Sabtu, 24 Oct 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali
Dari Asesmen Medis Korban Bom Bali

Tumini Capek Dioperasi, Telinga Ariningsih Masih Perih

15 Oktober 2020, 21: 05: 46 WIB | editor : Nyoman Suarna

Tumini Capek Dioperasi, Telinga Ariningsih Masih Perih

KORBAN: Ni Nyoman Ariningsih, korban bom Bali 2. (DOROTHI IBERANI/BALI EXPRESS)

Share this      

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI), Kamis (15/10) melakukan asesmen medis terhadap korban tindak pidana terorisme masa lalu. Para korban tak pernah bisa melupakan kejadian yang mengubah hidup mereka.

PIHAK LPSK telah membentuk Tim Percepatan Penanganan Korban Terorisme Masa Lalu pada 26 Agustus 2020 yang bertugas untuk melakukan asesmen medis terhadap korban terorisme. Hal ini dilakukan dalam upaya melaksanakan PP Nomor 35 Tahun 2020, khususnya dalam memproses permohonan kompensasi korban terorisme masa lalu.

Tujuan kegiatan ini guna menentukan derajat luka para korban terorisme. Sementara itu, penentuan derajat luka diperlukan sebagai landasan LPSK dalam pengajuan kompensasi bagi korban terorisme masa lalu yang mengacu pada peristiwa sebelum lahirnya Undang–Undang Nomor 15 Tahun 2018.

Seperti yang telah diketahui, Bali telah mengalami tragedi terorisme yaitu bom sebanyak dua kali yang berdampak besar. Ratusan nyawa melayang. Selain itu, banyak orang terkena dampak secara fisik maupun psikologis yang berdampak hingga saat ini di kehidupan mereka.

Peristiwa bom Bali yang pertama terjadi pada 12 Oktober 2002 di Jalan Legian, Kuta. Selanjutnya, Bom Bali yang kedua terjadi pada 1 Oktober 2005 di kawasan Kuta dan Jimbaran. Ratusan nyawa melayang pada dua tragedi tersebut.

Saat kegiatan berlangsung, seorang korban bom Bali 1, Ibu Tumini, 45, asal Banyuwangi yang kini berdomisili di Tuban menceritakan pengalamannya. "Kalau saya, luka saya satu tubuh, semua, luka saya dulu 45 persen," katanya.

Ibu Tumini ternyata bekerja di Paddy's pub dan dia baru datang ke tempat kerja sekitar setengah jam sebelum bom terjadi. Hingga saat ini dampak kesehatan yang dia rasakan adalah gendang telinga yang pecah lalu ada beberapa materil karena ledakan yang bersarang di kepala dan juga di tubunnya yaitu daerah payudara.

Dampak bom ini membuat Tumini harus masuk ruang operasi berkali-kali. "Sudah capek saya masuk ruang operasi berkali-kali, di Australi saya masuk ruang operasi empat kali. Di Sanglah lima kali, di Wangaya saya ambil serpihan satu kali," paparnya

Akibat dari kejadian ini, dirinya tidak bekerja lagi namun membuka usaha sendiri. Kini dia berprofesi sebagai penjual sembako, nasi lalapan dan nasi soto.

Selain Ibu Tumini, ada lagi korban bom Bali 2 yaitu Ni Nyoman Ariningsih. Dia mengaku, sampai sekarang masih merasakan dampak dari peristiwa bom tersebut. "Telinga saya masih sakit. Ini gak normal telinganya. Kalau denger suara keras sakit dan perih," ujarnya saat ditemui wartawan Bali Express (Jawapos Group) di sela kegiatan bersama pihak LPSK. Dia mengaku tidak bisa menelepon lewat HP seperti kebanyakan orang. Jadi setiap menelepon dia akan menggunakan speaker.

Sayangnya, setelah kejadian, Ariningsih tidak bisa bekerja lagi di kafe. Dampak fisiknya membuat badannya sakit ketika berjalan dan melakukan aktivitas lainnya. "Setelah itu saya buka usaha sembako," ceritanya.

Selain dilakukan asesmen medis terhadap korban, pada kesempatan itu juga diberikan bantuan lainnya. Perlu diketahui, sesuai ketentuan Pasal 1 angka 3 UU 13/2006, LPSK adalah lembaga yang bertugas dan berwenang untuk memberikan perlindungan dan hak-hak lain kepada saksi dan/atau korban.

Karena itu, bentuk-bentuk perlindungan yang diberikan LPSK kepada saksi dan korban yang pertama adalah perlindungan fisik dan psikis, adanya perlindungan hukum dan juga adanya pemenuhan hak prosedural saksi.

(bx/ran/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news