Senin, 30 Nov 2020
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

Sugar Glider, Mamalia Cerdas Penyuka Makanan Manis, Bernilai Ekonomis

28 September 2020, 19: 13: 10 WIB | editor : Nyoman Suarna

Sugar Glider, Mamalia Cerdas Penyuka Makanan Manis, Bernilai Ekonomis

SUGAR GLIDER : Mamalia Sugar Glider mulai dilirik penghobi karena bernilai ekonomis. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

Hewan mamalia yang terkenal dengan kecerdasannya adalah simpanse dan lumba-lumba. Selain spesies tersebut, ternyata ada juga hewan cerdas lainnya yang karakternya dapat dibentuk sejak usia dini. Hewan tersebut disebut Sugar Glider. Hewan ini termasuk dalam golongan possum. Hewan dengan ukuran tubuh yang kecil ini sangat cerdas dan menggemaskan. Banyak orang tertarik memelihara hewan ini karena tingkahnya yang lucu dan menghibur.

SUGAR Glider merupakan jenis hewan marsupial (mamalia berkantung) seperti Kangguru dan Koala yang memiliki kantung di bagian depan perut betina. Hewan ini juga hidup nokturnal yakni hewan yang cenderung aktif pada malam hari. Nama Sugar Glider berasal dari kebiasaannya yang cenderung menyukai makanan manis. Sugar berarti gula, glide berarti meluncur. Hewan ini dapat terbang dari satu tempat ke tempat lain. Hal itu disebabkan karena Sugar Glider memiliki selaput tebal di antara kaki-kainya yang menempel di bagian badan. Itulah yang difungsikan sebagai sayap dan digunakannya untuk meluncur berpindah tempat. Ekornya yang panjang digunakan sebagai penyeimbang ketika meluncur.

Salah satu penghobi Sugar Glider, Dewangga Ibnu Hafrizal menuturkan, ketertarikannya memelihara Sugar Glider berawal dari melihat tingkat hewan ini yang dipandang lucu dan menggemaskan. Maka sejak tahun 2017 ia memuuskan untuk memelihara hewan ini hingga beranak-pinak. Karena anakan hewan ini sudah banyak, mulai pertengahan tahun 2018, ia membuka bisnis kecil-kecilan dengan menjual anakan dari Sugar Glider yang dipeliharanya. “Karena banyak, akhirnya kami jual. Soalnya setiap tiga bulan hewan ini ada yang berkembangbiak. Lumayan kan, setiap beranak itu dua  ekor,” ucapnya saat ditemui di Perumahan TNI AD Yang Batu, Denpasar.

Pria yang bertugas di bagian inspektorat Kodam IX Udayana ini juga menjelaskan, saat ini ia masih memelihara 20 pasang Sugar Glider. Satu ekor Sugar Glider dibanderol dengan harga Rp 600 ribu hingga Rp 3,6 juta. Kisaran harga tersebut tergantung jenis dari Sugar Glider dan juga motif bulu yang dimiliki. “Yang paling mahal pernah saya jual Rp 3,6 juta. Itu ukurannya besar, gemuk dan lucu banget kalau dilihat. Motifnya juga bagus,” kata dia.

Ibnu menyampaikan, tidak sulit untuk merawat Sugar Glider. Cukup diberikan pakan secara rutin dan sesuai porsi. Begitu juga kebersihan kandang harus dijaga agar tak menimbulkan bau yang menyengat. Selain itu, kebersihan badan Sugar Glider juga harus diperhatikan agar tidak menimbulkan perubahan pada bulu. “Gampang kok peliharanya. Cukup kasi makan aja dengan teratur. Hewan ini sukanya yang manis-manis. Kalau saya biasa kasih makan bubur SUN. Bubur untuk bayi itu. Kukunya saya potong juga supaya tidak melukai, tapi tidak dipotong semuanya. Kalau selesai mandi tidak usah digosok terlalu keras atau pakai pengering. Biarkan dia kering sendiri. Kalau yang masih kecil, cukup dilap pakai tisu basah. Kalau gak dibersihkan, nanti bulunya bisa jadi berubah warna karena kotorannya nempel,” jelanya.

Sangat diperlukan kesabaran dalam memelihara Sugar Glider ini, karena memiliki waktu adaptasi yang cukup lama. “Proses penjinakannya bisa sampai berbulan-bulan ini. Gak bisa satu dua hari gitu,” tuturnya.

Sebelum pandemi, Ibnu kerap memamerkan Sugar Glider ini saat acara Car Free Day setiap hari Minggu. Tujuannya untuk memperkenalkan Sugar Glider kepada masyarakat bahwa hewan ini tidak berbahaya. Begitu juga sebaliknya, mengenalkan lingkungan kepada Sugar Glider bahwa manusia bukan ancaman bagi mereka. “Sesekali ajak keluar juga, jalan-jalan. Kenalin ke lingkungan kalau hewan ini gak bahaya dan hewan ini juga tidak sangar ke manusia,” ujarnya.

Meskipun perlu disesuaikan dengan lingkungan tempat tinggal manusia, hewan ini sangat rentan terhadap cahaya. Apabila terkena cahaya matahari berlebih, mata dari hewan ini akan bermasalah. “Kalau kena cahaya nanti dia bisa katarak. Matanya putih semua nanti. Kalau cahaya lampu masih bisa. Tapi ga yang terlalu terang juga,” kata Ibnu.

Adapun jenis-jenis Sugar Glider yang dimiliki Ibnu seperti Classic Grey, Mozaic dan Leucistic. Untuk Classic Grey memiliki warna abu-abu. Garis punggungnya hitam dan perut bawahnya berwarna putih. Meski standar, banyak yang tertarik pada jenis ini. Karena warna bulunya yang mencolok dan manis. Selain itu, jenis ini juga membawa genetika ganda.

Sementara untuk Mozaic, warna dan polanya terlihat acak. Itulah yang menjadi keunikan dari jenis ini. Pola yang dimiliki Sugar Glider jenis Mozaic ini juga sebagai penentu harga ketika akan dijual. Semakin unik polanya, semakin mahal harganya.

Sedangkan untuk jenis Leucistic memiliki bulu putih bersih di seluruh tubuhnya. Mata dari jenis hewan ini berwarna hitam pekat serta hidung berwarna merah muda.

(bx/dhi/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news