Selasa, 20 Apr 2021
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban Dapat Anugerah MURI

28 Agustus 2020, 20: 31: 34 WIB | editor : Nyoman Suarna

Musem Pustaka Lontar Dukuh Penaban Dapat Anugerah MURI

MURI : Warga menghadiri acara penganugerahan MURI secara virtual di Museum Lontar Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem, Jumat (28/8) sore. (NENGAH SUARYA FOR BALI EXPRESS)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPRESS – Warga Desa Adat Dukuh Penaban, Kecamatan Karangasem, patut berbangga. Usaha membangun museum lontar secara gotong royong di tengah pesatnya teknologi, menjadi sorotan Museum Rekor Indonesia (MURI). 

Alhasil, desa tersebut dianugerahi rekor MURI atas usaha masyarakat bergotong-royong membangun Museum Pustaka Lontar. Penganugerahan tersebut dalam rangka HUT ke-30 MURI. Gerakan masyarakat juga dinilai penting sebagai usaha pemberdayaan masyarakat dalam mempertahankan budaya. 

Bendesa Adat Dukuh Penaban I Nengah Suarya mengaku bangga dan tidak menyangka MURI menganugerahi penghargaan tersebut. Suarya menjelaskan, penganugerahan dilaksanakan secara virtual, Jumat (28/8) sekitar pukul 15.00. Acara hanya dihadiri beberapa warga dengan menerapkan protokol kesehatan.

Baca juga: Jelang Galungan, Badung Stok Lima Ribu Babi Siap Potong

Dukuh Penaban termasuk salah satu di antara enam penerima anugerah di Indonesia. Lima di antaranya adalah perorangan/individu, dan satu penerima adalah lembaga. Namun satu penerima individu juga warga Dukuh Penaban selaku kurator museum yang juga penyuluh dan penulis lontar.

Sehingga secara umum, ada dua penerima asal Karangasem yakni lembaga dan perorangan tahun ini. "Kami kaget karena tidak pernah mengusulkan. Bagi mereka (MURI) cukup unik dan menarik di tengah pesatnya teknologi, gotong-royong ternyata masih sangat kental. Pemberdayaan masyarakat yang cenderung pragmatis. Sangat membanggakan," ungkap Suarya. 

Dia menjelaskan, verifikasi dilakukan langsung sekretariat MURI. Pengelola museum mendapat pemberitahuan sepekan lalu dan semua persyaratan yang diminta telah dipenuhi. Sementara itu penyerahan penghargaan fisik dilakukan dalam waktu dekat.

Suarya menjelaskan, museum pustaka lontar dihadirkan, karena melihat banyaknya lontar milik masyarakat yang jarang terjamah. Beberapa di antaranya bahkan hampir lapuk dan kini berhasil diselamatkan. Faktor penyebabnya, masyarakat sulit menerjemah arti tulisannya. Di dalamnya memuat usada, tutur, kawisesan, dan lainnya.

"Kami telusuri ternyata yang ditemukan di lapangan memang lontar sakral. Dalam arti secara bahasa sulit diterjemahkan dan dipahami, dan akhirnya tak tahu isinya. Apakah berguna atau tidak. Akhirnya pemilik lontar enggan membukanya," jelasnya.

Pihaknya menawarkan warga untuk membantu mengetahui isi lontar. Kemudian, warga sepakat memberikan lontarnya untuk diregistrasi. Koleksi lontar yang teregistrasi sebanyak 313 cakep. Semuanya milik masyarakat. 

Namun belum semua lontar milik masyarakat ditempatkan di museum karena keterbatasan tempat penyimpanan. Sebagian lontar masih ada di rumah masyarakat. Setiap perayaan Saraswati, masyarakat bakal menurunkan lontarnya untuk diupacarai di museum.

Bukan itu saja. Lontar berusia tua dikonversi ke dalam bentuk digital. Prosesnya dilakukan oleh pengurus museum dengan melibatkan beberapa relawan. Relawan baru menyelesaikan pemotretan 108 cakep lontar dibantu dari Prancis, sejak September 2019 lalu. Sisanya menyusul, menyesuaikan kondisi selama pandemi ini.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news