Sabtu, 28 Nov 2020
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

Hotel Macet, Madriana Pilih Buka Wisata Petik Langsung Strawberry

20 Oktober 2020, 00: 14: 26 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Hotel Macet, Madriana Pilih Buka Wisata Petik Langsung Strawberry

LANGSUNG : I Ketut Madriana memetik strawberry di kebun yang dikelolanya, Minggu (18/10). (Dewa Rastana/Bali Express)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS - Pelaku usaha harus pandai-pandai 'memutar otak' agar roda bisnisnya tetap bisa berjalan di masa Pandemi Covid-19. Seperti yang dilakukan salah seorang petani strawberry di Banjar Candikuning I, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Tabanan, I Ketut Madriana, 45. 

Supply buah strawberry ke restoran, hotel dan swalayan yang macet akibat pandemi Covid-19, membuat ia mencoba peruntungan dengan membuka wisata petik langsung buah strawberry di kebun miliknya yang berlokasi di utara objek wisata Ulun Danu Beratan, Tabanan.

Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Madriana menuturkan, sebelum pandemi Covid-19, menanam strawberry di lahan seluas 70 are. Dimana buah strawberry tersebut kemudian dikirim ke sejumlah restoran, hotel dan swalayan yang ada di Bali. 

Namun, setelah pandemi Covid-19, permintaan menurun hampir 90 persen. "Jadi kita hanya bisa jalankan 10 persen saja, dapat Rp 200.000 sehari saja sudah syukur, kemudian banyak buah yang terbuang begitu saja," ujarnya, saat dikonfirmasi Minggu (18/10).

Kondisi tersebut membuat dirinya memutar otak, dan saat memasuki era new normal, Madriana nekat mencoba wisata petik buah strawberry langsung dari kebunnya. Dan, ternyata respon masyarakat cukup baik, sehingga usahanya itu tetap bisa berdiri hingga saat ini.

"Dengan segala keterbatasan yang kita miliki, mulai dari lahan parkir, kemudian cara berjualan petik langsung juga tidak tahu, akhirnya kita nekat saja buka wisata petik buah langsung ini, dan ternyata minggu pertama respon masyarakat sangat lumayan," tuturnya.

Wisata petik buah langsung yang dimaksud adalah pengunjung bebas memetik buah strawberry di kebun milik Madriana, tanpa tiket masuk ataupun karcis parkir. Yang dihitung nantinya hanya buah strawberry yang dibawa pulang. 

Menariknya lagi, buah strawberry yang dimakan langsung di kebun tidak dihitung alias digratiskan. "Jadi kalau bawa pulang 1 kilogram strawberry ya bayar 1 kilogram, kalau setengah kilogram ya bayarnya setengah kilogram. Sekarang ini 1 kilogramnya Rp 50.000," lanjutnya.

Jelas saja hal tersebut membuat tempat ini tak pernah sepi pengunjung, sejak dibuka sekitar empat bulan lalu. Pengunjung datang dari berbagai daerah di Bali. Bahkan, juga ada wisatawan luar Bali. 

Tak heran jika dalam sehari Madriana bisa merengkuh omzet berkisar antara Rp 1 Juta sampai Rp 2 Juta. Dan, Rp 5 Juta khusus di akhir pekan atau hari libur. "Kalau hari-hari biasa bisa habis 20 kilogram yang dipetik, kalau akhir pekan bisa 60 kilogram sampai 100 kilogram," sebutnya.

Wisata petik buah langsung yang ia lakoni saat ini, jauh lebih menguntungkan hingga 50 persen daripada supply ke hotel, restoran dan swalayan yang ia jalani  sebelum pandemi Covid-19. 

Hanya saja, wisata petik buah langsung ini tetap memiliki tantangan tersendiri. Yakni bagaimana Madriana bisa tetap menyediakan buah strawberry siap petik setiap harinya. "Tetap ada tantangannya, kita harus menyediakan buah siap petik setiap harinya dan ini cukup sulit, karena tiap harinya banyak buah matang yang dipetik," sambung Madriana.

Lebih lanjut, ia mengatakan, di lahan seluas 1,6 hektare miliknya itu terdapat 70 are tanaman strawberry yang buahnya bisa dipetik oleh pengunjung, sedangkan sisanya ditanami kentang. 

Untuk merawat kebunnya, Madriana dibantu oleh 10 orang tenaga, dimana 6 orang standby setiap hari di kebun. Menurutnya, kendala yang dihadapi saat musim hujan tiba karena buah strawberry akan cepat busuk. Namun, pihaknya senantiasa melakukan pencegahan dengan melakukan perawatan yang maksimal, termasuk pemupukan agar terhindar dari hama. 

Dari menanam dibutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk tanaman strawberry itu berbuah. "Setiap satu bulan sekali daun-daun yang layu juga dibersihkan," tandasnya.

Sementara itu, salah satu pekerja Ni Putu Puspayanti, asal Banjar Candikuning I, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Tabanan, mengatakan, kunjungan ke wisata petik buah langsung milik Madriana memang selalu ramai.

Bahkan, saat akhir pekan ia sampai kewalahan melayani pengunjung. "Ada saja pengunjung setiap hari, apalagi kalau hari Sabtu dan Minggu pasti ramai," ujarnya. 

(bx/ras/rin/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news