Senin, 28 Sep 2020
baliexpress
Home > Sportainment
icon featured
Sportainment

Jadi Cabor Prestasi KONI, Peminat E-Sport Makin Membludak

30 Agustus 2020, 18: 01: 03 WIB | editor : Nyoman Suarna

Jadi Cabor Prestasi KONI, Peminat E-Sport Makin Membludak

Ketua Harian Pengprov ESI Bali AA Gede Harya Putra (ISTIMEWA)

Share this      

Perkembangan zaman sudah semakin maju. Terkait hal itu, pemanfaatan teknologi bukan sekadar untuk hiburan atau pemuas diri. Teknologi serta pengakomodiran yang tepat, bisa melahirkan sebuah kebanggaan untuk individu, kelompok maupun bangsa. E-Sport merupakan wujud pemanfaatan perkembangan zaman. E-Sport bisa menjadi sebuah prestise serta tak menutup kemungkinan menghasilkan cuan bagi pelakunya.

E-SPORT adalah cabang olahraga (cabor) elektronik yang dalam pelaksanaannya menggunakan perangkat elektronik, baik itu telepon pintar, PC atau komputer, konsol dan sebagainya. Ditambah lagi dengan adanya jaringan internet.

E-Sport tidak bisa dikatakan olahraga jika tidak ada head to head atau pertarungan, baik itu secara individu maupun kelompok, entah itu game seperti apa yang dimainkan. Dan esensinya tentu saja adalah juara.

Jadi Cabor Prestasi KONI, Peminat E-Sport Makin Membludak

DIGANDRUNGI : E-Sport saat ini bukan sekadar bermain game elektronik biasa dan dipakai menghabiskan waktu di tengah kebosanan. Namun, dengan dikelola secara terorganisir dan profesional, E-Sport bisa (ISTIMEWA)

E-Sport juga bukan olahraga konvensional yang selalu mengandalkan fisik, namun ada otak yang dibutuhkan, strategi, team work dan pengambilan keputusan cepat yang menjadi senjata utamanya. Oleh karena itu, berbahagialah untuk para peminat E-Sport karena olahraga ini, kini sudah menjadi bagian dari cabang olahraga (Cabor) prestasi di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

Di Bali sendiri, perkembangan E-Sport bisa dikatakan meledak. Tak hanya berpusat di Kota Denpasar, melainkan sampai ke-8 kabupaten di Bali. Hal ini dilontarkan Ketua Harian Pengprov ESI Bali, AA Gede Harya Putra saat diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Grup).

"Di Bali itu potensi sangat banyak, namun wadah resmi atau adanya kejuaraan untuk itu belum bisa dilakukan secara masif, karena terbentur pandemi. Memang ada beberapa event yang sudah jalan, seperti dilakukan Pengkab ESI Badung belum lama ini, namun itu baru sebatas online saja, khusus babak penyisihan. Sedangkan untuk semifinal dan final, baru bisa offline atau langsung on the spot karena hanya mempertemukan empat tim," beber AA Gede Harya Putra.

Soal keberadaan klub di bawah naungan ESI Bali maupun kabupaten/kota, Gung Harya (sapaan akrabnya) belum bisa mendata secara pasti. "Nanti pada bulan Oktober, kami akan menggelar event serentak di Bali. Nah, dari situ bisa kami data berapa sebenarnya potensi klub yang ada di Bali. Sekaligus menggaungkan E-Sport ini bahwa bukan sekadar main game, melainkan ada nilai positif di dalamnya," tegasnya.

Soal kepengurusan, memang hanya Pengprov ESI Bali saja yang sudah dilantik, tepatnya pada pertengahan bulan Maret lalu. Kalau untuk pengurus di kabupaten/kota yang nantinya menjadi perpanjangan tangan program provinsi, masih belum disahkan. "Supaya nanti seragam, kami tunggu dulu kepengurusannya secara full. Yang sudah ada itu baru ESI Jembrana, Tabanan, Denpasar, Buleleng dan Bangli. Sembari sampai sekarang kami masih terus berkomunikasi untuk rekrutmen calon pengurus itu. Karena masih ada beberapa bidang-bidang yang lowong. Tapi yang pasti, secara yuridis, E-Sport sudah menjadi bagian resmi dari cabor prestasi setelah diputuskan dalam Rapat Nasional KONI belum lama ini," tuturnya.

Soal game-game yang dilombakan, yang paling sering untuk ruang lingkup nasional maupun Bali pada khususnya ada dua, yakni Mobile Legends dan PUBG Mobile. Memang ada beberapa game lagi seperti FIFA (sepakbola) dan Dota 2.

Hanya saja, ujarnya lanjut, menggelar pertandingan dengan mengundang pemain langsung ke lokasi tidak memungkinkan dalam situasi sekarang. Solusinya adalah kejuaraan lewat daring atau online. "Nah, itu fleksibelnya E-Sport ini dalam kondisi sekarang. Pemain bisa bertanding, meskipun sedang berada di rumah," urainya.

Yang ditekankan pihaknya adalah soal stigma terkait E-Sport. Di E-Sport ini, jika ditelaah, terkandung nilai-nilai positif yang berpengaruh kepada pribadi anak dan lingkungan, seperti halnya soal team work, daya pikir otak serta pengambilan keputusan yang cepat. Syukur-syukur, jika ditekuni dengan benar serta peran edukasi yang baik dari orang tua, bisa diarahkan menjadi atlet. "E-Sport ini bagusnya juga tidak dibatasi oleh usia. Mau tua, muda, laki-laki atau perempuan sangat berpeluang menjadi atlet maupun publik figur yang bisa menghasilkan ke depannya. Tentu dengan catatan, harus disiplin serta ditekuni dengan baik dan benar," tandas Gung Harya.

(bx/dip/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news