Selasa, 20 Oct 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Fenomena Halo Matahari, Pertanda Sang Hyang Kartika Usir Pandemi

27 September 2020, 18: 08: 30 WIB | editor : Nyoman Suarna

Fenomena Halo Matahari, Pertanda Sang Hyang Kartika Usir “Merana”

HALO MATAHARI: Fenomena Halo Matahari kembali terlihat di langit Bali, Minggu (27/9) siang. (KETUT ARI TEJA/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS ­– Fenomena Halo Matahari kembali terlihat di langit Bali. Sebelumnya, fenomena ini pun sempat terjadi pada 10 Maret 2020. Dari beberapa foto yang beredar di dunia maya, tampak matahari bersinar cerah dengan awan tipis di sekitarnya. Selain itu, matahari tampak berada dalam sebuah lingkaran yang bercahaya, yang merupakan bias dari cahaya matahari. Lingkaran berupa cincin di bagian luar matahari tersebut memiliki diameter yang lebih besar. Jika dilihat dari sisi spiritual, fenomena Halo Matahari yang terjadi ini dipercaya sebagai hari baik untuk memulai segala sesuatu.

Menurut Pandita Mpu Putra Yoga Parama Daksa dari Griya Agung Batur Sari, Banjar Gambang, Mengwi, Badung, fenomena ini disebut dengan bulan kartika. Pada bulan ini biasanya umat Hindu memuja Sang Hyang Kartika. “Kartika itu adalah anaknya Dewa Siwa yang bersifat mengusir hal-hal negative, termasuk merana ini (pandemi). Kalau di India, pemujaannya disebut dengan Nawaratri (pemujaan terhadap alam semesta),” kata dia.

Mpu Yoga menambahkan, belum ditemukan dalam lontar mengenai fenomena Halo Matahari. Namun secara umum dalam perbintangan, pada saat terjadinya peristiwa ini, hendaknya umat menyematkan doa untuk kesejahteraan alam. “Dalam lontar masih belum ditemukan yang membahas ini. Tapi ada baiknya saat terjadi peristiwa ini kita dapat berdoa sejenak untuk keseimbangan alam,” tambahnya.

Namun sesungguhnya, fenomena Halo Matahari merupakan fenomena langka yang muncul pada waktu tertentu. Tidak ada tanda-tanda khusus yang mencirikan akan munculnya fenomena ini. Biasanya, jika terjadi peristiwa ini, cuaca akan cerah serta awan tipis menghiasi langit. Tidak ada dampak yang ditimbulkan oleh fenomena ini.  Halo Matahari hanya fenomena optis. Selain itu juga sebagai pertanda bahwa cuaca akan baik beberapa jam ke depan. Karena tidak ada awan rendah dan menengah yang berpotensi menimbulkan hujan.

Dikonfirmasi terpisah, Bidang Analis Data Astronomi dan Gempa, BMKG Wilayah III Denpasar, Deddy Pratama menjelaskan, fenomena Halo Matahari disebabkan adanya awan tipis di ketinggian sekitar 9.000 meter. Biasanya jenis awan cirrus stratus. Peristiwa ini bisa terjadi siang dan malam hari, jika awan ini menutupi matahari dan atau bulan. "Umumnya terjadi siang hari atau malam. Tanpa dihalangi awan rendah dan menengah. Jika menutupi matahari dapat menimbulkan pelangi," jelasnya.

Cahaya matahari direfleksikan dan dibiaskan oleh permukaan es yang berbentuk batang atau prisma sehingga sinar matahari menjadi terpecah ke dalam beberapa warna karena efek dispersi udara dan dipantulkan ke arah tertentu, sama seperti pelangi.

Deddy menambahkan, dari pantauan citra satelit, awan tipis ini menutupi hampir seluruh wilayah Bali. "Fenomena ini dapat di lihat dari sebagian besar wilayah di Bali, tapi tidak seluruhnya," sambungnya.

Ia menjelaskan, Halo Matahari merupakan fenomena biasa yang merupakan fenomena optis dengan  keluarnya lingkaran cahaya baik di sekitar matahari maupun bulan. Fenomena ini pun tidak ada kaitannya dengan pertanda bencana seperti gempa bumi atau yang lainnya.

Selain terjadi dalam bentuk lingkaran penuh dengan bagian piggir lingkaran berbingkai warna pelangi, Halo Matahari juga bisa berbentuk setengah lingkaran dengan pusat cahaya matahari.

(bx/dhi/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news