Sabtu, 24 Oct 2020
baliexpress
Home > Features
icon featured
Features

Warga Denpasar Jual Nasi Jinggo Pakai Chopper; Gratis Sambal Sepuasnya

14 Oktober 2020, 11: 32: 09 WIB | editor : I Putu Suyatra

Warga Denpasar Jual Nasi Jinggo Pakai Chopper; Gratis Sambal Sepuasnya

SEMANGAT: Ekky semangat berjualan nasi jingo tambah unik dengan motor chopper kebanggaannya. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

Apa yang dilakukan pemuda ini bisa menginspirasi kaum muda lainnya. Di umur yang masih 21, ia tak malu ataupun gengsi berjualan nasi jinggo untuk sekadar mendapat uang tambahan maupun membantu meringankan beban orang tua.

DEWA KRISNA PRADIPTA, Denpasar

DIA adalah I Made Ari Dwiki Setiawan -akrab disapa Ekky-. Pemuda yang tinggal di Jalan Ceroring, Denpasar ini mencari uang tambahan dengan berjualan nasi jinggo.

Nasi jinggo yang ia jual tak ada bedanya dengan nasi-nasi yang lain. Namun, yang membedakan adalah cara ia berjualan yakni menggunakan motor Chopper (motor custom).

"Ini ide sendiri sih. Awalnya bermula dari hobi main motor. Berhubung sekarang lagi pandemi, daripada motor diam dan tidak terpakai, lebih baik digunakan cari rejeki," ucap Ekky saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Grup) saat ngetem di Jalan Melati, Denpasar sore kemarin.

Selain karena hobi dengan motor, Ekky menggunakan motornya ini agar terlihat beda dari pedagang nasi jinggo lainnya. Dan menurutnya, berjualan nasi jinggo menggunakan Chopper adalah suatu hal yang unik dan bisa menarik pelanggan. Sekadar informasi, adapun Chopper yang ia gunakan ini dibuat di salah satu bengkel kenalannya di Denpasar. Basic motornya dari Kawasaki Binter Merzy tahun 1980.

"Jualannya ada nasi jinggo ayam dan telor. Keduanya sama-sama pedas dan gratis sambal sepuasnya," tutur Ekky.

Selain nasi jinggo, tak lupa juga ia siapkan minuman dingin sebagai pelepas dahaga setelah makan. Tak lupa, bagi yang suka dengan kopi, ia juga sudah menyiapkannya. Tak ada konsep khusus, nasi jinggo nya hanya ditempatkan di jok belakang menggunakan keranjang dari plastik. Kemudian kopi yang berupa sachet di gantungkan begitu saja di stang motornya.

Harga yang ia tetapkan sangat bersahabat dengan kantong. Nasi jinggo ia jual seharga Rp 5.000, kopi hitam Rp 3.000, kopi susu Rp 5.000 dan es Rp 5.000. "Untuk omset sih belum kepikiran sedetail itu. Tapi selama jualan, ya ada lah uang tambahan. Jualannya mulai jam 5 sore sampai jam 10 malam atau sampai nasinya habis," sebutnya.

"Saya sama sekali tidak malu ataupun gengsi , selama bisa menghasilkan sendiri dan meringankan beban orang tua, menapa harus malu," tandasnya.

(bx/dip/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news