Sabtu, 28 Nov 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Desa Lodtunduh, Gundukan Tanah Tempat Pertapaan Pedanda Sakti

04 Oktober 2020, 10: 47: 18 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Desa Lodtunduh, Gundukan Tanah Tempat Pertapaan Pedanda Sakti

PURA: Suasana Jaba Pura Alas Arum di Desa Adat Silungan, Desa Lodtunduh, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar. Perbekel Desa Lodtunduh I Wayan Gunawan. (Putu Agus Adegrantika/Bali Express)

Share this      

GIANYAR, BALI EXPRESS-Masing-masing desa tentu memiliki sejarah tersendiri. Mulai dari nama, lokasi, hingga penghuninya pada zaman dahulu. Dan, sampai saat ini muasal berdirinya sebuah tempat tetap jadi hal penting. Meski itu masih berdasarkan gugon tuwon (cerita dari mulut-ke mulut), namun bersumber dari orang yang dituakan di setiap desa.

Seperti halnya salah satu desa yang wilayahnya berdekatan dengan Sungai Wos, yakni Desa Lodtunduh, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar. Nama Lodtunduh itu memiliki arti dan sejarah tersendiri pada zamannya. Sampai saat ini desa tersebut eksis dengan suasana alam, penduduk, maupun tradisi hingga budaya yang ada di sana.

Perbekel Desa Lodtunduh, I Wayan Gunawan, menceritakan, sejarah Desa Lodtunduh berawal sejak abad ke-14. “Waktu itu rakyat Gelgel menghadap Raja Dalem Semara Kepakisan, melaporkan di suatu sungai ada banyak uang kepeng hanyut. Sehingga sungai itu disebut Sungai Jinah. Sedangkan di sungai yang lain juga banyak ada beras dan menjadi nasi hanyut, yang  kemudian sungai itu disebut Sungai Bubuh,” paparnya di Jaba Pura Alas Arum, kemarin.

Dilanjutkannya, menanggapi laporan rakyat tersebut, kemudian raja memerintahkan Patih Nyuh Aya untuk menyelidiki penyebab dan sumber uang kepeng, serta beras yang hanyut tersebut.

Dalam penyelidikannya, Patih Nyuh Aya menemukan uang dan beras yang hanyut itu berasal dari sisa-sisa yadnya Palebon Dalem Tarukan. Yaitu kakak dari Dalem Semara Kepakisan yang bertahta di Tampuagan, Bangli.

Palebon tersebut diselesaikan empat orang dukuh, terdiri Dukuh Sanding, Dukuh Bunga, Dukuh Patolan, dan Dukuh Jatituhu. “Ini kemudian dilaporkan kepada raja. Mendengar laporan ini, raja sangat kaget, mengapa dukuh-dukuh tersebut berani melaksanakan Palebon kakaknya tanpa ada pemberitahuan kepadanya. Lalu beliau mengirim utusan menemui para dukuh, dengan titah agar para dukuh tersebut menghadap kepada Dalem di Gelgel,” jelasnya.

Namun, para dukuh tidak berkenan menghadap Dalem walaupun telah beberapa kali dipanggil. Sebab, para dukuh tersebut merasa was-was akan kemurkaan Dalem, karena para dukuh berani menyelesaikan Palebonnya Dalem Tarukan tanpa seizin Dalem Semara Kepakisan. 

Kemurkaan Dalem Gelgel akhirnya benar-benar terjadi, sehingga beliau memerintahkan Patih Nyuh Aya untuk menangkap para dukuh tersebut. Mengetahui hal itu, para dukuh pun lari meninggalkan Tampuagan, mengungsi mencari tempat persembunyian masing-masing. 

Diceritakan, perjalanan Dukuh Jatituhu terus menuju ke barat. Pada suatu malam di suatu tempat Dukuh melihat sebuah sinar terang menjulang ke atas. Beliau menuju sinar itu, dan setelah sampai diketahuilah sinar yang disebut Bawa Teja tersebut bersinar di suatu hutan. Sekitar hutan itu pun berhembus bau harum, beliau pun terkagum dengan hutan tersebut.

“Lalu beliau mengadakan tapa semadi di tempat itu. Atas pandangan batin dalam pertapaan beliau mengambil kesimpulan, tempat di hutan itu adalah suatu tanah suci. Sehingga pantas dijadikan tempat pertapaan dan pasraman atau padukuhan bagi orang-orang suci,” sambung Gunawan.

Kemudian tempat pertapaan dan hutan itu disebut dengan Alas Arum, dan kini pura di sana disebut Pura Pertapaan Alasarum atau Penataran Alas Arum yang berlokasi di tepi timur Sungai Wos. Dengan cara seperti itu, maka selamatlah beliau dan tidak sampai terkejar hingga tidak diketahui musuh. 

Atas kesuburan dari tanah hutan tersebut, semakin lama semakin bertambah orang yang masuk dan tinggal membuka hutan untuk dijadikan perkebunan dan sawah.

Kemudian persawahan dan perkebunan itu disebut Bawa atau Mawa, yang saat ini disebut dengan Mawang. Nama itu pun merupakan Teja, Bawa memancarkan sinar sucinya yang wilayahnya meliputi sampai di sebelah selatan dengan batasnya tempat pertemuan Sungai Wos dengan Sungai Bembeng di Cingcengan atau Sukawati. Kini disebut dengan Ancut Mawang di Subak Ujung.

Setelah Dukuh Jatituhu wafat, sawah di sekitar tempat pasraman beliau itu disebut dengan Subak Dukuh, dengan tujuan mengenang jasa-jasa Dukuh Jatituhu dalam merintis sampai adanya Desa Mawang. Dan, lanjut membinanya menjadi suatu desa yang subur, aman dan sejahtera. 

Subak Dukuh dikatakan menjadi bagian Tempekan-Bali dari Subak Mawang yang terletak di sebelah timur Banjar Silungan. Bahkan, di suatu petak sawah Subak Dukuh sering didapatkan benda-benda kuno berupa guci, kendi, piring, dan lain sebagainya. 

“Kemudian pada abad ke-15, waktu Dang Hyang Nirartha pergi ke Bali, dan kemudian berada di Desa Mas mengajar pangeran Mas tentang ilmu kebatinan dan keagamaan, beliau memperistri anak Pangeran Mas. Dari perkawinan itu, beliau berputra, yang salah seorang putra beliau disebut Pedanda Luhuran atau Pedanda Wayahan dan punya pasraman di Bok Cabe,” jelasnya.

Disebutkan, beliau sangat sakti dalam ilmu kebatinan dan kemudian membuat tempat pertapaan di suatu tempat tinggi di tempat tersebut. Di ujung Pengosekan atau ujung utara daerah Mawang, karena tempatnya tinggi dan air tidak bisa mengalir ke sana dan mengairi perkebunan bunga sekitar pertapaan, Pedanda Wayahan  lantas beryoga semadi.

Dengan kekuatan batin beliau menciptakan hujan. Karena doa beliau untuk mohon hujan sering terkabulkan, lalu tempat pertapaan itu disebut Hyang Limut, kini menjadi Pura Hyang Limut disiwi Brahmana Mas. 

Dilanjutkannya,  pada suatu saat, kuda Gusti Ngurah Mambal yang sangat diandalkan dalam peperangan hilang dari kandangnya. Beliau sangat gusar, kemudian memerintahkan seluruh rakyatnya untuk mencari sampai dapat. Pada saat ditemukan, kuda tersebut dalam keadaan kakinya  patah di dekat kebun bunga pertapaan Hyang Limut.

Mengetahui hal itu membuat Pedanda Gusti Ngurah Mambal memerintahkan rakyatnya untuk menghancurkan pertapaan dan menangkap Pedanda Wayahan.

Mengetahui akan diserang, Pedanda Wayahan mengungsi ke selatan pertapaan dan dari sana beliau beryoga semadi. Berdoa dengan kekuatan batin menciptakan hujan lebat hingga menyebabkan Sungai Wos meluap membuat rakyat Gusti Ngurah Mambal tidak bisa menyeberangi sungai dan kedinginan tidak kuasa membawa senjata.

“Maka selamatlah Pedanda Wayahan dan pertapaannya, karena mengusir musuh dari sebelah selatan pertapaan yang terletak di tanah tinggi. Tanah tinggi disebut dengan Unduh, kemudian tempat tersebut diberi nama Lod Tundung, kemudian menjadi Lod Te Unduh yang kini biasa disebut Desa Lodtunduh,” jelas Gunawan.

Pada tempat yang sama, Bendesa Adat Silungan, Desa Lodtunduh, I Wayan Sami, juga menjelaskan mengenai keberadaan Pura Alas Arum tersebut. Disampaikannya, pura itu bukan dari bagian Pura Kahyangan Tiga, melainkan Pura Dang Kahyangan.

“Pura ini namanya Pura Alas Arum bukan Kahyangan Tiga. Alas Arum salah satu Pura Dang Kahyangan yang ada kaitannya dengan sejarah runtuhnya Kerajaan Singosari, dan terkait berdirinya Kerajaan Mengwi. Terletak di Desa Adat Silungan, Desa Lodtunduh, Kecamatan Ubud,” cetusnya.

Sami juga menyampaikan, piodalan di Pura Alas Arum digelar setiap enam bulan sekali. Yang jatuhnya pada 16 Oktober ini atau bertepatan dengan Sukra Kliwon Pujut. Sejarah desanya itu pun hingga kini tidak ditemukan secaa tertulis, namun dari cerita pedalangan dan tokoh di desa tersebut, memang benar adanya. 

“Selaku pangempon yang nyungsung pura ini adalah Desa Adat Silungan dengan jumlah 1.700 jiwa penduduk. Pura ini juga dikatakan berbau harum, itu yang dikatakan orang dari luar desa. Sehingga tidak jarang masyarakat nangkil ke pura ini untuk mohon keselamatan atau kelancaran dalam kariernya,” pungkas Sami. 

(bx/ade/rin/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news