Sabtu, 28 Nov 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Ketika Ilmu Leak Jadi Salah Kaprah

06 Oktober 2020, 10: 54: 00 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Ketika Ilmu Leak Jadi Salah Kaprah

LONTAR : Pembaca dan Penulis Lontar, Putu Suarsana, menunjukkan jejeran lontar, koleksi Gedong Kirtya, Singaraja. (Dian Suryantini/Bali Express, Amurwa Bhumi.)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Fenomena ilmu hitam atau black magic di Bali sangat kental. Bahkan, di zaman modern ini, ilmu hitam masih dipercaya, seperti halnya Ilmu Leak di Bali. 

Sejak lama berbagai fenomena bermunculan akibat kesalahpahaman masyarakat tentang ajaran Ilmu Leak. Tak terkecuali masyarakat Bali, yang juga sering 'salah kaprah' terhadap budaya, tradisi, seni, dan ritualnya sendiri.

Hal tersebut terjadi karena budaya yang diturunkan masih sebagian besar bersifat lisan, sehingga belum ada usaha mencari akar dari pelaksanaan budaya, tradisi, seni dan ritualnya.

Sama halnya seperti Ilmu Pangleakan ini. Banyak orang bermunculan memiliki cara pandang tersendiri. Sebagian besar orang memandang Leak tersebut adalah sosok manusia jadi-jadian. Atau ada pula yang menafsirkan, Leak tersebut adalah manusia yang berubah wujud menjadi makhluk yang menyeramkan. 

Banyaknya spekulasi yang bermunculan membuat Leak tersebut secara tidak langsung telah terdoktrin dalam pikiran, bahwa Leak tersebut menyeramkan serta berbahaya. Namun, dalam lontar Aji Pangleakan, Pangiwa hingga Surya Panengen, tidak dijelaskan definisi Leak. Begitu pula dengan perubahan wujud yang  sering menjadi perbincangan di masyarakat.

“Dalam lontar tidak disebutkan apa itu Leak. Tidak ada definisi tentang itu. Sebenarnya bukan Leak, tapi Liak. Linggih Aksara. Li adalah  Linggih, Ak maksudnya Aksara. Jadi, yang disebut oleh orang-orang itu adalah Tutur Tinular. Tutur yang dituturkan lagi,” jelas Putu Suarsana, Pembaca dan Penulis Lontar Gedong Kirtya, Singaraja, Jumat (2/10) lalu.

Suarsana menambahkan, Ilmu Liak dikenal masyarakat sebagai ilmu hitam. Hal tersebut menyebar hingga masyarakat luar Pulau Bali. Liak didefinisikan sebagai sosok menyeramkan yang  memiliki lidah panjang dan dapat terbang untuk mencari tumbal. 

Pemikiran tersebut tentu datang ketika melihat sebuah sumber yang berbasis hiburan, sehingga masyarakat percaya, itu adalah hal yang sebenarnya. “Padahal Ilmu Liak adalah salah satu ilmu warisan nenek moyang Bali yang telah ada sebelum agama 

masuk ke Indonesia. Berbagai isu tentang Ilmu Liak menjadi terkesan menyeramkan, mulai dari perubahan fisik yang akan terjadi bila mempelajari Ilmu Liak,” jelasnya.

Ilmu Liak sering dikaitkan dengan cerita Calonarang dengan lakon bernama Nyi Calon Arang. Cerita tersebut dianggap menjadi sejarah kemunculan Ilmu Liak di Bali. Nyi Calon Arang membawa lontar saktinya dari Girah ke Bali pada zaman Kerajaan Kediri, masa pemerintahan Raja Airlangga. 

Padahal, yang dilakukan Nyi Calon Arang dengan menyebarkan wabah penyakit saat itu, merupakan salah satu pengaplikasian Ilmu Liak yang buruk. “Sekarang tergantung pelakunya saja. Mau dibawa kemana ilmu yang dipelajari ini. Kalau dibawa ke hal yang buruk, maka dampaknya akan buruk, begitu juga sebaliknya,” ungkapnya.

Ilmu Liak merupakan bagian dari Ilmu Tantra. Dan, biasanya praktik Ilmu Tantra bersifat rahasia. Hal tersebut menimbulkan banyak persepsi masyarakat yang menduga-duga, sehingga berita yang terdengar menjadi simpang siur.

“Ketika seseorang bercerita, tentu yang diceritakan adalah hal yang seru. Salah satu gosip yang beredar adalah mengenai tingkatan Ilmu Liak dengan perubahan fisik, seperti Rangda, Celuluk atau lainnya yang menyeramkan,” kata dia.

Suarsana menegaskan, sesungguhnya tidak ada tingkatan Ilmu Liak hingga perubahan fisik saat mempelajari Ilmu Liak. Dalam lontar itu tidak dijelaskan. “Yang jelas Ilmu Liak ini seperti Pangiwa, Panengen, dan yang lainnya, dan itu tidak dijelaskan tingkatannya seperti apa. Begitu juga perubahan fisik. 

Lontar Liak ini dibuat bukan untuk menyakiti seseorang atau berbuat buruk untuk orang lain. Melainkan Ilmu Liak ini dibuat untuk kepuasan diri sendiri dan mencapai kebahagiaan yang sempurna. Selain itu, juga untuk kadirgayusan, dan agar mendapat tempat yang baik saat menuju alam baka,” tutur Suarsana. 

(bx/dhi/rin/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news