Sabtu, 24 Oct 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Kawasan Kuta “Mati Suri”, Toko Memilih Buka Demi Menyambung Hidup

11 Oktober 2020, 20: 12: 06 WIB | editor : Nyoman Suarna

Kawasan Kuta “Mati Suri”, Toko Memilih Buka Demi Menyambung Hidup

MATI SURI : Akibat pandemi Covid-19, kawasan Kuta seperti "Mati Suri". Meski tidak ada wisatawan mancanegara, sejumlah toko memilih tetap buka untuk menyambung hidup. (SURPA ADISASTRA/BALI EXPRESS)

Share this      

Meski kunjungan wisata khusus domestik sudah dibuka oleh pemerintah, kawasan Kuta masih tampak sepi. Hal ini dirasakan betul dampaknya oleh pedagang, terutama yang mengandalkan tamu mancanegara.


WAKTU melewati tengah hari. Sinar mentari cukup terik. Namun tiupan angin perlahan menghalau panasnya. Jalan Legian, Kuta lengang. Tak seperti dulu, kendaraan berjejal padat. Wisatawan pun memenuhi trotoar. Pandemi Covid-19 membuat aktivitas di kawasan wisata yang terkenal di seantero negara itu seakan mati suri.


Tampak deretan toko, tempat hiburan, dan hotel di kanan-kiri jalan berlapis paving itu. Namun sebagian besar tutup. Hanya ada satu, dua tempat usaha yang buka. Salah satunya toko pakaian Dewi's Shop. "Tamu (mancanegara) tidak ada. Kalau domestik ada satu, dua," ungkap penjaga toko yang akrab disapa Pak De, Minggu (11/10) kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Sepinya pengunjung kawasan wisata itu berdampak terhadap tempat usaha, termasuk toko yang menjual pakaian. "Biasanya lumayan ramai yang belanja. Tapi sekarang kadang dalam sehari ada satu, dua orang. Bisa tidak ada dalam tiga, empat hari, bahkan seminggu," bebernya.


Alhasil, pendapatan pun anjlok. Menurut pria empat anak ini, dulu kala Covid-19 belum melanda, pihaknya rata-rata bisa mengantongi omzet Rp 1,5 juta per hari. "Tapi sekarang dapat Rp 10 ribu saja sudah bersyukur," ujarnya.
Memang pengunjung lokal dan domestik sudah ada beberapa. Namun, pengunjung mancanegara masih minim. Kalaupun ada tamu luar negeri, kata dia, mereka memang sudah tinggal di Bali. Bukan yang betul-betul baru berkunjung ke Kuta.
Meskipun demikian, pihak pemilik, lanjut pria asal Jember yang sudah puluhan tahun di Bali ini, memilih tetap buka. Daripada tak mendapat pemasukan sama sekali, lebih baik tetap berupaya. "Daripada nganggur. Ya, pakai nyambung hidup kalau ada (pembeli)," katanya.

Suasana sepi di Jalanan Kuta (I Nyoman Surpa Adisastra)


Ia berharap pemerintah bisa mencarikan solusi terkait hal ini. Ia sadar Covid-19 memang patut diwaspadai, tapi soal perekonomian juga tak kalah urgen. "Ya, semoga cepat normallah. Supaya masyarakatnya ndak kelimpang-kelimpung," tandasnya.
Bali Express lanjut menuju Pantai Kuta. Sebelum pandemi Covid-19, jangankan ke pantai, untuk lewat di Jalan Pantai Kuta saja harus bersabar lantaran padatnya pengunjung. Apalagi saat akhir pekan. Namun kini suasana sepi.
Di Pantai Kuta, terlihat pengunjung pantai didominasi warga lokal dan domestik. Tamu mancanegara tampak hanya beberapa orang. "Kunjungan ke Pantai Kuta sudah dibuka, tapi untuk pedagang belum," ungkap Ketua Satgas Pengelola Pantai Kuta, Mangku Wayan Sirna saat dikonfirmasi lewat telepon.


Menurutnya, untuk kembali dibukanya aktivitas pedagang di pantai, pihaknya menunggu arahan lebih lanjut dari pihak terkait. Salah satunya Desa Adat Kuta. Di samping itu, sebelumnya, kata Sirna, ada rencana dari Pemerintah Kabupaten Badung akan melakukan penataan untuk tempat berjualan para pedagang yang jumlahnya sekitar 1.165 pedagang. "Jadi kami menunggu arahan lebih lanjut," terangnya.


Di samping sekadar menikmati suasana pantai, terlihat pula ada yang mandi dan berselancar. Suasana terik tak menjadi masalah.
Bagi pengunjung, pihaknya mengingatkan untuk tetap mematuhi protokol kesehatan. Mulai dari memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Hal itu sebagai upaya pencegahan penularan Virus Korona. "Sesuai protokol kesehatan, kami sudah sediakan tempat cuci tangan. Jadi harapan kami pengunjung agar mematuhi protokol kesehatan," tandas Sirna.

(bx/adi/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news