Sabtu, 28 Nov 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Ini 14 Ritual Hindu dari Masa Kehamilan Hingga Meninggal

23 Oktober 2020, 09: 22: 02 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Ini 14 Ritual Hindu dari Masa Kehamilan Hingga Meninggal

Panglingsir Grya Ulon Jungutan, Ida Bagus Gunawan. (Dian Suryantini/Bali Express)

Share this      

KARANGASEM, BALI EXPRESS – Dalam umat Hindu terdapat konsep upacara yang disebut dengan Panca Yadnya. Panca Yadnya diartikan sebagai lima persembahan suci kepada Tuhan. Adapun tingkatannya adalah Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya, Butha Yadnya, dan Pitra Yadnya. 

Dewa Yadnya adalah persembahan yang ditujukan kepada Tuhan, Rsi Yadnya adalah persembahan yang ditujukan pada rsi (guru). Selanjutnya Manusa Yadnya adalah persembahan atau upacara penyucian secara spiritual kepada manusia. Sementara Bhuta Yadnya adalah persembahan yang ditujukan untuk para Bhutakala untuk menjaga keseimbangan alam. Dan yang terakhir adalah Pitra Yadnya, yakni persembahan kepada para leluhur.

Pada bagian Manusa Yadnya, terdapat 14 ritual yang harus ditempuh dalam kehidupan manusia. Yang pertama adalah upacara Ngrujak. Ngrujak merupakan upacara yang pertama dilaksanakan bagi seorang wanita yang sedang hamil muda. Upacara ini bertujuan untuk memperkuat kehamilan ibu dan mengurangi risiko keguguran. Juga bertjuan untuk pertumbuhan bayi yang sehat dan aman. 

Bahan utama untuk Ngrujak adalah berbagai jenis pisang dan buah-buahan, seperti Delima, Pepaya, Mangga, Belimbing, Badung, Kecubung, juga Gula Aren (Juruh) dan Madu. Permata Rubby kecil (jika mungkin Delima Rubby) kemudian dimasukkan ke dalam campuran buah, diletakkan dalam batil atau gedah yang terbuat dari gelas, kemudian diberkati dengan mantra oleh pendeta.

 “Poinnya dalam upacara ini adalah bagaimana bayi yang ada dalam kandungan itu sehat dan ibunya juga sehat. Caranya adalah dengan makan buah. Karena ibu yang hamil dan anak yang dikandung butuh asupan gizi, juga vitamin. Kalau secara ilmiahnya seperti itu. Akan tetapi dalam Hindu ini ada ritualnya. Dan, Ngrujak inilah upacaranya, kalau istilah Bali ini disebut apang tis,” jelas Panglingsir Puri Ulon Jungutan, Ida Bagus Gunawan, pekan kemarin.

Yang kedua adalah upacara Magedong-gedongan. Upacara ini untuk seorang ibu dengan usia kehamilan 3-6 bulan. Upacara ini adalah upaya untuk memurnikan dan menjaga keselamatan janin dan ibu, berharap bayi yang akan lahir tumbuh menjadi orang yang baik atau suputra dan memainkan peran penting, baik untuk keluarga maupun masyarakat. 

Rangkaian upacaranya meliputi suami ditemani istrinya menyiapkan benang hitam, menyiapkan galah buluh. Bambu ini digunakan untuk menumbak daun kumbang (sejenis talas) dibentuk seperti bungkusan dan didalamnya diisi dengan ikan air tawar. 

Selanjutnya istri menjunjung ceraken, kemudian dipuja mantra oleh pendeta dan pada saatnya tiba, istri kemudian menelan sepasang permata mirah (Mirah Delima).

“Ini upacara untuk wanita hamil 7 bulan, agar bayi yang dilahirkan kelak tumbuh menjadi anak yang baik dan berbakti. Makanya ada disebut menelan sepasang permata. Tapi ini bisa disimbolkan dengan buah Delima merah,” jelasnya.

Upacara yang ketiga yakni Nanem ari-ari. Upacara ini bertujuan untuk memohon permakluman kepada Hyang Ibu Pertiwi dan Hyang Akasa untuk menerima dan berkenan memberikan perlindungan, umur panjang serta keselamatan bagi si bayi.

Ari-ari pertama harus dicuci sampai bersih, dibungkus dengan kain kasa, diisi rempah-rempah, lalu dimasukkan ke dalam kelapa untuk selanjutnya ditanam. Di atas ari-ari diletakkan batu dengan permukaan datar dan pandan berduri, disampingnya ditempatkan baleman (bara api). 

Baleman adalah simbol dari pembakar jasad. Lamanya membuat baleman adalah satu bulan tujuh hari (42 hari). “Apabila tidak dilakukan dengan benar maka tujuan membakar jasad tersebut tidak akan berhasil. Untuk penanaman ari-ari anak perempuan ditanam di sebelah kiri pintu masuk dan anak laki-laki di tanam di sebelah kanan pintu masuk,” tambahnya.

Upacara selanjutnya adalah kepus wedel atau kepus pungsed. Upacara ini khusus ketika plasenta terlepas dari pusar bayi. Biasanya 5-15 hari setelah bayi lahir. Dalam kepercayaan orang Bali, kepus wedel menandai masuknya kekuatan spiritual Nyama Catur yang akan terus merawat bayi. 

“Pratiti Mas sebagai penjaga bayi disiapkan. Pratiti ini seperti pasikepan dalam istilah Bali, terbuat dari daun kelapa, digulung sedemikian rupa lalu diikat dengan benang hitam, selanjutnya diikatkan pada pergelangan tangan kiri bayi,” sambungnya.

Ritual yang kelima adalah Mapag Rare. Ritual ini dilakukan ketika bayi berusia 12 hari. Tujuan dari upacara ini adalah untuk mengucapkan terima kasih kepada Sang Hyang Dumadi (yang lahir kembali), bahwa bayi itu lahir dengan selamat. 

“Melalui upacara ini diharapkan yang dumadi memeroleh kehidupan yang sehat dan panjang usia. Sebelum ngayab saji Pamatang Rare, bayi itu diperciki dengan palukatan dan tirta,” imbuhnya.

Yang keenam adalah Ngeles Kakambuh. Upacara ini dilakukan setelah bayi berusia 42 hari. Kakambuh (penjaga) digantikan oleh penjaga (pangijeng) bayi yang berfungsi sebagai penjaga jiwa bayi, sehingga bayi akan panjang umur, bebas dari rasa sakit dan berbagai gangguan atau halangan.

Yang ketujuh upacara Nelu Bulanin atau tiga bulanan. Upacara ini dilakukan ketika bayi berusia tiga bulan atau 105 hari. Upacara ini bermakna untuk melepaskan pengaruh negatif yang dibawa oleh Nyama Catur atau empat saudara dan pada saat yang sama menyambut kedatangan untur-unsur Panca Maha Butha untuk menyatukan dan memperkuat fisik dan psikologis bayi. Pada upacara ini dipercaya bayi akan diberkati oleh Dewa Raditya atai Siwaditya.

Selanjutnya adalah Nganem Bulanin atau yang terkenal disebut Otonan atau Ngotonin. Pada upacara ini bayi dimohonkan restu dari Ida Bhatara Pertiwi agar dilimpahkan keharmonisan, kesehatan dan tidak terpengaruh oleh bencana dan hambatan. 

Pada usia enam bulan, bayi diizinkan untuk menginjak tanah untuk pertama kalinya. “Upacara ini boleh dilakukan seterusnya kala hari otonannya tiba. Di Desa Jungutan sendiri pada umumnya banyak orang yang melakukannya sampai usia dewasa. Tapi ada pula yang melaksanakannya sekali saat usia enam bulan,” tuturnya.

Ritual kesembilan yakni Makutang Rambut atau Mapetik. Upacara ini menunjukkan bahwa bayi telah menjadi manusia yang sempurna. Kekotoran (leteh) bayi yang disebabkan oleh proses kelahiran telah sirna. Setelah upacara ini biasanya rambut bayi dicukur habis. Upacara ini dilakukan ketika bayi berusia enam bulan kalender Bali (210 hari) atau satu oton. 

Usia aoton dipilih untuk upacara ini karena pada usia ini bayi dianggap telah memiliki sistem kekebalan tubuh yang cukup dan kesehatan bayi dalam tahap yang baik.

Upacara selanjutnya adalah upacara Semayut Maketus Lan Menek Kelih. Setelah anak kehilangan gigi pertamanya, sejak saat itu pikiran anak mulai dipengaruhi oleh Triguna. Seorang anak harus mulai belajar tentang kehidupan dan secara simbolis harus menindik telinganya. Upacara ini disebut Semayut Maketus. 

Setelah anak meningkat remaja dan mulai menstruasi, ada upacara yang sebaiknya dilakukan untuk memurnikan faktor-faktor negatif yang melekat yang disebut dengan upacara Menek Kelih.

Ritual kesebelas adalah Matatah. Ritual ini hampir sama dengan upacara Menek Kelih. Upacara ini ditujukan kepada seorang anak yang telah berusia 16 tahun atau sudah bisa dianggap dewasa. Biasanya ritual ini dapat digabung dengan upacara Menek Kelih.

Kemudian setelah melaksanakan ritual Matatah, ada ritual Pawiwahan. Upacara ini juga terkadang dilakukan bersamaan dengan upacara Matatah. Upacara Pawiwahan ini tujuan utamanya adalah untuk menetralisasi kotoran (cuntaka) yang diakibatkan karena adanya pertemuan dua manusia (pria dan wanita).

Ritual ketiga belas adalah Ngaben. Ritual ini masuk dalam Pitra Yadnya. Upacara ini ditujukan untuk keluarga yang telah meninggal. Upacara ini merupakan pengorbanan yang tulus iklas yang ditujukan kepada roh leluhur. Pada lontar Yama Tattwa, filosofi Ngaben adalah mempercepat pengembalian unsur-unsur Panca Maha Butha ke asalnya. 

“Ini juga menunjukkan bahwa Hinduisme tujuan akhir kehidupan bukanlah surga. Melainkan atma itu menyatu dengan Brahman atau Tuhan. Seperti yang sering didengar, tujuan akhirnya adalah moksa. Tidak terlahir kembali, tapi menyatu dengan Tuhan,” ucapnya.

Upacara yang terakhir adalah Atma Wedana. Setelah upacara Atiwa-tiwa, upacara terakhir yang dilakukan adalah Atma Wedana. Upacara ini dilakukan untuk memuliakan dan memurnikan roh/atma untuk dapat bersatu dengan Sang Pencipta.

Runtutan ritual yang dilalui manusia semasa hidup hingga meninggal ini diambil dari rujukan lontar Rare Angon dan lontar Gama Dewa Pati Urip. Selain itu, juga dari berbagai sumber, seperti para peranda dan narasumber yang ahli di bidang sastra. “Itu yang pokok sekali kami pakai rujukannya. Selain para peranda di Desa Jungutan, juga dari para Tapini serta para ahli pembaca lontar,” ungkapnya. 

(bx/dhi/rin/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news