Selasa, 20 Oct 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
Pura Mandara Giri Semeru Agung Lumajang

Nama Semeru Agung Petunjuk Anak Kecil Karauhan Tiga Hari

28 September 2020, 09: 07: 59 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Nama Semeru Agung Petunjuk Anak Kecil Karauhan Tiga Hari

ASRI : Pangempon Pura Mandara Giri Semeru Agung, Jro Mangku Murtiasa, 52. Kawasan pura yang sejuk dan asri. (Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

LUMAJANG, BALI EXPRESS-Sebagai Kahyangan Jagat, Pura Mandara Giri Semeru Agung di Desa/Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur,  

selalu ramai dikunjungi pamedek untuk bersembahyang. Tidak hanya dari Pulau Jawa dan Bali. Pura ini juga menjadi acuan bagi penekun spiritual, utamanya umat Hindu Nusantara.

Pangempon Pura Mandara Giri Semeru Agung, Jro Mangku Murtiasa, 52, menuturkan, di Pura Mandara Giri Semeru Agung berstana Hyang Siwa Pasupati dengan palinggih Padmasana yang berada di Jeroan Pura. Padmasana ini memiliki tinggi sekitar 30 meter.

Ia menjelaskan, saat umat Hindu di Bali yang hendak nuur tirta (memohon air suci) di Patirtan Watu Klosot, kaki Gunung Semeru untuk sarana upacara besar di Bali, wajib menstanakan tirta terlebih dulu di Pura Mandara Giri, sebelum dibawa ke Bali. Bahkan, wajib hukumnya tirta tersebut dipasupati.

“Meskipun tirta diperoleh langsung dari Patirtaan Watu Klosot, maka wajib untuk dipasupati di Pura Mandara Giri. Kalau tidak dipasupati, maka bisa dikatakan tidak sah,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) beberapa waktu lalu.

Saat pujawali, Pura Mandara Giri juga kerap dipadati pamedek. Bahkan, prosesi ngaturang panganyar dan panitia berasal dari Bali.  “Tiap tahun saat pujawali Purnama Sasih Kasa semua dari Bali. Termasuk dari panitia, provinsi hingga kabupaten ngaturang panganyar di Pura Mandara Giri Semeru Agung,” imbuhnya.

Pria yang ngayah hampir 35 tahun di Pura Mandara Giri ini, menambahkan, banten dan sarana upakara saat pujawali digelar juga dikombinasikan dengan budaya Jawa dan Bali.

“Tapi sejak pandemi Covid-19 kami memang tidak melaksanakan pujawali. Jadi, hanya umat Hindu di sekitar Senduro saja yang melakukan pemujaan karena ada batasan. Kalau Galungan dan Kuningan hanya warga sekitar saja yang sembahyang,” tutupnya. 

Lalu, kenapa akhirnya dinamai Pura Mandara Giri Semeru Agung? Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Lumajang, Jawa Timur, Edy Sumianto, 50, mengatakan, terkait penamaan awalnya pura ini hanya bernama Mandara Giri saja. Namun akhirnya namanya ditambahkan lagi. Karena ada seorang anak kecil yang masih duduk di bangku sekolah dasar karauhan (trance) selama tiga hari pada tanggal 15-17 Desember 1992.

Dalam pawisik (petunjuk niskala), lanjut Edy, anak itu meminta agar Pura Mandara Giri ditambahkan kata 'Semeru Agung'. Sejak itu pula nama pura menjadi Pura Mandara Giri Semeru Agung.

“Yang berstana di Padmasana Pura Mandara Giri Semeru Agung adalah Hyang Siwa Pasupati. Pujawalinya setiap Purnama Sasih Kasa. Panyungsungnya di Lumajang sekitar 7.160 umat Hindu. Biasanya selama nyejer 11 hari saat pujawali, bisa mengumpulkan dana punia hingga Rp 1 miliar,” pungkasnya. 

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news