Jumat, 04 Dec 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Atasi Gangguan Hama Cara Niskala, Badung Ngaben Bikul 

14 November 2020, 08: 38: 04 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Atasi Gangguan Hama Cara Niskala, Badung Ngaben Bikul 

BIKUL : Ritual khusus diyakini umat Hindu sebagai sarana untuk mengatasi masalah. Ngaben Bikul yang akan diadakan Badung pekan depan misalnya, dipercaya untuk membasmi hama secara niskala. (istimewa)

Share this      

MANGUPURA, BALI EXPRESS - Rencana Ngaben Bikul (tikus) di Kabupaten Badung akan dilaksanakan pada 19 November 2020 mendatang. Kegiatan ini dilaksanakan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait bersama sejumlah pihak, termasuk subak. 

Istilah Ngaben Bikul bukan hal baru. Kegiatan ini masih terkait Nangluk Merana atau penolak hama dan penyakit. Kegiatan Ngaben Bikul dikhususkan untuk menekan organisme pengganggu tanaman, khususnya tikus. “Sesuai pertemuan awal akan segera dilaksanakan Ngaben Bikul tersebut. Untuk membasmi hama secara niskala,” ungkap Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Badung, Wayan Wijana, Rabu (11/11) kemarin.

Terkait pelaksanaannya, lanjut Wijana,  Dinas Kebudayaan yang memastikan karena  terkait dengang dewasa ayu dan petunjuk Ida Pedanda. 

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan (Kadisbud) Kabupaten Badung I Gde Eka Sudarwitha mengungkapkan, Ngaben Bikul akan dilakukan pada 19 November 2020 mendatang. Hari itu dipilih lantaran dipandang hari baik untuk mengusir semua jenis hama. 

“Ngaben Bikul akan kami laksanakan di Pantai Pererenan, Badung. Bahkan prosesi itu nantinya akan diikuti OPD terkait dan pihak subak yang ada di Badung,” ungkapnya.

Sebelum prosesi Ngaben, krama subak terlebih dulu melakukan kegiatan berburu tikus. Pemburuan dilakukan dengan memilih hari baik pula di masing-masing daerah.

“Kalau tidak salah mulai besok dimulai Ngejuk (menangkap) bikul itu. Namun pelaksanaan menangkap bikul tidak berbarengan, karena sesuai tempat, hari baik dan arah mata angin. Termasuk nanti saat Ngaben juga sesuai arah mata angin bikul itu diaben,” tegasnya.

Disinggung mengenai prosesi Ngaben tersebut, prosesinya sama dengan Ngaben pada umumnya. Hanya saja bikul atau tikus yang akan diaben nanti dilakukan secara simbolis yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.

“Kalau sarana dan prasarananya seperti bantennya lebih besar Ngaben Bikul. Karena menggunakan lima sayut. Ini kan Ngaben jagat untuk semua hama yang ada di tanah atau lahan masyarakat yang ada di Badung,” jelasnya.

Setelah Ngaben, nantinya akan ada prosesi Nganyud di Pantai Pererenan. Usai Nganyud, akan ada acara nunas tirta (mohon air suci) di segara atau pantai. Ada pula tirta dari sejumlah pura yang ada di Badung. Tirta tersebut kemudian dibagikan ke semua krama subak untuk dipercikkan ke semua lahan persawahan yang ada di Badung.

 “Semua subak akan dibagikan air suci atau tirta ini, dengan harapan petani mempercikkan ke sawahnya, dan berdoa agar hama hilang dan hasil panen bisa maksimal,” papar mantan Kabag Organisasi dan Tata Laksana Setda Badung ini.

Eka Sudarwitha berharap, dengan adanya Ngaben Bikul, hama khususnya di sawah bisa berkurang, sehingga tidak mengganggu hasil cocok tanam para petani. “Saat Ngaben Bikul, kami juga mengastiti atau melakukan doa bersama, agar hama termasuk Covid-19 ini cepat berlalu, dan masyarakat bisa kembali hidup normal,” tandasnya.

Berdasarkan data, dari 9.593 hektare lahan pertanian di Badung, seluas 107 hektare diantaranya diserang hama tikus. Ratusan hektare sawah yang terserang hama tersebar di Kecamatan Petang, Abiansemal, Mengwi, dan Kuta Utara. Oleh karena itu, selain dilakukan Gerakan Pengendalian (Gerdal), ditempuh pula ritual berupa Ngaben Bikul. 

(bx/adi/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news