Sabtu, 28 Nov 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Pinandita Wiwa, Ibarat Ulat Bakal Jadi  Kupu-kupu

30 September 2020, 09: 49: 35 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Pinandita Wiwa, Ibarat Ulat Bakal Jadi  Kupu-kupu

AGURON-GURON: Calon Pinandita Wiwa diberikan pelatihan, termasuk patanganan dan penggunaan genta di Griya Agung Bangkasa. Jro Pinandita Wiwa Sugata Yadnya Manuaba (kanan). (istimewa)

Share this      

MANGUPURA, BALI EXPRESS-Pamangku atau pinandita adalah salah satu orang suci dalam agama Hindu, khususnya di Bali. Pamangku memiliki kewajiban dan memimpin upacara agama, namun kewenangannya dibatasi oleh aturan atau sesana.

Pamangku atau pinandita jenisnya banyak. Berdasarkan kewenangan,  ada pamangku yang tugasnya terbatas di keluarga atau merajan. Ada yang berwenang hingga pura paibon. Ada juga pamangku Kahyangan Tiga yang masing-masing bertugas di Pura Desa, Puseh, dan Dalem. Ada pamangku yang bertugas di Pura KahyanganJagat, Dang akahyangan, dan lainnya.

Nah, khusus di Griya Agung Bangkasa, ada istilah Pinandita Wiwa. “Pinandita Wiwa adalah pinandita setingkat Jro Mangku Gede. Namun, kewenangannya di bawah Bhawati dan diizinkan menggunakan patanganan atau astra mantra jangkep,” ungkap Jro Pinandita Wiwa Sugata Yadnya Manuaba, Selasa (29/9) kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Pinandita Wiwa, Ibarat Ulat Bakal Jadi  Kupu-kupu

WINTEN: Calon Pinandita Wiwa mengikuti prosesi pawintenan di Griya Agung Bangkasa (istimewa)

Dijelaskan putra biologis mendiang Ida Sinuhun Siwa Putra Prama Daksa Manuaba ini, Pinandita Wiwa memiliki aguron-guron yang jelas. Kemudian dalam pembelajarannya sudah menyatukan aksara Bhuana Agung dan Bhuana Alit.

“Pinandita Wiwa ibaratnya ulatnya, Bhawati adalah kepompongnya, dan Sulinggih (Pandita) adalah kupu-kupunya, ” jelas Jro De Baba, sapaan akrabnya.

Pinandita Wiwa, lanjutnya, boleh dibilang sebagai benih seorang sulinggih. Sedangkan Bhawati adalah calon sulinggih. Ini merupakan tahap yang amat penting dalam menyiapkan yang bersangkutan dalam mempelajari, memahami, dan mengaplikasikan tugas-tugas orang suci.

Adapun nama Pinanita Wiwa, tutur Jro De Baba, berasal dari mendiang Ida Sinuhun Siwa Putra. “Menurut Ida Bhatara Sinuhun, dumun diberikan nama Pinandita Wiwa karena agem-agem pinandita ini sudah ngiwa-tengen, yang artinya sudah mampu mamargi ke luhur dan ke teben, kecuali pitra yadnya,” ujar pinandita dari Griya Agung Bangkasa, Jalan Tangsub Nomor 4, Banjar Pengembungan, Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung.

Sebelum upacara Pawintenan dilaksanakan, maka calon Pinandita Wiwa (Jero Mangku Gede) terlebih dulu harus mencari Pandita–Nabe sebagai Guru, dimana yang bersangkutan akan melaksanakan apa yang disebut maguron-guron. Pandita–Nabe itulah yang secara langsung membina dan mendidik sang calon dengan Dharma Pawikuan sesuai dengan beban fungsi dan jabatan yang akan dipangkunya.

Pawintenan Wiwa dalam pelaksanaannya menggunakan aksara Bali. Di antaranya aksara Bali yang dirajah pada tubuh. Upacara Pawintenan Pinandita Wiwa ini harus disaksikan oleh para Prajuru Merajan, Manggala Desa, maupun yang terkait.

“Seorang Pinandita Wiwa dengan julukan Jero Gede, jika telah memenuhi persyaratan tertentu dan dipandang sudah cukup memenuhi persyaratan untuk meningkatkan kesucian rohani maupun jasmaninya, dikemudian hari dapat melakukan penyucian diri yang sifatnya lebih tinggi yang disebut Mapudgala Dwijati,” jelas guru SMPN 4 Abiansemal ini.

Mawinten, umumnya menurut Jro De Baba, ada tiga tingkatan upacara. Pertama adalah Mawinten dengan ayaban Pawintenan Saraswati sederhana. Yakni penyucian diri dengan memuja Dewi Saraswati sebagai sakti Brahma selaku lambang ilmu pengetahuan. Umumnya, pawintenan ini diikuti oleh siswa yang baru belajar agama. 

Kemudian Mawinten dengan banten ayaban bebangkit upacara medium adalah penyucian diri dengan memuja Dewi Saraswati dan Bathara Ganapati sebagai simbol perlindungan dan kecerdasan.

Pawintenan ini biasanya diikuti oleh para tukang, sangging, serati, dan lainnya. “Nah, untuk kalangan pamangku atau dalang, biasanya mawinten dengan sarana Banten Ayaban Catur,” terangnya.

Pawintenan, utamanya sebagai Pinandita Wiwa,  imbuh Jro De Baba, harus diikuti dengan perubahan tata laku yang bersangkutan. Sebab, pawintenan tak hanya membersihkan fisik, melainkan menyiapkan mental dan rohani.

Terlebih selaku pinandita yang selain bertugas memimpin upacara, juga melayani umat dengan memberi dharma wacana. Sehingga, melalui mawinten, lanjutnya, seorang pinandita hendaknya membersihkan rohani, menjaga etika dan moral, serta lebih mendalami ajaran agama untuk membimbing umat.

(bx/adi/rin/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news