Sabtu, 28 Nov 2020
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

Warga Labasari Andalkan Pohon Lontar Untuk Penghidupan

21 Oktober 2020, 22: 03: 36 WIB | editor : Nyoman Suarna

Warga Labasari Andalkan Pohon Lontar Untuk Penghidupan

SUMBER PENGHIDUPAN: Perajin daun lontar di Banjar Peselatan, Desa Labasari, Karangasem mengumpulkan bahan baku untuk diolah jadi tikar. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

AMLAPURA, BALI EXPRESS – Sebagian besar warga Desa Labasari, Kecamatan Abang, Karangasem mengandalkan pohon lontar sebagai sumber penghidupan. Di antaranya distilasi air lontar menjadi arak hingga perajin tikar berbahan daun lontar.

Dari enam banjar dinas yang ada, empat banjar menjadi sentra pengolahan hasil pohon lontar. Bahkan daun lontar yang dipakai untuk bahan baku banten (keperluan upacara) didatangkan dari desa ini.

Sekretaris Desa Labasari, I Made Sutrama menjelaskan, hampir 80 persen warganya bergelut budi daya pohon lontar. Paling banyak sebagai perajin tikar. Kegiatan ini telah dilakoni sejak dulu. Seiring berkembang zaman, kegiatan warga memang beragam. Misalnya nyambi wirausaha, sopir, hingga pariwisata.

"Pagi misalnya naik untuk cari air lontar. Sementara yang wanita menyebit daunnya kemudian dijemur untuk diulat jadi tikar. Lidinya dimanfaatkan untuk sapu. Semua bergerak sebagai perajin yang produknya dijual ke luar desa bahkan kabupaten," kata Sutrama, Rabu (21/10).

Kata Sutrama, banyak warga luar Karangasem membeli daun lontar untuk dijual kembali. Ada dari Singaraja, Badung, Denpasar, dan pengepul daerah lainnya. Daun itu biasa dipakai mengulat sampian dan sarana upakara lainnya.

Untuk tikar paling banyak diproduksi untuk keperluan upacara. Ukurannya beragam, mulai 15x20 cm hingga 50x100 cm. Selain jadi sapu dan tikar, perajin di desa itu juga memproduksi ingke beragam ukuran.

Sutrama menilai, budidaya lontar jarang dilakukan anak muda. Biasanya perkebunan lontar digarap para orangtua sambil melakukan pekerjaan lain. Bahkan ada yang nyambi nelayan. Padahal pohon sudah lama ada, tinggal dimanfaatkan.

"Pohon ini kuat. Dengan minim air pun masih bisa hidup. Namun 15 tahun tumbuh baru bisa hasilkan buah. Untuk daun bisa dimanfaatkan," ungkapnya.

Salah seorang perajin di Banjar Peselatan, Wayan Pica sudah lama produksi tikar. Ukuran paling kecil dijual Rp 80 ribu untuk 50 lembar atau satu lembar Rp 2.500. Wanita 65 tahun itu sudah punya pelanggan tetap dari Kota Amlapura hingga Buleleng. "Biasanya langsung ambil ke rumah. Jumlahnya tergantung permintaan, 500 lembar satu pembeli pernah," ucapnya.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news