Sabtu, 28 Nov 2020
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

Tak Henti Diserang PBK, Petani Kakao Beralih Tanam Kopi

21 Oktober 2020, 23: 09: 03 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Tak Henti Diserang PBK, Petani Kakao Beralih Tanam Kopi

PUTUS ASA : I Made Arthana menunjukkan tanaman kakao, sebelum akhirnya ditebang karena putus asa atasi serangan PBK. (Dewa Rastana/Bali Express)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS -Serangan virus Penggerak Batang Kakao (PBK) yang menyerang  kakao petani di wilayah Desa Dalang, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan, membuat tak sedikit petani yang akhirnya beralih ke tanaman kopi dan pisang. 

Salah seorang petani di Banjar Tanah Barak, Desa Dalang, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan, I Made Arthana, menuturkan, sudah dua tahun belakangan ini dirinya beralih menanam kopi, pisang dan vanili. 

Ia terpaksa menebang tanaman kakaonya lantaran tak pernah absen diserang virus PBK. "Kakao sudah saya tebang dan diganti sama kopi, pisang dan vanili," ujarnya Rabu (21/10).

Ditambahkannya, virus PBK biasanya menyerang buah coklat yang masih berukuran kecil, sehingga pada saat dipanen kulit dan biji lengket serta sulit dipecahkan.

Virus tersebut biasanya dibawa oleh serangga mirip lalat yang akan melubangi buah coklat dan kemudian akan berubah menjadi ulat yang membuat buah busuk. "Biasanya virus ini dibawa oleh sejenis serangga seperti lalat tapi ukurannya lebih besar," imbuhnya.

Sayangnya sejak serangan virus mulai ganas di tahun 2004 lalu, pihaknya tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Padahal, ia bersama warga Banjar Tanah Barak yang berjumlah 20 KK yang seluruhnya memiliki kebun kakao sudah melakukan upaya pencegahan virus dengan berbagai cara, namun tidak berhasil. "Bahkan sudah berkoordinasi dengan petugas penyuluh perkebunan di lapangan," lanjutnya.

Dengan luas kebun kakao rata-rata 1 hektare per KK, para petani paling banyak hanya mendapatkan buah kakao 20 kilogram. Sedangkan sebelum virus PBK menyerang, para petani bisa mendapatkan hasil panen mencapai 1 kwintal.

Lantaran sulit diberantas,  satu per satu petani memutuskan untuk menebang pohon kakaonya dan menggantikan dengan tanaman yang hasilnya lebih menjanjikan.

Lebih lanjut, Arthana menuturkan, saat ini belum mendapatkan hasil dari tanaman kopi dan vanili yang ditanam. Ia hanya baru mendapatkan hasil panen dari pisang, lantaran untuk tanaman kopi baru ditanamnya satu tahun.

"Kalau kopi saya baru buat dasar sambungan, lalu vanili baru saya putar batang dua kali, ada juga yang baru sekali diputar batangnya. Jadi, baru dapat hasil dari pisang saja," pungkasnya. 

Arthana berharap keputusannya untuk menebang pohon kakao merupakan keputusan yang tepat. Diharapkannya, hasil panen dari kopi, pisang serta vanili yang kini ditanam, bisa membuat tidak merugi lagi.

(bx/ras/rin/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news