Sabtu, 24 Oct 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese
Tri Hita Karana Jangan Sekadar Teori

Alam Dirusak, Manusia Tinggal Tunggu Waktu Dikoyak Bencana

13 Oktober 2020, 09: 08: 42 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Alam Dirusak, Manusia Tinggal Tunggu Waktu Dikoyak Bencana

BENCANA: Sejumlah bencana tanah longsor akibat hujan deras yang mengguyur, Sabtu (10/10). Ketua APHB, I Wayan Suartika, S.Ag., M.Ag. (SURPA ADISASTRA/BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALUI EXPRESS-Masyarakat Hindu mengenal istilah Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Bhuana Agung adalah alam semesta. Sedangkan Bhuana Alit adalah manusia itu sendiri. Korelasi positif antara keduanya diperlukan untuk mewujudkan kehidupan yang harmonis.

Nah, peristiwa bencana alam kerap dikaitkan dengan hubungan manusia dengan Bhuana Agung tak lagi harmonis. Manusia secara berkelompok maupun perorangan tak jarang dituding menjadi penyebab bencana tersebut. Lantaran tindakan yang dianggap tak bisa menjaga stabilitas alam. Bahkan, justru perusakan terhadap alam yang notabene tempat manusia bernaung.

Beberapa hari lalu hujan deras mengguyur sebagian besar wilayah di Bali. Air sungai naik, tanah longsor dan banjir di mana-mana, sejumlah bangunan dan kendaraan rusak. “Bencana alam adalah alat introspeksi diri untuk kita semua,” ungkap Ketua Aliansi Pemuda Hindu Bali (APHB), I Wayan Suartika, S.Ag., M.Ag., Senin (12/10).

Bencana alam seperti banjir dan tanah longsor, menurutnya bisa jadi pertanda kerusakan lingkungan.  Salah satunya karena ulah manusia yang tidak serius menjaga alam ini. “Seenaknya menggunakan lahan hijau menjadi pemukiman. Gunung-gunung  digunduli, sehingga serapan air bawah tanah tidak maksimal,” ujar Yan Suar, sapaan akrabnya.

Apalagi di kota-kota besar, saat ini jarang sekali orang yang punya halaman terbuka. Sebagian besar ditutup beton, sehingga saat hujan air tidak bisa diserap oleh tanah maksimal.

“Pinggir-pinggir sungai juga mulai dimanfaatkan sebagai pemukiman atau perumahan yang mengharuskan pohon-pohon besar ditebang. Ini membuat kekuatan tanah untuk menyangga hilang. Sedikit saja terjadi hujan deras, tanah akan mudah tergerus. Begitu juga pinggiran sungai banyak dibeton, ini  juga memengaruhi, karena air tak bisa meresap,” paparnya.

Saat curah hujan tinggi, karena minimnya ruang terbuka hijau, penyerapan air tidak maksimal. “Belum lagi tingkah manusia yang tidak peduli dengan lingkungan dengan membuang sampah sembarangan ke sungai. Pasti ini akan berdampak fatal di kemudian hari. Sudah pasti saat hujan akan menyebabkan banjir dan lingkungan sekitar menjadi kotor,” jelasnya. 

Padahal, lanjut lulusan Pascasarjana IHDN Denpasar ini, sesungguhnya kita sebagai orang Bali sudah diajarkan konsep yang sangat luar biasa, yakni Tri Hita Karana.  Diantaranya adalah hubungan harmonis pada lingkungan. 

“Ini yang perlu diwujudkan dengan langkah nyata, bukan sekadar berteori. Pada intinya leluhur kita sudah sangat luarbiasa untuk menjaga alam ini. Karena ketika lingkungan kita rusak, bencana akan selalu menghampiri kehidupan kita. Makanya dari dahulu sudah diajarkan untuk selalu menjaga alam untuk mendapat hidup yang harmonis,” ucap pria asli Karangasem ini.

Apalagi, lanjut Yan Suar, masyarakat Bali biasanya memberi tanda pada kawasan yang dianggap memiliki pengaruh secara sekala dan nikala.

“Kita di Bali setiap tempat vital yang memengaruhi kehidupanan kita, akan dijaga. Misalnya dengan membuatkan palinggih atau pura. Pesannya, agar kita selalu menjaga lingkungan,” terangnya.

Lingkungan yang baik dan bersih, kata mantan pengurus KMHDI ini, akan mampu menghasilkan generasi yang lebih baik. Dengan demikian, menurutnya perlu kesadaran semua pihak, terutama masyarakat agar betul-betul menjaga kelestarian lingkungan.

“Begitu pula peran pemerintah yang harus serius mengajak masyarakat menjaga lingkungan agar kita terhindar dari bencana alam  seperti longsor dan banjir,” katanya.

Mengeluarkan izin Amdal atau terkait tata ruang pembangunan, lanjutnya,harus benar-benar memperhatikan keselamatan lingkungan. “Karena kita percaya hukum sebab-akibat. Jika kita serakah dan tidak peduli dengan alam ini, begitu pula alam ini akan ganas pada kita,” tandas Yan Suar. 

(bx/adi/rin/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news