Senin, 28 Sep 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Memahami Tuhan, Pahami Dasa Aksara, Kanda Empat, Kamulan

12 September 2020, 09: 13: 06 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Memahami Tuhan, Pahami Dasa Aksara, Kanda Empat, Kamulan

WAHYU : Pinisepuh Perguruan Wahyu Siwa Mukti, Jro Nabe Budiarsa, memberikan pelayanan pada umat yang nangkil ke pasraman. (SURPA ADISASTRA/BALI EXPRESS)

Share this      

NEGARA, BALI EXPRESS-Bali memiliki konsep mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan masa lalu. Ikuti perubahan zaman, tapi tetap berazaskan masa lalu. Dan, masa lalu dijadikan sebagai batu loncatan, juga pijakan utama menuju masa depan. 

Karena itu, masa lalu tidak banyak dibahas, hanya dipetik inti sarinya saja, sehingga lahir Kanda Empat Sari. Artinya, lima unsur inti sari dari semua yang ada di dunia ini, disarikan untuk menunjang hidup dan kehidupan di masa yang akan datang. 

Demikian diterangkan Pinisepuh Pasraman Sastra Kecana, Jro Nabe Budiarsa, belum lama ini. 10 bagian sifat-sifat Tuhan yang dikaji oleh Sastra Dasa Aksara dan Kanda, lanjut Jro Nabe Budiarsa, tidaklah digali atau dikaji bagian-bagian yang lebih kecil di bawah 10 itu.

Bahkan, 10 sifat dan kekuatan serta kekuasaan Tuhan itu kembali disatukan lagi menjadi lima kekuasaan besar. Sehingga kekuatan bumi yang memiliki energi lima unsur ini selaras dengan langit yang memiliki 10 unsur.

“Setelah disatukan menjadi lima, maka bumi dan langit menjadi seimbang, sama-sama lima. Dari sinilah lahir kejeniusan leluhur Bali di masa lalu dengan membentuk berbagai ritual penyeimbang Akasa dan Pertiwi.

Di pertiwi ada Butha Yadnya, Manusia Yadya karena manusia ada di bumi. Ada Rsi Yadnya karena Rsi atau pemimpin manusia ada di bumi juga, lalu ada Pitra Yadnya karena manusia mati di bumi dan kematian itu awal sang roh menuju Surga di langit sehingga ada upacara Dewa Yadnya,” ungkapnya.

Maka, pada proses penyatuan 10 sifat Tuhan menjadi lima kelompok sifat Tuhan terbesar, melahirkan Panca Yadnya. "Panca Sraddha untuk manusianya sebagai buana alit, dan  Panca Yadnya untuk alam Buana Agung," urainya.

Dari penyatuan ini ditujukan untuk keseimbangan energi lima unsur yang paling berbahaya di bumi ini, yakni angin, api, sinar, air, dan bumi. “Kelimanya adalah sumber kehidupan, tapi juga sumber bencana paling mengerikan hingga kiamat sekalipun. Butha Yadnya dijadikan dasar pijakan dan akhir dari pengharapan untuk menciptakan keseimbangan bumi ini,” terang Jro Nabe Budiarsa yang tinggal di Banjar Tegak Gede, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana. 

Dan, akibat penyatuan kekuatan lima unsur ini akan menciptakan keseimbangan pula pada jasmani manusia yang terbentuk dari Bayu, Gni, Teja, Apah, Pertiwi yang membentuk kulit, daging, otot, tulang, dan seluruh tubuh. Maka pada proses Panca Aksara ini akan menciptakan keseimbangan Buana Agung dan Buana Alit pada jasmani. 

Setelah Panca Dewata disatukan oleh Panca Aksara ini, maka akan terjadi keseimbangan bumi dan langit. Tak cukup sampai di situ saja, tetapi lewat olah pengetahuan Sastra Panca Aksara ini disatukan lagi menjadi tiga, yaitu Tri Aksara, dan dari sini Panca Dewata ini disatukan kekuatannya menjadi Tri Dewata atau Tri Murti.

Tri Murti ini  menjadi penyatuan seluruh kekuatan bumi dan langit, seluruh kekuatan Tuhan yang menempati setiap penjuru alam dan seluruh masa yang dari awal dan akhir. 

Penyatuan dari seluruh kekuatan bumi Natar Buana Sapta Patala dan Tri Buana Sapta Loka, semua menyatu menjadi tiga kesatuan yang  disebut Dasa Sakti yang artinya 10 kekuatan menyatu menjadi satu kesatuan dalam tiga wujud kekuatan utama, agar selaras dengan setiap jiwa manusia di bumi ini apapun keyakinannya mereka, pasti memiliki Bayu, Sabda, dan Idep.

Ketika Panca Aksara menyatu menjadi Tri Aksara, maka terjadi pula penyatuan seluruh kekuatan alam. “Penyatuan seluruh kekuatan alam itu disebut dengan istilah ‘Murti’, dan karena seluruh kekuatan alam disatukan menjadi tiga, maka lahirlah istilah ‘Tri Murti’.

Tri Murti ini menjadi dasar keyakinan umat Hindu Bali agar bisa melebur perbedaan atau sektoral atau sekte atau bagian-bagian kecil sifat Tuhan,” jelas pinisepuh Perguruan Wahyu Siwa Mukti ini. 

Dikatakan Jro Nabe Budiarsa, pengetahuan Tri Murti itu akan abadi sepanjang zaman, selama manusia memiliki badan yg terbentuk dari Panca Maha Butha. Selama manusia memiliki jiwa yang memiliki Bayu, Sabda, Idep. Juga selama alam ini membutuhkan proses lahir, hidup, dan mati atau Uttpati, Sthiti, Pralina.

Selama ada masa lalu, masa sekarang, dan masa depan, maka selama itu pula Tri Murti itu akan menjadi dasar dan sendi kehidupan umat di muka bumi, terutama bagi mereka yang meyakini.

Namun sesungguhnya, walaupun tanpa meyakini, jika mereka punya logika yang logis dan rasional pasti memahami. Karena sifat Tuhan ada yang terpikirkan ada yang tak terpikirkan, ada yang dirasakan, ada yang tak dirasakan, ada yan dilihat, ada yang tak dilihat.

“Akibat perbedaan dan keadaan itu, maka gunakan logika yang rasional memahami Tuhan. Gunakan alat kaji, uji, bukti, dan evaluasi dari setiap ingin memahami Tuhan. Jangan konyol, asal ikut-ikutan, asal hapal, padahal yang dihapalkan tak dipahami dan dimengerti,” ujarnya.

Di Kemulan, lanjutnya tak ada membahas sekte atau bagian-bagian kecil. Karena yang kecil-kecil itu telah dilebur menjadi satu. Seperti kita membangun rumah. Batu, pasir, semen, besi, dan air dilebur menjadi satu hingga terbentuk bangunan. Jadi, ketika melihat bangunan, jangan lagi tanya pasir, batu, air, besi, dan semen, karena telah menyatu jadi satu.

Begitu pula dengan sektarian telah lebur menjadi satu, karena sektarian hanya bagian kecil dari Kemulan. “Yang kecil jangan dibesarkan, tapi bagaimana memahami yang besar menjadi kecil, ringan, nyaman, dan mudah dipahami dan dimengerti,” katanya.

Kemudian konsep Kamulan dari sastra Tri Aksara ini belumlah cukup, karena kita sadar berada di atas bumi di bawah langit, hidup dari bumi, mati pun kembali ke bumi, lahir dari langit. Maka, matipun menuju langit. Untuk mengaplikasikan bumi dan langit itu, maka Tri Aksara itu disatukan lagi menjadi Dwi Aksara. Maka lahirlah konsep Bumi Sapta Petala dan Langit Sapta Loka. 

Agar bumi dan langit ini menyatu dalam Buana Alit, lalu dibuatkan pemujaan bumi dan langit pada Rong Dua atau Sanggah Paibon atau Paibuan yang berasal dari kata Pa, Ibu, dan An, yang menjadi Paibon. Namun ini diplesetkan artinya hanya dianggap pemujaan roh Dewata Dewati, dan ini memang benar, tapi sangat sempit sekali maknanya. 

Kemudian melalui Rong Dua atau Paibon ini, digunakan sebagai tempat menyelaraskan Buana Agung dan Buana Alit. Pada Buana Agung ada Akasa-Pertiwi, ada Dewa Ya Butha Ya, maka pada Buana Alit ada Sapta Cakra dan ada rohani-jasmani. 

Jasmani berasal dari unsur Bumi Panca Maha Butha, dan jiwa berasal dari langit yang datang dari 10 percikan Tuhan dari segala penjuru, menyatu dalam jiwa manusia menjadi atma atau Siwa Atma.

Setelah adanya Siwa Atma, maka turun juga leluhur sebagai Hyang Manumadi menyatu dalam jiwa. Leluhur membawa identitas warna atau wangsa, dan warna wangsa ibu disebut Kawitan atau Ka, Wit, dan An, yang artinya asal muasal dari trah garis keleluhuran.

Maka di sini diungkap manusia itu terdiri dari badan kasar, roh hyang manumadi, dan atma Siwa Atma, yang kemudian dinamakan Tri Angga Wisesa atau tiga badan yang memiliki kewenangan dan kekuasaan berbeda, tetapi menyatu dalam fungsi tugas sebagai jasmani dan rohani. 

Tak ada jasmani hidup tanpa jiwa, tak ada jiwa lahir tanpa raga, maka jadilah manusia paling utama dari seluruh ciptaan Tuhan di muka bumi. Ini pun menurutnya tidak cukup, karena Tuhan itu satu, namun memiliki banyak kekuatan, banyak wujud, banyak nama.

Maka, Dwi Aksara ini disatukan lagi menjadi Eka Aksara dan dampak dari Eka Aksara ini, maka lahir istilah Sanghyang Eka, yang artinya kekuatan yang bisa menyatukan seluruh kekuatan dan kekuasaan Tuhan menjadi satu atau Eka.

“Hanya pengetahuan Sastralah yang bisa menyatukan seluruh sifat-sifat Tuhan, agar mampu melebur perbedaan yang ada,” tegasnya.

Kemudian, akibat penyatuan ini, lahir kekuatan yang Maha Tunggal, lalu lahir istilah ‘Sanghyang Tunggal’ atau kekuatan Tuhan yang menyatukan seluruh kekuatan Akasa Tri Buana Sapta Loka dan kekuatan Natar Buana Sapta Petala, menyatu menjadi satu atau Tunggal disebut Sanghyang Tunggal. "Sanghyang Tunggal dan Sanghyang Eka itu menyatu lagi menjadi Sanghyang Widhi Wasa, dan inilah yang disebut Tuhan," ulasnya.

Dalam aplikasi umat Hindu di Bali, lanjut Jro Nabe Budiarsa, kekuatan Tuhan dalam wujud Sanghyang Widhi, Sanghyang Tunggal, Sanghyang Eka, dan penyatuan Tuhan di tingkat Tri Buana disebut Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa Suksma Tunggal menjadi satu kesatuan kekuatan kendali bumi dan langit. Dan, dari sini lahirlah Padmasana.

Jadi, Kemulan atau Rong Tiga, Paibon atau Rong Dua, dan Padmasana, adalah tempat pemujaan Tuhan paling sempurna yang merupakan penyatuan dari seluruh sifat Tuhan yang datang dari segala arah. Juga peleburan sifat-sifat Tuhan dari masa ke masa. Dan, kini kita telah sampai di masa Kali Yuga. 

Dikatakan Jro Nabe Budiarsa, di masa Kali Yuga ini adalah masa paling sulit, karena mereka semua adu kemampuan akademik, bukan lagi kemampuan spiritual.  Pengetahuan spiritual hanya dijadikan spirit atau penyemangat atau penunjang dengan berbagai pijakan masa lalu. 

Menurut Jro Nabe Budiarsa, agar dunia tidak tenggelam, maka gunakan cara berpikir Awatara untuk mengatasinya. Agar tidak terjadi perang saudara, gunakan pemikiran Krishna untuk mengatasinya.

Demi menghindari perang saudara, bila menggunakan pikiran Sakuni, maka perang pasti akan berkobar. “Jadi, bukan Awataranya yang harus dibangkitkan, melainkan cara berpikir dan pola tata alam dan wawasanlah yang mesti dipelajari, agar kita tidak perang saudara,” paparnya.

Ditegaskannya, selaku umat Hindu harus menggunakan pola kesadaran. Jika memang sadar diri karena punya konsep membuat aman, nyaman dan tentram, maka pertahankan dengan baik, jangan izinkan orang lain merusak rumah sendiri.

Jika ada orang yang masuk dengan penuh kesadaran, maka rangkul jadikan dia saudara. “Jika ada umat bingung dan kurang sadar, maka sadarkanlah, berikan pengetahuan yang baik dan benar, jangan dikibuli jangan dibohongi, jangan dihianati, jangan disakiti,” tandasnya.

Diakuinya, menyadarkan umat manusia di zaman Kali Yuga ini sangat susah, maka ilmu kesadaran dan cinta kasih wajib dimiliki para pemimpin. Karena itu, jika ingin paham tentang Tuhan yg memenuhi segala penjuru, seisi langit, seluas bumi, sedalam Sapta Petala, maka dapatkan pengetahuan itu di Bali lewat Dasa Aksara dan Kanda Empat.

“Jangan dipelajari secara sektoral saja, tapi pelajarilah secara utuh, seperti melihat gajah dengan mata telanjang. Jangan lihat gajah dengan menutup mata,” tegasnya lagi.

Ia pun mengajak agar sama-sama eling, melek, introspeksi diri, bangkit dari masa lalu untuk membangun masa depan. ”Mari kita bersama menyatukan perbedaan manjadi sempurna. Wasudewa Kutumbakam. Bagaimana pun kita tetap bersaudara, walaupun seperti berbeda.Berbeda menjadi warna kekayaan khasanah budaya Hindu yang universal,” ajaknya.

Dengan demikian, lanjutnya, pada intinya diterangkan Brahma Murti atau Brahma Saraswati Dewi telah melebur sektarian yang memuja unsur api atau mengagungkan kehebatan dan kecerdasan manusia masa depan. Kemudian, Wisnu Murti atau Wisnu Sri Dewi telah melebur sektarian yg memuja unsur air dan kemakmuran umat manusia.

Sedangkan Iswara Murti dan Siwa Murti melebur unsur warna warna perbedaan, melebur unsur kosong atau umat yang percaya dengan Tuhan, tapi tapi tak percaya dengan perwujudan apapun, memuja Tuhan tanpa wujud masuk dalam kelompok Siwaisme.

Ketiganya berstana di Kamulan. Paling Selatan adalah Brahmaisme atau Brahma Saraswati sebagai Brahma Murti. Wisnu Murti atau sekta Waisnawa sang pengendali kemakmuran hidup berada pada ruang Kamulan paling utara, sebagai pengendali kecerdasan agar tepat guna, tepat manfaat, karena manusia yang paling berbahaya adalah manusia yang sakti, pintar, dan cerdas, tapi salah membawa kepintaran dan kecerdasan.

"Selanjutnya, Siwa Murti dan Iswara Murti menyatu di Kamulan rong tengah untuk melebur semua perbedaan dari mana dan bentuk apapun kita berasal,” pungkasnya. 

(bx/adi/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news