Senin, 28 Sep 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Ngalawang, Ruwat Jagat Mengacu Konsep Siwam, Satyam, Sundaram

14 September 2020, 06: 57: 56 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Ngalawang, Ruwat Jagat Mengacu Konsep Siwam, Satyam, Sundaram

NGALAWANG: Prof I Made Bandem dan suasana pementasan tradisi Ngalawang yang berlangsung di jaba Pura Jagatnatha, Denpasar 13 Juni 2018 lalu. (istimewa)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS-Hari Raya Galungan segera tiba, beragam persiapan dilakukan, seperti memasang penjor, ngalawar, dan aktivitas yang berkaitan dengan ritual keagamaan. Selain itu, perayaan Galungan  yang jatuh, Rabu (16/9),  tidak bisa dilepaskan dari satu tradisi yang hampir setiap enam bulan sekali dilakukan, yakni Ngalawang.

Tradisi Ngalawang belakangan lebih cenderung dikenal sebagai media hiburan dengan konsep seni pertunjukan. Seperti diungkapkan Ketua Sekaa Ngalawang Eka Jaya Denpasar, AA Hendra Adiguna, Ngalawang ditunjukkan sebagai aktivitas pertunjukan yang sifatnya hiburan.

“Kami memaknai Ngalawang sebagai salah satu sarana hiburan ketika Hari Raya Galungan,” jelasnya, akhir pekan kemarin.

Jika generasi milenial saat ini memaknai Ngalawang sebagai salah satu wadah melakukan pertunjukan, maka pendapat berbeda diuraikan Pengamat Budaya Prof I Made Bandem.

Menurut Prof Bandem, sejatinya Ngalawang merupakan tradisi pangruwat jagat yang berkaitan dengan ritual agama Hindu,  khususnya dalam ritual kekuatan bhuta kala. “Secara filosofis, Ngalawang bertujuan menetralisasi kekuatan bhuta agar menjelma kekuatan dewa,” jelas mantan Rektor STSI Denpasar (ISI Denpasar) ini.

Dalam aktivitas Ngalawang, lanjut  Prof Bandem, menggunakan Barong, karena merupakan simbol kekuatan dewa yang hendak menyucikan dunia, khususnya dari kekuatan jahat dan wabah penyakit.

Barong yang digunakan bisa beragam dan disesuaikan dengan kepercayaan yang ada di desa adat masing-masing, seperti Barong Menjangan, Barong Kedingkling, yang berfungsi sebagai simbol pengusir butha kala.

Selain menggunakan Barong, aktivitas Ngalawang juga menggunakan tapel dan gambelan yang memiliki kekuatan spiritual, sehingga berfungsi sebagai pangelruwat jagat. Simbolnya adalah dengan melakukan kirab berbagai Barong yang dimiliki desa adat yang ada di Bali, seperti Barong Macan, Barong Bangkung, Barong Kedingkling, Wayang Wong, dan lain sebagainya.

Tradisi Ngalawang ini dilakukan mulai Hari Raya Galungan (Buda Kliwon Dunggulan) hingga Buda Kliwon Pahang. Pada rentang waktu tersebut, disebutkannya, sangat tepat dilakukan ritual Ngalawang karena pada rentang waktu ini umat Hindu di Bali melakukan serangkaian ritual keagamaan.

Sehingga pada hari perayaan tersebut, selain diisi dengan kegiatan ritual, juga diisi dengan aktivitas hiburan. “Pada rentang waktu tersebut juga dilakukan upacara besar. Maka harus dilakukan penyucian bumi dari bhuta kala yang memiliki sifat negatif, dengan Barong yang merupakan manifestasi dari Tuhan dalam bentuk kebendaan yang sudah dipasupati atau disucikan,” urainya.

Terkait dengan pemberian punia kepada mereka yang Ngalawang, lanjut Prof Bandem, karena adanya adopsi budaya pementasan sirkus China pada abad VII sampai dengan abad ke X. 

Sedangkan fungsi lain dari Ngalawang, yakni sebagai media pendidikan kepada anak-anak. Karena aktivitas Ngalawang ini identik dengan anak-anak, baik sebagai penari dan penabuh. 

“Biasanya serangkaian hari raya Galungan, anak-anak sekolah kan libur, jadi untuk mengisi waktu libur ini, dibentuklah kelompok Ngalawang,” lanjutnya.

Dalam kelompok Ngalawang ini, anak-anak tersebut, biasanya akan dilatih untuk mengenal kesenian daerahnya. Selain itu, anak-anak ini juga bisa bermain untuk mengisi waktu liburan.

Selain dari sisi filosofi, lanjut Prof Bandem, tradisi Ngalawang juga bisa dilihat dari sisi idiologinya, karena Ngalawang harus berpatokan pada Siwam, Satyam, dan Sundaram. Yang artinya kesucian, etika, dan keindahan. Sehingga dalam penampilannya, Ngalawang harus memiliki keindahan, baik dari segi gerak tarian dan keindahan ritme dari tetabuhan yang digunakannya, etika pementasan, dan kesucian properti yang digunakan untuk Ngalawang.

Pada waktu kirab, Barong yang digunakan Ngalawang memang bisa diberikan sesajen sebagai wujud syukur masyarakat. Sehingga 'lungsuran' dari prani (makanan dan buah yang usai dipersembahkan) tersebut bisa dinikmati orang yang mementaskan Barong. “Hal itu wajar, karena penari ini dizinkan untuk menikmati lungsuran dari persembahan tersebut,” pungkas Prof Bandem.

(bx/gek/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news