Selasa, 20 Oct 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
Pura Mandara Giri Semeru Agung Lumajang

Dibangun Berdasarkan Pawisik, Dipilih karena Bau Tanah Harum

28 September 2020, 09: 01: 54 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Dibangun Berdasarkan Pawisik, Dipilih karena BauTanah Harum

CANDI : Candi Waringin Lawang, bangunan khas Kerajaan Majapahit, berdiri megah dan kokoh di pintu masuk pura (kiri). Padmasana Pura Mandara Giri Semeru Agung sebagai stana Hyang Siwa Pasupati. (Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

LUMAJANG, BALI EXPRESS-Pura Mandara Giri Semeru Agung Lumajang, memang tak begitu asing bagi umat Hindu di Nusantara. Pura yang terletak di Desa/Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang ini, bisa dikatakan sebagai pura terbesar di kawasan Jawa Timur.

Namun, proses mewujudkan pura megah seluas 1,4 hektare ini membutuhkan waktu yang tidak singkat di tengah keterbatasan dana. Konon, tanah di areal pura ini berbau wangi.

Kemegahan Pura Mandara Giri Semeru Agung memang semegah namanya. Posisinya persis berada di pinggir jalan. Candi Waringin Lawang yang merupakan bangunan khas Kerajaan Majapahit dengan warna merah bata, nampak megah dan kokoh di pintu masuk pura. Suasana hijau nan asri begitu terasa saat menginjakkan kaki di areal pura ini.

Namun, ketika kaki lebih jauh melangkah masuk ke areal madya mandala dan utama mandala, rupanya arsitektur Bali begitu kental. Mulai dari candi bentar, wantilan jejeran palinggih dan wantilan. Semua mengikuti arsitektur Bali. Maklum, pura ini diarsiteki oleh Ir. Nyoman Gelebet.

Bali Express (Jawa Pos Group) pun sempat bertemu dengan Ketua PHDI Lumajang, Jawa Timur, Edy Sumianto, 50, menjelaskan, umat Hindu di kawasan Semeru sejatinya sejak 1969 silam berangan-angan bisa mendirikan pura di lambung timur Gunung Semeru.

Impian itu seolah begitu sulit diwujudkan. Izin pendirian tak mudah didapat. Dana pembangunan tidak gampang dikumpulkan. Terlebih kondisi ekonomi umat Hindu di kawasan Semeru kala itu sangat tidak memungkinkan.

Gayung bersambut. Impian umat Hindu di Semeru memiliki pura rupanya mendapat respon dari tokoh Hindu di Bali, yang kala itu nuur tirta (memohon air suci) ke Patirtaan Watu Klosot di kaki Gunung Semeru. Tirta itu terkait Karya Agung Eka Dasa Rudra di Pura Besakih, Karangasem pada tahun 1979.

Pembangunan pura di Kaki Gunung Semeru diwacanakan oleh panglingsir Puri Agung Ubud Ida Tjokorda Gede Sukawati (sudah lebar). Bahkan wacana itu muncul sejak tahun 1963. Pertimbangannya, karena kerap umat Hindu di Bali nuur tirta ke Patirtaan Watu Klosot di kaki Gunung Semeru untuk digunakan saat upacara berskala besar di Bali.

Perjalanan jauh yang ditempuh dari Bali ke Semeru hingga memakan waktu selama 11 jam, kerap membuat pamedek bermalam di kawasan Lumajang. Persoalannya, karena pamedek nangkil sembari nuur tirta, maka tentu harus ada tempat suci sebagai tempat untuk menstanakan tirta sementara waktu.

“Dengan dasar itu, maka dipandang perlu untuk membangun pura di kawasan Semeru. Apalagi Gunung Semeru sebagai gunung tertinggi di tanah Jawa sangat disucikan. Bahkan, sudah diungkap dalam susastra Negara Kertagama,” terang Edy kepada Bali Express (Jawa Pos Group), belum lama ini.

Waktu berjalan. Tahun 1986 niat umat di Semeru mewujudkan pura kembali membuncah. Tepat setelah PHDI Kabupaten Lumajang terbentuk. Bahkan, pembangunan pura di kawasan Semeru, sebut Edy, menjadi program kerja PHDI Lumajang.

Awalnya bukan pura yang dibangun. Tetapi Sekretariat Parisada Kabupaten Lumajang. Kemudian kedatangan tokoh-tokoh dari Bali yang hendak ke Patirtaan Watu Klosot untuk mendak (menjemput) tirta serangkaian dengan upacara di Besakih, dimanfaatkan bertemu dengan para tokoh Hindu di Lumajang.

Dalam pertemuan itu, kemudian ada kesepakatan jika tokoh dari Bali siap membantu mewujudkan pembangunan pura di Kabupaten Lumajang. Terlebih hubungan Bali dan Lumajang sangat erat.

Pasalnya, keberadaannya Gunung Semeru kerap dikaitkan dengan cerita kuno di Tantu Pagelaran. Konon disebutkan bahwa Gunung Semeru adalah potongan dari Gunung Mahameru di India yang dipindahkan ketika Pulau Jawa belum stabil.

Pun demikian ketika Bali belum stabil, konon ujung Gunung Semeru juga dibawa ke Bali dan menjadi Gunung Agung dan Gunung Batur, bahkan hingga ke Lombok yaitu Gunung Rinjani.

“Atas dasar itulah, tokoh di Bali sepakat untuk membantu. Sehingga ketika ada nuur tirta di Watu Klosot dan akan dibawa ke Bali, maka tirta terlebih dulu distanakan di Pura Lumajang,” imbuhnya.

Kendati sudah ada kesepakatan, namun pembangunan pura tak serta merta langsung bisa dilakukan. Semula, pura direncanakan hendak dibangun di Desa Ngandangan. Namun, belum terwujud lantaran lokasinya dinilai tidak cocok. Bahkan, ada beberapa lokasi yang muncul sebagai alternatif pendirian pura. Yakni Desa Kertosari dan Senduro.

“Dari ketiga lokasi itu sempat ditolak. Misalnya lokasi di Desa Kertosari sempat ditolak umat karena sering menjadi jalur lahar Gunung Semeru. Kemudian di Desa Ngandangan karena terkendala akses jalan. Sedangkan di Senduro (agak bawah) lokasinya sempit,” bebernya.

Hinga akhirnya disepakati, di Desa Senduro bagian atas yang menjadi lokasi tetap Pura Mandara Giri Semeru Agung dengan luas areal awalnya 20 x 60 meter.

Sesuai pawisik (petunjuk niskala), bahwa bau tanah di areal pura ini berbau wangi. Lahan ini dibeli dari dana punia donatur dan umat Hindu di Lumajang. Izin pembangunan diajukan kembali dan turun tiga tahun kemudian.

Pura dibangun bertahap. Setelah batu bata dibeli, Padmasana kemudian dibangun, menghadap ke timur. Anehnya, tidak bisa dituntaskan. Kemudian posisi digeser agak ke utara dengan tetap menghadap ke Timur. Namun tetap tidak bisa dituntaskan. Hingga akhirnya umat mendapat pawisik agar Padmasana dihadapkan ke selatan. "Sejak itulah pembangunan lancar dan punia mengalir dari umat Hindu di Bali maupun di luar Bali. Arsitekturnya Nyoman Gelebet,” bebernya.

Pembangunan Pura Mandara Giri Semeru Agung, sebut Edy, kian lancar setelah rombongan dari Bali, yakni Panglingsir Puri Ubud Tjokorda Gde Agung Suyasa (sudah lebar) bersama Jro Gede Batur Alitan, Mangku Suweca dari Besakih, tahun 1989 ketika nuur tirta ke Semeru. Rombongan kemudian bertemu tokoh dari Semeru untuk membahas rencana pengembangan pura.

Kemudian bertepatan Minggu Umanis, Wuku Menail, tepatnya 8 Maret 1992 yang dipimpin delapan pendeta, digelarlah untuk pertama kalinya upacara Mlaspas Alit dan Mapulang Dasar Sarwa Sekar.

Selanjutnya pada Purnama Sasih Kasa, tepatnya 3 Juli tahun 1992 dilaksanakan upacara besar berupa Pamungkah Agung, Ngenteg Linggih dan Pujawali. “Setelah itu pula ditetapkan sebagai Pura Kahyangan Jagat,” jelasnya.

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news