarta. “Urusan menjelaskan detail masalah hotel di luar masalah manajemen hotel, kewenangannya di Jakarta,” jelasnya. Sempat meminta nama dan nomor telepon yang bisa dikonfirmasi, akhirnya diminta agar mencari di website Hotel Mulia Jakarta. Kemudian koran ini menghubungi sesuai dengan penjelasannya, diangkat oleh Novi seorang operator. Dari operator diarahkan ke Public Relation bernama Jesika. “Kami coba koordinasikan dulu,” pungkas Jesika.

(bx/art/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news