Rabu, 28 Oct 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

TPS-3R Minim, Sampah Diminta Kelola Jadi Eco Enzym

18 Oktober 2020, 10: 54: 50 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

TPS-3R Minim, Sampah Diminta Kelola Jadi Eco Enzym

PELATIHAN : Tim DLH saat melakukan pelatihan pembuatan Eco Enzym dengan menyasar PKK dan KWT di Desa Bengkel, beberapa waktu lalu untuk mengelola sampah organik mengingat TPS-3R masih minim.  (istimewa)

Share this      

BUSUNGBIU, BALI EXPRESS- Pengelolaan sampah di wilayah Kecamatan Busungbiu belum maksimal. Pasalnya, dari 15 desa yang ada, hanya tiga desa yang sudah memiliki Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Reduce, Reuse, Recycle (3R). 

Selebihnya, 12 desa masih memanfaatkan lahan pribadi milik masing-masing warga, sebagai tempat penampungan sampah.

Camat Busungbiu, I Gede Putra Aryana, merinci TPS 3R saat ini hanya dimiliki oleh Desa Kedis, Desa Busungbiu, dan Desa Tinggarsari. Sejatinya, dirinya sudah mendorong 12 desa lainnya, agar segera menyediakan lahan untuk pembangunan TPS-3R. Sementara dana pembangunannya akan dibantu oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Buleleng.

Desa dinas, sebut Aryana, selama ini kerap mengaku tidak memiliki lahan. Saat ini desa dinas masih melakukan koordinasi dengan desa adat. “Sebaiknya tidak ada pemisah aset antara desa adat dan desa dinas. Karena ini untuk kepentingan semua krama di desa setempat. Ini sedang dikoordinasikan, mudah-mudahan berjalan sesuai harapan," ujarnya, saat dikonfirmasi Minggu (18/10).

Sejauh ini, warga di 12 desa yang belum memiliki TPS-3R, diakui Aryana, masih membuang sampah rumah tangganya di lahan pribadi. Ada beberapa juga yang tepergok membuang sampah sembarangan di sungai.

"Jadi sampah-sampah itu menumpuk di sana saja. Belum pernah diangkut ke TPA Bengkala. Kecuali sampah yang ada di TPS 3R baru diangkut ke Bengkala," jelasnya.

Atas hal tersebut, Aryana mengaku sudah mengimbau kepada masyarakat untuk mengelola sampah organik menjadi Eco Enzyme, yang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Warga juga diminta  berperan aktif memilah dan mendaur ulang sampah lewat bank sampah. "Setidaknya dengan mengelola sampah, bisa mengurangi  tumpukan sampah di TPS atau TPA," tutupnya.

Terpisah, Kabid Penaatan dan PKLH Dinas Lingkungan Hidup, Cok Aditya Wira Putra, mengaku, pihaknya sudah turun beberapa kali ke sejumlah desa di wilayah Busungbiu. Seperti Desa Bengkel dan Umejero dengan menyasar PKK dan KWT di desa tersebut.

DLH, sebut Cok, terus akan memberikan sosialisasi kepada masyarakat di Kecamatan Busungbiu terkait pengelolaan sampah organik menjadi Eco Enzyme sehingga persoalan sampah bisa tertangani. Rencana, Selasa (20/10), pihaknya akan turun kembali memberikan sosilaisasi dan pelatihan.

“Kami akan turun memberikan pelatihan kepada staf Kantor Camat. Jadi, proses pengelolaan sampah organik bisa dilakukan dari sekup rumah tangga, sehingga tidak dibuang begitu saja. Karena manfaat Eco Enziyme sangat banyak. Tidak hanya mengurai sampah, tetapi juga bisa dijadikan sebagai pupuk organik yang menyuburkan lahan. Apalagi di wilayah Kecamatan Busungbiu merupakan kawasan perkebunan dan pertanian,” singkatnya. 

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news