Senin, 26 Oct 2020
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

Pandemi Covid-19, Penjualan Ikan Koi Meningkat 

18 Oktober 2020, 17: 35: 35 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Pandemi Covid-19, Penjualan Ikan Koi Meningkat 

BISNIS : Agus Dedi Darmawan merawat ikan koi yang siap dijual. (Dewa Rastana/Bali Express)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS – Pandemi Covid-19 membuat masyarakat harus lebih banyak berada di rumah. Untuk mengurangi kejenuhan, warga  memanfaatkan waktunya melakukan berbagai aktivitas, termasuk memelihara ikan. 

Hal ini pun membuat penjualan ikan hias mengalami peningkatan selama pandemi Covid-19, terutama jenis ikan koi.

Salah seorang pebisnis ikan koi di Desa Abiantuwung, Kecamatan Kediri, Tabanan, Agus Dedi Darmawan, menyampaikan,  di tengah pandemi Covid-19 permintaan pasar terhadap berbagai jenis ikan koi memang mengalami peningkatan. 

Menurutnya, hal itu terjadi karena di masa pandemi Covid-19, banyak warga yang mengurangi beraktivitas di luar rumah dan lebih banyak menghabiskan waktu berada di rumah. Agar tidak jenuh, tak sedikit yang memilih memelihara ikan koi. “Buktinya banyak konsumen saya itu merupakan penghobi koi pemula," ungkapnya, Minggu (18/10).

Ditambahkannya, per bulan rata-rata penjualan ikan koi size kecil mencapai 50-70 ekor, sedangkan untuk ukuran besar rata-rata mencapai 10 ekor. Adapun rata-rata harga ikan koi dibandrol bervariasi, mulai dari Rp 15 ribuan per ekor hingga jutaan rupiah per ekornya. 

Lebih lanjut dikatakannya, perbedaan harga ikan koi ini tergantung dari size, pola warna, kualitas (impor atau lokal), hingga jenis kelamin. Menurutnya, khusus untuk ikan koi harga jutaan rupiah ini, selain memiliki kualitas unggul, harga yang mahal ini ditopang juga dengan adanya sertifikat yang menerangkan asal farm koi tersebut.

“Biasanya selama ini  konsumen pemula ini tertarik membeli koi jenis Gosanke. Diantaranya jenis, showa, kohaku, dan sanke yang memang memiliki perpaduan warna menarik. Selain itu, koi yang diminati untuk ukuran besar 35 up. Konsumen dominan mencari yang berjenis kelamin jantan,” imbuhnya.

Ditambahkan  pria yang baru sembilan bulan terakhir berbisnis ikan koi tersebut, selama ini dirinya mendatangkan pasokan dari luar daerah. Diantaranya, dari Blitar, Malang, dan Yogyakarta, untuk memenuhi permintaan pasar di tingkat lokal, dengan rata-rata memasok ikan koi hingga 80 ekor size kecil dan 15 hingga 20 ekor ikan koi untuk size besar atau berukuran 25 sentimeter ke atas.

Dalam mengawali usahanya, Dedi mengaku sempat menemui sejumlah kendala. Salah satunya menyangkut kematian ikan koi yang baru datang setelah dikirim dari luar Bali. Atas kondisi tersebut pihaknya memberikan perlakuan khusus berupa karantina koi untuk yang baru datang sampai benar-benar layak untuk dipasarkan atau dijual ke konsumen. 

“Kita lakukan karantina koi yang baru datang, tujuannya untuk menghilangkan stres ikan saat perjalanan dan mengantisipasi penyakit bawaan yang berisiko bisa menular ke ikan lain, sehingga ikan tersebut layak untuk dijual. Hal ini juga sebagai upaya saya untuk bersaing dengan usaha sejenis lainnya. Yakni dengan mengutamakan kualitas kesehatan ikan, dan tetap menjaga kepercayaan semua pelanggan,” paparnya.

Guna menjaga kesehatan ikan koi di kolam, ia memberikan saran yang utama bukan pada perawatan ikan, melainkan lebih kepada perawatan atau menjaga kesehatan air di dalam kolam. "Diantaranya, secara rutin melakukan pembersihan pada media filter, dan kalaupun melakukan penggantian air, maka dilakukan maksimal 30 persen dari debit air. Tujuannya untuk menjaga perubahan suhu di dalam air," tandasnya. 

(bx/ras/rin/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news