Selasa, 20 Oct 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Positif Covid-19, Putri Suastini Koster Keliling Bagikan Kue

27 September 2020, 21: 00: 14 WIB | editor : Nyoman Suarna

Positif Covid-19, Putri Suastini Koster Keliling Bagikan Kue

POTONG RUMPUT : Selalu ada aktivitas yang dilakukan Putri Suastini Koster sejak menjalani karantina di Wisma Pering. Agar tidak suntuk, dia bagi-bagi kue sampai dengan potong rumput. (ISTIMEWA)

Share this      

Menjalani karantina karena positif Covid-19 tidak membuat istri Gubernur Bali, Ni Putu Putri Suastini Koster panik atau kalut. Malah sebaliknya, dia sudah siap sedari awal. Pada Minggu (27/9), menjadi hari kelima baginya menjalani karantina. Seperti apa ceritanya?

BELUM lama ini Putri Koster membagikan videonya melalui akun Instagramnya. Ia menceritakan dirinya sedang menjalani karantina karena positif Covid-19. Itu pun dengan status sebagai orang tanpa gejala atau OTG.

Dia mengaku menjalani karantina di Balai Pendidikan dan Pelatihan Pemeriksaan Keuangan Badan Pemeriksa Keuangan (PKN BPK) di Wisma Pering, Gianyar.

Minggu (27/9) dia bercerita soal video yang berdurasi sekitar 13 menit lebih itu. Dia memandang dengan cara itulah dia bisa berbagi. Khususnya pengalaman menjalani karantina sebagai seorang OTG. Sebatas apa yang dia lihat, rasakan, dan amati.

 “Tujuan saya buat video itu ya testimoni. Saya hanya menyampaikan apa yang saya rasakan. Saya lihat, saya amati. Karena pengetahuan saya juga kan sepotong-sepotong,” tutur Putri Koster dalam obrolan singkat, Minggu siang.

Lewat video itu, sambungnya, dia ingin memberikan edukasi kepada orang lain bahwa Covid-19 itu bisa menginfeksi siapa saja. Namun yang paling penting dan harus diingat adalah ketenangan saat mengetahui positif Covid-19.

 “Justru saya di sini (di tempat karantina) dapat ketenangan. Makanya saya terpancing buat video. Harus berbagi nih. Kuncinya ketenangan. Jangan serem-serem. Sambil mengingatkan bahwa protokol kesehatan harus tetap dilaksanakan secara disiplin. Dan sekarang ini klaster keluarga itu sudah ada,” tegas Ketua TP PKK Provinsi Bali ini.

Selama lima hari menjalani karantina, Suastini Koster mengaku tidak ada rasa bosan atau suntuk. Sama seperti peserta karantina lainnya, yang menurutnya, ada sekitar sepuluhan orang, dia melakoni program yang diberikan untuk menunjang daya tahan tubuh. Sehingga virus yang hinggap di tubuhnya segera lenyap.

 “Kalau di sini, saya ikut apa yang diprogramkan rutin setiap hari. Paling, pagi hari saya ikut sarapan dengan yang lainnya. Kemudian ikut anjuran berjemur. Yang kumpul di sini kan OTG. Fisik tubuhnya sehat. Tapi dalam tubuhnya kebetulan ada virus,” tukasnya.

Dari obrolan dengan sesama penghuni karantina, dia mendengar cerita ada juga yang sebagian indera penciumannya mendadak hilang. Atau, saat mengecap makanan, tidak merasakan apapun. Menurut dia, itu sudah termasuk orang dengan gejala atau ODG. “Cuma fisik mereka masih kuat,” beber perempuan yang gemar menulis puisi ini.

Menurutnya, kesempatan berjemur pada pagi hari menjadi kesempatan dirinya untuk berinteraksi dengan sesama peserta karantina. Kemudian di sore hari, dia mengikuti terapi uap ramuan campuran arak dan minyak kayu putih dengan menggunakan nebulizer.

 “Yang ramuannya diracik Profesor Gelgel (Ketua Peneliti Riset Ramuan Arak, Prof I Made Agus Gelgel Wirasuta). Berapa di antara kami ada mengaku plong. Saya kurang paham apa pemicunya. Kemudian untuk ditubuh ya diurapi dengan minyak kayu putih. Ini yang bikin tidur nyenyak,” tuturnya.

Masih mengenai aktivitas mengisi waktu, Putri Suastini juga kadang keliling kamar peserta karantina lainnya. Ini dia lakukan untuk membagi-bagikan kue. Kebetulan sejak masuk karantina, kiriman kue yang ditujukan kepadanya banyak sekali.

 “Daripada banyak tidak ada yang makan. Saya gedor pintu peserta karantina yang lain. Saya bawakan kue, piring, dan sendoknya. Kan nggak apa. Sesama orang yang positif. Karena kebiasaan itu, ada guyonan di antara kami, katanya tumben-tumbennya dilayani istri Gubernur,” tuturnya sambil tertawa.

Di luar itu, terkadang dia masih mengerjakan tugas-tugasnya. Entah itu sebagai Ketua TP PKK Provinsi Bali, Paiketan Krama Istri, dan organisasi lainnya yang dia pimpin dalam kapasitas sebagai istri gubernur.

 “Kadang masih koordinasi urusan kerjaan. Kalau tidak ada ya video call dengan adik-adik atau keluarga di rumah. Tapi penting juga saya sampaikan, tanpa mengurangi rasa hormat, terima kasih untuk teman-teman atau siapa saja yang mengirimkan karangan bunga. Bikin puisi untuk saya. Bahkan ada yang bikin lagu,” sambung perempuan yang aktif di dunia kesenian ini.

Pun demikian saat hari raya Kuningan, dia melaluinya dengan melakukan doa sederhana, tanpa sarana. Karena kebetulan salah seorang keluarga dalam satu dadianya ada yang meninggal dunia. “Jadi sembahyangnya berdoa saja. Kepada leluhur. Kepada Batara Hyang Guru,” ungkapnya.

Dia lantas menuturkan kalau sejak awal dirinya sudah siap bila sewaktu-waktu positif terpapar. Mitigasi untuk dirinya sendiri itu sudah dia bangun sejak pandemi Covid-19 di Bali melanda.

 “Segala sesuatunya sudah saya siapkan dari awal. Dari yang terbaik sampai yang terburuk. Karena ini kan pandemi. Kalau saya positif, apa yang harus saya lakukan. Pertama itu ya berusaha tenang. Menjaga pikiran tetap positif. Saya di mana saja orangnya bisa adaptasi,” ujarnya.

Soal cerita bagaimana awal mula dirinya mengetahui positif Covid-19 juga dia tuturkan. Katanya, itu berawal saat dilakukannya swab di Jaya Sabha, Selasa (22/9). Kebetulan waktu itu akan ada pertemuan. Sehingga semuanya mesti menjalani swab. Rupanya hasil swabnya positif, namun dia tanpa gejala.

“Suami saya sempat ragu mau memberitahukan ke saya. Tapi saya kan sudah siap dari awal. Jadi saya yakinkan, saya tidak apa-apa. Sempat mau diarahkan ke ruang VIP di Rumah Sakit Sanglah sana. Tapi saya bilang, nggaklah. Di Pering saja,” tutur Suastini Koster menceritakan reaksi suaminya Gubernur Koster saat mengetahui hasil swab dirinya positif.

Waktu masuk ke Wisma Pering, dia mengaku tidak seorang diri. Karena pada hari yang sama, delapan dari 12 pramusaji di Jaya Sabha, hasil swabnya positif.

 “Mungkin karena terbawa tugas ya, jadi sampai di sini mereka (para pramusaji) ada yang lap-lap meja, ngepel. Lupa kalau mereka lagi dikarantina. Eh tahu-tahunya, dua sampai tiga hari, mereka sudah negatif semua,” ceritanya sambil tertawa.

Karena itu, dia mewanti-wanti, menjaga ketenangan dan membangun pikiran positif akan sangat membantu mempertahankan daya tahan tubuh atau imunitas. “Saya sampai punya jargon di sini. Di tempat karantina ini. Saya bagikan ke peserta lainnya. Berpikirlah yang positif, supaya cepat negatif,” celetuknya.

Lantaran tidak merasa bosan atau suntuk, Suastini Koster memilih menolak untuk swab kedua. Harusnya, tiga hari setelah menjalani karantina, dia mesti menjalani swab kedua. Ini dia lakukan sembari memastikan dirinya benar-benar sudah pulih total. Virus yang ada di tubuhnya benar-benar sudah luruh.

 “Saya bilang ke dokter, saya kan baru tiga hari di sini. Semestinya sudah swab dua hari lalu dan kemarin sudah pulang. Saya anggap, sekarang ini saya lagi cuti,” katanya saat menolak untuk diswab kedua kalinya.

Dia juga bercerita, di keluarganya bukan hanya dirinya yang positif. Salah seorang anaknya juga sempat mendapati hasil swab yang sama. Bahkan dengan gejala klinis yakni demam sehingga sempat diisolasi di Rumah Sakit Bali Mandara.

 “Sudah duluan (positif). Waktu itu disertai dengan gejala. Panas dingin. Hasil swabnya positif. Karena demam dibawa ke Rumah Sakit Bali Mandara untuk isolasi. Pas Umanis Galungan dia sudah balik setelah hasil swabnya negatif,” bebernya.

Selain melalui video yang sudah sempat dia sebarkan di media sosial, Suastini Koster juga berpesan untuk menyudahi stigma terhadap masyarakat yang positif terpapar Covid-19. Menurutnya, siapapun bisa terpapar virus ini. Tanpa melihat posisi atau kedudukan orang. Terlebih ini merupakan penyakit yang bersifat pandemi.

 “Di sini yang paling penting adalah saling menerima dan mengerti. Yang positif mesti memahami kondisinya berisiko menularkan. Dan yang lain juga harus bisa menerima dan memberikan support. Ini yang perlu ditumbuhkan di situasi seperti ini. Kekalutan, kepanikan, atau ketakutan itu hanya bikin imunitas ngedrop. Justru mereka yang sudah pernah positif, akan punya antibodi. Paling tidak untuk tiga bulan ke depan,” pungkasnya.

(bx/hai/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news