Sabtu, 24 Oct 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Pengantin Baru Pedawa Wajib Punya Kamulan Nganten Bambu

12 Oktober 2020, 08: 36: 46 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Pengantin Baru Pedawa Wajib Punya Kamulan Nganten Bambu

UNIK: Salah satu bentuk Sanggah Kamulan Nganten di salah satu rumah warga Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng. Panglingsir Desa Pedawa, Wayan Sukrata. (Dian Suryantini/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng memiliki banyak keunikan. Salah satu yang unik di desa Bali Aga ini adalah  bentuk dan bahan tempat ibadah yang dimiliki setiap keluarga serta pengantin baru yang dinamai Sanggah Kamulan Nganten. 

Setiap keluarga pada umumnya harus memiliki Sanggah Kamulan, dan biasanya hanya memiliki satu Sanggah Kamulan di setiap rumah. Namun keyakinan berbeda dengan di Desa Pedawa.

Di desa ini, setiap keluarga yang meminang istri maupun mantu, wajib membuat lagi Sanggah Kamulan Nganten, meskipun pengantin baru itu masih tinggal dalam satu rumah yang sama. Sanggah Kamulan Nganten itu juga biasa disebut dengan Sanggah Kamulan Tiing (Bambu).

Menurut Panglingsir Desa Pedawa, Wayan Sukrata, setiap pasangan yang baru menikah wajib membuat Sanggah Kamulan Nganten. Walaupun di rumah tersebut telah memiliki satu Sanggah Kamulan, namun sungsungan (yang dipuja) orang yang dipinang berbeda. “Kamulan Nganten atau Kamulan Tiing itu wajib punya bagi yang sudah menikah," ucapnya pekan kemarin. 

Wayan Sukrata mencontohkan dirinya punya anak laki-laki, kemudian meminang istri dari desa lain. "Setelah menikah, anak dan mantu saya tetap tinggal bersama saya. Maka mereka juga harus memiliki Kamulan Ngantennya sendiri. Karena sungsungan dari istri anak saya tidak sama dengan keluarga saya, " urainya. 

Jadi, kemulan itu, lanjutnya, juga befungsi untuk menyatukan sungsungan sang istri dan suami untuk dipuja bersama-sama lewat Sanggah Kamulan Nganten.

Menurut Sukrata, keberadaan Sanggah Kamulan Nganten atau Kamulan Tiing diperkirakan telah ada sejak orang-orang Pedawa menggunakan Tata Lungguh atau daftar orang yang menikah. “Dahulu sebelum ada Catatan Sipil, pernikahan tersebut dicatat diganti atau orang Pedawa biasa menyebutnya dengan Cekak,” terangnya.

Sanggah Kamulan Nganten atau Kamulan Tiing itu harus terbuat dari bambu. Bahkan, sama sekali tidak diperkenankan menggunakan bahan yang lain. 

Dijelaskannya, ada beberapa alasan mengapa harus menggunakan bambu. Bambu atau tiing dianggap menyimbolkan tingkah atau perilaku. Bambu apabila dijadikan senjata menjadi sangat tajam, dan tidak akan pernah berkarat. Makanya orang dahulu biasanya menggunakan ngad (bambu tpis tajam) untuk memotong tali pusar dan tidak mengakibatkan infeksi. 

“Ketajaman dari bambu ini digunakan sebagai simbolis, agar kita bisa menajamkan pikiran kehadapan Tuhan Yang Maha Kuasa,” ujarnya.

Sukrata melanjutkan, bentuknya bersifat sementara dikarenakan Sanggah Kamulan Nganten ini tidak diturunkan ke anak cucu. Jajaran atau susunannya menyesuaikan dengan konsep sungsungan dari keluarga yang bersangkutan. Misalnya ada Kamulan, Pangandel, dan Sungsungan dari pihak istri. 

Adapun bentuk dari Sanggah Kamulan Nganten atau Kamulan Tiing menggambarkan kearifan lokal yaitu taksu Bali. “ Taksu menggambarkan kesaktian Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” katanya.

Sukrata menyebut jajaran palinggih yang terdapat di salah satu rumah penduduk di Desa Pedawa. Dimana pada bagian Sanggah Kamulan Nganten atau Kamulan Tiing, yaitu ada Kamulan, Pamayun, Gunung Agung, Majapahit, Labuan Aji, Tengain Segara, Munduk Duur, Buah Kayu, dan Alas Kualon. 

Namun, perlu diingat pula, setiap keluarga mempunyai sungsungan yang berbeda-beda, karena harus disesuaikan dengan kepercayaan keluarga masing-masing. Sementara persamaannya terletak pada jajaran pokoknya, yaitu Kamulan. 

(bx/dhi/rin/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news