Sabtu, 28 Nov 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Hyang Widhi, Siwa, Dewata Nawa Sanga Berdasarkan Kanda Dewa

22 Oktober 2020, 06: 07: 43 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Hyang Widhi, Siwa, Dewata Nawa Sanga Berdasarkan Kanda Dewa

YOGA SAMADHI: Anggota Kanda Pat Pasraman Seruling Dewata saat melakukan yoga samadhi beberapa waktu lalu. (Dewa Rastana/Bali Express)

Share this      

TABANAN, BALI EXPRESS-Sampai saat ini masih banyak umat Hindu yang belum mengetahui bagaimana kedudukan Sang Hyang Widhi, Dewa Siwa, dan Dewata Nawa Sanga dalam sistem beragama Hindu di Bali. Bahkan, kata Sang Hyang Widhi, yang merupakan nama Tuhan umat Hindu di Bali, belum diketahui secara jelas, sejak kapan nama itu muncul dan lontar apa sebagai sumber rujukannya. 

Ketua Cabang Kanda Pat Pasraman Seruling Dewata, Dr. Ngurah Bagus, M.Si, S.Si, mengatakan, setelah mendalami ajaran Kanda Pat, khususnya Kanda Pat Dewa, barulah dirinya menemukan kata Sang Hyang Widhi dan bagaimana kedudukannya dibandingkan Dewa Siwa, dan Dewata Nawa Sanga.

Ia menjelaskan, ajaran Kanda Pat turun di Bali secara lengkap sekitar abad ke-14 atau Saka Warsa 1241 atau 1319 Masehi, yang terdiri dari 18 Kanda Pat Durga dan 55 Kanda Pat Siwa. “Lalu apakah ini berarti kata Sang Hyang Widhi baru digunakan sejak tahun 1319? Tentu saja tidak,” ujarnya, kemarin.

Menurutnya, perlu juga diketahui salah satu Kanda Pat Durga, yaitu Kanda Pat Pasuk Wetu atau Aji Pralina pernah turun di Jawa, yaitu di Desa Dirah, wilayah Kerajaan Kediri, sekitar abad ke-11. Dalam Kanda Pat Pasuk Wetu juga ditemukan kata Sang Hyang Widhi.

“Saya juga pernah menemukan kata Sang Hyang Widhi dalam suatu naskah yang usianya sangat tua, namun sampai saat ini belum saya temukan kembali naskah tersebut. Namun demikian, uraian yang terdapat dalam Kanda Pat Dewa dirasa cukup untuk mengetahui bagaimana kedudukan Sang Hyang Widhi, Dewa Siwa, dan Dewata Nawa Sanga,” paparnya.

Dalam Pustaka Kanda Pat Dewa, diuraikan tentang ajaran yang sangat rahasia terkait asal mula keberadaan para dewa yang seluruhnya berjumlah 3.339 (tiga ribu tiga ratus tiga puluh sembilan) dewa, yang dinamakan 'Pamahbah Dewata Nawa Sanga'. 

Selain itu, diuraikan juga tentang segala sesuatu yang terkait dengan Dewata Nawa Sanga, yaitu urip, sthana, warna, senjata, wahana atau tunggangan, sabda, dan lain sebagainya. Berikut ini adalah penjelasan yang terdapat dalam Kanda Pat Dewa.

Dibeberkannya, Kanda Pat Dewa merupakan ajaran yang sangat mulia dan sangat rahasia (maharahasiam), karena di dalamnya menguraikan hal-hal yang sangat rahasia, di luar daya nalar dan kemampuan manusia biasa. Yaitu segala sesuatu tentang para dewa, seperti Puja Dewa (Dewa Astawa), Mudra Dewa, Pernapasan Dewa (Dewa Pranayam), Manusia Dewa (Manawa Madewa), Senjata Dewa, Hati Dewa (Dewa Hredayam), Makanan Dewa (Dewa Bogania), Mata Dewa (Dewa Caksu), Pendengaran Dewa, dan sebagainya. 

Dalam Kanda Dewa diuraikan tentang asal mula keberadaan para dewa yang dinamakan Pamahbah Dewata Nawa Sanga. Inilah asal-usul terciptanya para dewa yang seluruhnya berjumlah tiga ribu tiga ratus tiga puluh sembilan dewa. 

Diceritakan, pada mulanya alam ini kosong tidak ada apa-apa, yang ada hanya sunia atau alam kekosongan. Bentuknya seperti inten pawekah. Kekosongan inilah yang dinamakan Sang Hyang Noro, yang merupakan penguasa atas kekosongan. 

Kemudian dari kekosongan ini muncullah bayangan samar-samar, inilah yang dinamakan Sang Hyang Marekojati, yang merupakan intisari kekosongan dan benih dari segala yang ada. Selanjutnya dari bayangan samar-samar tersebut, yang pertama muncul adalah Hyang Tunggal, yang artinya Yang Satu Tiada Duanya, yang sering disebut Hyang Widhi, yang mentakdirkan segalanya. 

Selanjutnya Sang Hyang Widhi beryoga samadhi dan dari kekuatan yoga samadhinya, maka dari bayangan samar-samar tersebut terciptalah Sang Hyang Parama Wisesa. Selanjutnya Sang Hyang Parama Wisesa melakukan yoga samadhi dan dari kekuatan yoga samadhinya, dari bayangan samar-samar itu terciptalah Sang Hyang Taya. 

Kemudian Sang Hyang Taya melakukan yoga samadhi, dan dari kekuatan yoga samadhinya, maka dari bayangan samar-samar itu terciptalah Dewa Siwa, yang merupakan dewa pertama dan pemimpin para dewa. 

Kemudian Dewa Siwa melakukan yoga samadhi, dan dari kekuatan yoga samadhinya maka dari bayangan samar-samar itu terciptalah Dewa Iswara, Dewa Wisnu, Dewa Rudra, Dewa Mahadewa, Dewa Maheswara, Dewa Sambu, Dewa Sangkara, Dewa Brahma, sehingga sekarang terdapatlah sembilan dewa yang dinamakan Dewa Nawa Sanga. 

Nawa Sanga adalah himpunan dewa yang jumlahnya sembilan dengan Dewa Siwa sebagai pemimpinnya. Kemudian Dewa Nawa Sanga secara bersama-sama melakukan yoga samadhi, dan dari kekuatan yoga samadhinya maka dari bayangan samar samar itu, terciptalah ribuan dewa banyaknya, dengan Dewa Nawa Sanga sebagai pemimpin semua dewa. 

Selanjutnya diceritakan tentang Tri Murti, yang merupakan tiga kekuatan yang mahadahsyat tanpa batas. Dimulai dari semua dewa yang jumlahnya ribuan mamurti menjadi Dewa Nawa Sanga, yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu, Dewa Siwa, Dewa Iswara, Dewa Rudra, Dewa Mahadewa, Dewa Maheswara, Dewa Sambhu, Dewa Sangkara. 

Selanjutnya Dewa Nawa Sanga mamurti maka terciptalah Tri Murti, yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa. Istri atau Sakti dari Tri Murti ini disebut Tri Sakti, yaitu Bhatari Saraswati, Bhatari Lakshmi, dan Bhatari Durga.

Pria yang akrab disapa Gus Japa itu, menambahkan, jika di Pasraman Seruling Dewata, terkait Kanda Pat Dewa, diajarkan tiga jenis meditasi, yaitu Meditasi Puja Dewa, Meditasi Dewa Pranayam, dan Meditasi Dewa Hredayam. 

Adapun keterangan dari masing-masing meditasi tersebut adalah sebagai berikut. Yang pertama, Meditasi Puja Dewa, berisi tuntunan cara memuja Dewata Nawa Sanga. 

Disebutkan orang yang mau merendahkan diri dengan memuja keagungan para dewa, maka ia akan mendapatkan anugerah dari para dewa yang dipujanya, inilah hukum kahyangan. Berbagai anugerah dari para dewa tersebut akan mencapai puncaknya yang mahasempuma, yang dinamakan puncak kesempurnaan berkah yang berlimpah. 

“Mereka yang rajin melakukan Meditasi Puja Dewa akan menjadi suci. Segala dosa, papa, petaka, lara, roga, wigna akan sirna karena kekuatan sinar suci dari dewa yang dipuja,” sambungnya.

Kemudian, Meditasi Dewa Pranayam berisi tuntunan tentang bagaimana cara mengatur dan mengendalikan napas, sebagaimana para dewa mengatur dan mengendalikan napas, sehingga orang tersebut akan mendapatkan kekuatan yang sempurna, yang melampaui kekuatan manusia biasa. 

Selain itu, orang yang rajin melakukan Meditasi Dewa Pranayam akan memiliki kesucian dan kesaktian yang luar biasa, yang mampu membuat binatang, bhuta, dan manusia menjadi tunduk. 

Selanjutnua ada Meditasi Dewa Hredayam. Meditasi ini berisi tuntunan tentang bagaimana menguasai dan mengendalikan perasaan, sehingga manusia akan memiliki perasaan yang kokoh, kuat, pageh, tenang, damai, tidak mudah berubah, tidak mudah goyah, hening, dan mahasempurna. 

Berbagai kejadian dan perubahan duniawi tak akan mampu menggoyahkan dan mengacaukan perasaannya. Dikatakannya, orang tersebut akan mampu memandang kematian sanak-saudaranya bagaikan sapi pulang ke kandangnya. 

"Ia merasakan hal yang sama jika melihat sebongkah emas dan sebongkah batu. Ia tidak terkejut jika melihat bencana alam, gunung meletus, gelombang pasang menerjang atau angin puting beliung memporak-porandakan alam semesta. Tidak iri dan dengki, jika dirinya miskin, meskipun dikelilingi orang kaya di sekitarnya. Ia tidak akan takut melihat sakit dan kematian, sebab ia memahami bahwa ketika sang jiwa meninggalkan badan, sesungguhnya bagaikan mengganti baju kotor dengan baju yang baru,” tandasnya. 

(bx/ras/rin/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news