Jumat, 04 Dec 2020
baliexpress
Home > Bali
icon featured
Bali

Banyak Makan Mi Instan, Penyebab 31 WBP Lapas Kerobokan Positif Covid

23 Oktober 2020, 21: 41: 18 WIB | editor : Nyoman Suarna

Banyak Makan Mi Instan, Penyebab 31 WBP Lapas Kerobokan Positif Covid

BANYAK POSITIF: Kadiv Pemasyarakatan Kemenkumham Bali Suprapto membeber sejumlah alasan mengapa banyak WBP yang positif Covid-19. (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRESS – Kekhawatiran bahwa Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kerobokan menjadi klaster baru penyebaran virus Covid-19 menjadi kenyataan. Sebelumnya, rapid test ratusan warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang terdiri atas napi dan tahanan menunjukkan hasil reaktif. Mereka pun menjalani swab test. Hasil swab test pertama telah keluar. Dari 227 warga binaan yang di melakukan tes swab, 31 orang terkonfirmasi positif Covid-19.

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Kanwil Bali Suprapto menjelaskan hal tersebut, Jumat (23/10). "Dari 227 yang di tes swab, ada 31 yang positif Covid-19, dari yang 227, baru 85 orang yang keluar hasilnya," jelas Suprapto.

Warga binaan yang sudah diswab total ada 1294 selama tiga hari dengan total reaktif 627 orang. Selain itu, WBP di Lapas Perempuan Kelas II A Kerobokan yang berjumah 164 orang di-rapid, hasilnya 58 orang yang reaktif.

Banyaknya WBP yang positif membuat lapas yang sudah over kapasitas tersebut kini sekarang sudah di-lock down. Suprapto mengungkap beberapa penyebab WBP Lapas Kelas II A Kerobokan, Denpasar banyak reaktif sesuai hasil rapid dan kemudian terbukti banyak pula yang positif. "Ada beberapa penyebab sehingga tingginya angka reaktif warga binaan kami. Setidaknya ada lima penyebab yang kami nilai menjadi faktor tingginya angka reaktif tersebut," ungkapnya.

Faktor pertama yang menjadi pemicu, menurut penjelasan Suprapto, karena kurangnya asupan nutrisi selama berada di dalam Lapas. "Warga binaan jarang sekali makan buah. Walaupun kami sudah berikan buah, jarang mereka makan. Karena nutrisi banyak bersumber dari buah," beber Suprapto.

Lebih jauh Suprapto mengungkapkan bahwa banyak warga binaan makan mie instan daripada makan makanan sehat yang sudah disediakan lapas. "Selain itu mereka banyak kurang minum air putih yang menyebabkan dehidrasi, padahal kita butuhkan 60 persen cairan dari seluruh tubuh," bebernya lagi.

Kurangnya nutrisi dan kurang cairan dalam tubuh, menurut Suptapto, membuat imun tubuh para warga binaan turun. Selain itu, faktor pikiran dan stress menjadi faktor lain yang menyebabkan imun para WBP menjadi lemah.

"Ada juga faktor pikiran, stress karena berada di dalam Lapas. Karena selama ini rata-rata keluhan mereka sakit kepala. Faktor stress juga selama ini kami tangani," ungkap Suprapto.

Selain itu, faktor malas bergerak atau olahraga juga menjadi penyebab banyaknya WBP yang reaktif dan postif Covid-19. "Mereka kurang bergerak atau olahraga, walaupun kami sudah sediakan program olahraga, terkadang gerakan mereka juga kurang," jelasnya lagi.

Untuk mencegah penularan dari yang reaktif kepada non reaktif, bagi warga binaan yang reaktif ditempatkan di blok khusus yaitu blok 5 dan 6 di Lapas. "Bagi yang non reaktif kami larang ke blok yang reaktif," pungkasnya.

(bx/ris/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news