Jumat, 04 Dec 2020
baliexpress
Home > Features
icon featured
Features
Pembelajaran Daring di Pelosok Buleleng

Siswa Tak Punya Smartphone, Guru Kontrak di Buleleng Naik-Turun Bukit

26 Oktober 2020, 11: 25: 37 WIB | editor : I Putu Suyatra

Siswa Tak Punya Smartphone, Guru Kontrak di Buleleng Naik-Turun Bukit

PERJUANGAN GURU: Guru kontrak di SMPN 1 Banjar saat memberikan pendampingan di rumah siswa untuk memastikan agar tidak ketinggalan pelajaran. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

Proses pembelajaran dalam jaringan (daring) selama pandemi Covid-19 butuh perjuangan ekstra keras. Modal belajar tak sekadar kuota. Melainkan akses internet dan smartphone yang memadai. Rupanya kondisi ini dialami sejumlah siswa di SMPN 1 Banjar. Tak pelak, guru kontrak pun harus turun langsung mendatangi rumah siswa untuk memberikan pendampingan. Seperti apa?

I PUTU MARDIKA, Banjar

SEMUA tahu, kondisi geografis Kabupaten Buleleng berbukit-bukit. Tak terkecuali di wilayah Kecamatan Banjar. Hal inipun menjadi tantangan tersendiri dalam pembelajaran daring selama pandemi Covid-19 lantaran akses internet terganggu akibat blank spot.

Tak ingin siswanya kesulitan belajar terus-menerus, seorang guru kontrak di SMPN 1 Banjar bernama Ida Ayu Komang Sulastri turun ke rumah siswanya untuk memberikan pendampingan belajar. Langkah ini dilakukan agar siswanya tidak ketinggalan belajar.

Dikonfirmasi pada Sabtu (24/10) Ida Ayu Komang Sulastri tak menampik jika dirinya dan beberapa guru lainnya harus melakukan kunjungan ke rumah siswa sebagai bentuk bimbingan belajar karena kediaman siswanya tak terjangkau layanan internet.

Alih-alih bisa belajar daring, selain kendala internet, tak sedikit juga siswanya belum memiliki smartphone untuk proses pembelajaran. Situasi inipun menambah daftar panjang kendala proses pembelajaran di tengah pandemi Covid-19.

Ketika menyambangi rumah siswa, ia memberikan arahan secara langsung. Terutama materi pembelajaran yang bagi siswa masih dirasa sulit. Pasalnya, perlu penjelasan yang ekstra agar siswanya paham materi yang diajarkan.

"Kami tidak berhenti mengajar karena sebagian besar siswa tidak memiliki telepon pintar dan sulit mengakses internet. Sehingga kami jemput bola dengan mendatangi rumah siswa yang jaraknya saling berjauhan," ujar Ayu Sulastri.

Dikatakan Ayu Sulastri, setiap hari dirinya bersama guru kontrak lainnya mendampingi hingga belasan siswa yang melakukan pembelajaran secara offline karena keterbatasan akses internet maupun telepon pintar. Terlebih, letak geografis rumah siswa yang cukup jauh membuat dirinya tidak dapat memaksimalkan pendampingan terhadap siswa setiap harinya.

Demi menjangkau rumah siswa, Sulastri dan beberapa temannya kerap menempuh jarak hingga 7 kilometer dari sekolah, sehingga butuh waktu yang tak sebentar. Karena akses sulit, ia kerap menitipkan sepeda motornya di rumah warga. Sebab, untuk sampai ke rumah siswa yang dituju hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Meski demikian hal tersebut dijalani dengan sepenuh hati dengan harapan hasil belajar siswa dapat memuaskan.

 “Yang penting anak-anak kami tetap bisa belajar di tengah pandemi. Sehingga tidak ketinggalan pelajaran. Pastinya kami tetap memberlakukan protokol kesehatan selama pembelajaran pendampingan,” pungkasnya.

Terpisah, Kepala Sekolah SMPN 1 Banjar, Made Sutarjana tak menampik jika pembelajaran daring belum bisa dilaksanakan secara efektif untuk saat ini. Hal itu terjadi lantaran wilayah tempat tinggal beberapa siswa berada di dataran tinggi yang memang sulit terjangkau sinyal internet. Belum lagi faktor ekonomi orang tua siswa yang sulit untuk membeli ponsel pintar.

"Harapan kami jaringan internet bisa sampai ke pelosok, sehingga upaya pendampingan dapat dilakukan melalui telepon pintar. Meskipun masih sulit, pihak sekolah tetap berupaya melakukan pendampingan secara langsung seperti sekarang meskipun waktu dan tenaga yang kami miliki terbatas," katanya.

Sutarjana pun memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas pengabdian para guru yang sudah berusaha hadir melakukan pendampingan ke rumah siswa sebagai bentuk bimbingan belajar karena kediaman siswa tak terjangkau layanan internet. Pihaknya pun berharap agar pemerintah memberikan perhatian khusus kepada para guru-guru tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) Buleleng, Ketut Astika mengapresiasi perjuangan para pahlawan tanpa tanda jasa di Banjar ini memberikan layanan pendampingan belajar di tengah pandemi Covid-19.

Kendati demikian, dirinya menyebut bila proses pembelajaran memang bisa dilakukan secara daring dan luring (luar jaringan). Artinya jika siswa tidak memiliki smartphone dan terkendala akses jaringan, maka guru bisa melakukan pendampingan secara langsung ke rumah siswa.

 “Guru PNS, kontrak, honorer, pengabdian bisa datang langsung ke rumah siswa memberikan pendampingan. Dengan catatan, mereka tetap menjalankan protokol kesehatan dan orang tua siswa bersedia guru itu berkunjung. Karena banyak orang tua khawatir justru nanti menjadi klaster penyebaran Covid-19,” bebernya.

Lalu, apakah guru yang berkunjung akan diberikan uang transport karena menempuh jarak yang tidak dekat? Astika menyebut jika hal itu menjadi kewenangan kepala sekolah tempat guru tersebut mengajar. Namun, dirinya memperbolehkan jika anggaran bisa digunakan untuk membiayai transport guru yang melakukan pendampingan.

“Secara aturan boleh (diberikan uang transport, Red). Tapi itu kebijakan kepala sekolah. Karena mereka yang tahu masalah penganggaran. Intinya kami berharap agar guru tetap memberikan pelayanan yang terbaik kepada siswa saat belajar,” pungkasnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news