Sabtu, 28 Nov 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Ini Tata Cara Tradisional Membuat dan Manyurat Lontar

09 Oktober 2020, 10: 38: 50 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Ini Tata Cara Tradisional Membuat dan Manyurat Lontar

HATI : Putu Suarsana manyurat lontar dengan hati-hati dan harus dengan hati yang damai. (Dian Suryantini/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Lontar adalah produk budaya Bali dan telah diakui menjadi warisan budaya dunia. Masyarakat Bali berkeyakinan lontar memiliki arti yang penting dan sangat bermanfaat untuk hidup dan kehidupannya. 

Lontar dengan segala bentuk wacana penuturannya memotret dan memberikan cermin kehidupan yang dapat menjadi Smrti, yaitu contoh dan implementasi kehidupan yang patut dan tidak patut dilakukan. 

Namun, menulis di atas daun lontar atau nyurat, bukan perkara mudah. Terlebih yang ditulis bukanlah huruf latin, melainkan aksara Bali. Akan lebih sulit lagi, apalagi manyurat menggunakan pangrupak atau alat untuk menulis lontar. Jika tidak terbiasa maka akan sangat sulit dan sangat kaku untuk menggerakkan tangan. 

Dalam manyurat (menulis)lontar, tidak bisa sembarangan. Dibutuhkan ketelitian, kesabaran, kahati-hatian serta perasaan yang gembira. Jika tidak, maka isi lontar yang disurat tersebut tidak akan pernah selesai. Selalu saja ada kesalahan saat melakukan panyuratan. Terlebih lagi, apabila salah, tulisan yang tersurat di atas daun lontar tidak bisa di hapus. Jika memungkinkan untuk diperbaiki, maka huruf tersebut dimatikan dengan tedong. 

Seperti dijelaskan pembaca dan penulis lontar Gedong Kirtya, Putu Suarsana. “Kalau tulisannya salah bisa dimatikan. Misal satu huruf salah, isi ulu sama suku jadinya tidak terbaca alias huruf mati. Tapi kalau satu kata tidak bisa, harus ganti dengan lontar baru dan menulis dari awal. Maka dari itu, suasana hati saat menulis harus baik karena pengaruhnya sangat terasa,” jelasnya.

Selain harus dibuat dengan suasana hati yang damai, posisi tangan saat manyurat lontar ini juga harus diperhatikan. Posisi tangan tidak boleh miring.

Begitu juga dengan posisi tubuh. Saat manyurat lontar, tangan berada di atas dulang kecil yang diatasnya dialasi bantal kecil. “Harus pakai dulang biar tinggi. Dulangnya harus yang rata, supaya tidak bergelombang. Lalu diatasnya diisi bantal, dan carilah posisi yang nyaman untuk menulis,” tambahnya.

Sebelum daun lontar itu ditulis, semua lidi pada daun lontar dihilangkan. Selanjutnya daun lontar direndam pada air mengalir selama tiga minggu. Perendaman daun lontar tersebut untuk mengilangkan zat hijau daun (khlorofil). Setelah tiga minggu, daun lontar ditiriskan dan dikeringkan. Kemudian, daun lontar harus diukur lalu dipotong sesuai ukuran, yakni sekitar 3,5 cm x 30 cm. 

Setelah dipotong dimasukkan dalam sebuah panyapes (penjepit) agar daun lontar lurus. Setelah itu, daun lontar yang sudah dipotong, direbus. Merebus daun lontar juga tidak sembarangan. Dalam air rebusan itu terdapat beberapa macam rempah yang berfungsi sebagai pengawet alami daun lontar tersebut. 

Rempah-rempah itu diantaranya, gambir, cabe puyang, kemiri, merica, daun liligundi, dan buah pala. Setelah selesai proses perebusan hingga serat-seratnya keluar, daun lontar kembali dikeringkan dengan dijemur dibawah terik matahari. Selanjutnya dimasukkan dalam alat press selama 6 bulan hingga 1 tahun agar daun lontar menjadi lurus dan tidak bergelombang. 

Sebelum dibuka dari alat press atau panyapes, daun lontar kembali dihaluskan pada bagian pinggirnya dengan cara diserut. “Setelah semua proses itu selesai, maka blanko lontar ini siap digunakan,” kata Suarsana pekan kemarin.

Setelah manyurat lontar menggunakan pangrupak, lanjut Suarsana, aksara yang tersurat di atas daun lontar itu digosok menggunakan arang kemiri. Lalu dibersihkan dengan kapas. “Selesai menulis hitamkan dengan adeng (arang) kemiri. Baru setelah itu dilap pakai kapas,” sambungnya.

Setelah lontar selesai ditulis, tahap terakhir lontar yang sudah jadi dimasukkan dalam keropak. Kemudian diisi dengan pengawet agar tidak dimakan rayap. “Pengawetnya bisa pakai kapur barus, supaya tidak dimakan rayap,” tegasnya. 

(bx/dhi/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news