Senin, 28 Sep 2020
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

Pandemi Covid-19, Omzet Penjual Jajan Banten Menurun

13 September 2020, 20: 52: 47 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Pandemi Covid-19, Omzet Penjual Jajan Banten Menurun

MENURUN : Jajan Kaliadrem buatan Ni Luh Putu Seriasih. (Dewa Rastana/Bali Express)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS - Daya beli masyarakat menurun drastis akibat pandemi Covid-19 ini. Hal tersebut juga berdampak pada omzet pembuat sekaligus penjual jajanan Bali untuk banten di Banjar Pengembungan, Desa Tegal Jadi, Kecamatan Marga, Tabanan. 

Ni Luh Putu Seriasih, 38, salah satu pembuat dan penjual jajanan Bali untuk banten, menuturkan, menjelang hari raya Galungan dan Kuningan, pesanan dan penjualan jajanan Bali untuk banten, seperti jajan Kaliadrem, jaja uli, gina, gipang, reta hingga matahari yang dibuat memang meningkat dibandingkan hari-hari biasanya.

Namun, kali ini peningkatan yang terjadi tidak seperti menjelang hari raya Galungan dan Kuningan enam bulan  lalu. "Memang meningkat dari hari biasa, tapi tidak seramai waktu Galungan dan Kuningan enam bulan lalu," ungkapnya, akhir pekaan kemarin.

Kata dia, pada hari raya Galungan dan Kuningan sebelumnya peningkatan pesanan sudah terjadi sejak dua bulan sebelum hari raya. Ia bahkan harus menyediakan stok yang banyak agar tidak kewalahan memenuhi pesanan pelanggan.

"Kalau sebelumnya karena pesanan meningkat saya cuma buat jajan Kaliadrem saja, sedangkan jaja gina, uli, atau sirat saya ambil dari tempat lain agar tidak kewalahan," lanjutnya.

Namun kini, sejak pandemi Covid-19 ini, pesanan jajanan Bali untuk banten menurun dengan presentase mencapai 30 persen.  "Selain karena upacara yadnya yang dibatasi, daya beli masyarakat juga berkurang karena pergerakan ekonomi sangat lambat," imbuhnya.

Tak hanya itu saja, banyaknya tempat usaha yang tutup membuat masyarakat memiliki banyak waktu luang sehingga memanfaatkan waktu tersebut untuk membuat jajanan banten sendiri. "Masyarakat yang biasanya membeli jajanan Bali untuk banten jadi punya waktu luang untuk membuat, dan ini berpengaruh juga pada penjualan kami," sambungnya.

Biasanya menjelang hari raya Galungan dan Kuningan dalam satu hari, ia dibantu beberapa orang pekerja untuk mengolah 30 kilogram bahan menjadi jajanan. Namun kini hanya 10 kilogram saja. Atas kondisi tersebut, keuntungan mencapai Rp 7 Juta yang biasa ia dapatkan menjelang hari raya Galungan dan Kuningan, kali ini tak bisa ia raih.

Menurutnya, balik modal saja sudah membuat dirinya bersyukur. Ia mematok harga  jajan buatannya mulai dari Rp 1.000 hingga Rp 2.000.

Agar usahanya tetap berjalan, wanita yang akrab disapa Bu Bella ini, sejak pandemi Covid-19 juga membuat rempeyek. "Tenaga yang lain kita alihkan membuat rempeyek, yang notabene bisa tahan sampai dua bulan," tandasnya. 

-

(bx/ras/rin/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news