Jumat, 04 Dec 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Akulturasi Hindu-Muslim Pegayaman, Muasal Leluhur Prajurit Blambangan

16 November 2020, 10: 12: 51 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Akulturasi Hindu-Muslim Pegayaman, Muasal Leluhur Prajurit Blambangan

TRADISI: Salah satu seni tradisi yang ada di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Perbekel Desa Pegayaman Asghar Ali bersama Istri. (Dian Suryantini/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Desa Pegayaman di Kecamatan Sukasada yang berbatasan dengan Desa Silangjana di sebelah timur ini, memiliki sejarah panjang seiring dengan berdirinya Kota Singaraja. 

Meski hingga kini sejarah tertulis tentang keberadaan Desa Pegayaman belum ditemukan, namun dari cerita para tetua desa setempat  bahwa leluhur Desa Pegayaman disebutkan merupakan prajurit yang datang dari Blambangan. 

Prajurit yang membantu mengamankan Kerajaan Den Bukit kala itu, hingga akhirnya ditempatkan di perbatasan selatan Buleleng, tatkala keamanan telah terkendali. 

Diceritakan waktu itu situasi Kerajaan Buleleng kurang aman. Akhirnya pihak kerajaan meminta bantuan ke Blambangan. Dari Blambangan datanglah ke Buleleng dengan menghantarkan 12 prajurit, dan ada juga yang menghantarkan delapan prajurit. Kedatangan prajurit ini menggunakan kendaraan gajah. 

Sampai di Singaraja, gajah tersebut diberikan tempat istirahat oleh Ki Barak Panji Sakti, yang dikenal Meguyang. 

“Makanya di utara Buleleng itu ada daerah Peguyangan, dan dipetak-petakkan, makanya juga ada Banjar Petak. Dengan suatu bentuk perjanjian, apabila berhasil mengamankan Buleleng atau kerajaan Ki Barak Panji Sakti, maka akan diberikan hadiah tempat tinggal seluas mata memandang. Artinya mungkin kanan kiri dan lain sebagainya," papar Perbekel Desa Pegayaman Asghar Ali, pekan kemarin.

Setelah berhasil melakukan misi tersebut, lanjut Asghar Ali, disuruhlah memilih lokasi tempat tinggal. Maka oleh orang-orang Blambangan dipilihlah wilayah Pegayaman.

Asghar Ali menambahkan, nama Pegayaman dimungkinkan mengingat luasnya hutan Gayam atau dalam Bahasa Bali dikenal dengan istilah Gatep.

“Pegayaman waktu itu masih hutan belantara yang dipenuhi dengan pohon Gatep atau pohon Gayam. Entah dengan bahasa apa, singkat cerita sehingga lokasi ini jadi Desa Pegayaman, dan jadi tempat tinggal,” imbuhnya.

Konon akulturasi budaya Hindu dan Muslim mulai terlahir manakala prajurit yang merupakan leluhur warga Desa Pegayaman mempersunting salah seorang putri yang berasal dari lingkungan kerajaan. 

“Yang datang itu semua laki-laki, makanya ada salah satu dari yang datang itu kawin dengan keluarga lingkungan kerajaan. Ini masih simpang siur, ada yang mengatakan keluarga keraajaan, ada yang mengatakan dari lingkungan lain. Yang jelas dari lingkungan kerajaan Ki Barak Panji Sakti, makanya dikatakan terjadilah gabungan antara Jawa dan Bali,” terangnya.

Ketaatan warga Desa Pegayaman kala itu akan ajaran agama Islam membuat orang luar termasuk penjajah Belanda, sulit masuk ke wilayah tersebut. Lama-kelamaan dengan memanfaatkan seorang tokoh Bugis, akhirnya wilayah Pegayaman dapat menerima pergaulan dari suku lainnya. 

“Setelah beberapa warga waktu itu sebetulnya menolak, tapi karena kebetulan yang datang itu orang alim, Kyai, kalau orang Bali dikatakan seorang guru besar, maka para leluhur kami, tokoh-tokoh menerima. Makanya di Pegayaman sampai sekarang terdiri dari tiga suku, yaitu Suku Bali, Suku Jawa, Suku Bugis,” lanjutnya. 

Peristiwa itu terjadi sekitar abad ke-14, dan ada pula yang mengatakan pada abad ke-16. Sehingga sampai sekarang wilayah Pegayaman sebetulnyaa memanjang sampai perbatasan Tabanan. Dahulu wilayah Pancasari bernama Benyai.

Salah satu ciri bahwa leluhur warga Desa Pegayaman berasal dari Blambangan, Jawa Timur adalah dari segi bahasa. “Orang-orang tua itu bahasanya seperti bahasa Banyuangen. Seperti osing dan lain sebagainya. Bahkan termasuk salah satu keluarga saya, silsilah keluaraga saya yaitu saya sampai bingung, karena ada yang namanya Kumpi Sri Bukit," paparnya.

Dikatakan Asghar Ali, bahasanya pun sangat mirip dengan bahasa Banyuwangen-nya itu. " Itu ciri khas yang pertama. Yang kedua sampai sekarang kental sekali, mengatakan kopi Robusta di Pegayaman masih tetap mengatakan kopi Jawa,” ungkapnya.

Lebih lanjut Asghar Ali menerangkan, kekerabatan yang terjalin antar warga Muslim dan Hindu di Pegayaman sangat kental. Kondisi ini menjadikan tumbuhnya tradisi di kalangan warga setempat.

“Kental sekali dengan budaya Bali-nya. Misalnya disini saya katakana ada istilah Panyajaan, Panampahan, Panapean, ada yang istilah Bali-nya Ngejot mengantar makanan ke tetangga. Terus ada istilah Manis hari raya, itu betul-betul masih kental dan membudaya di Pegayaman, " urainya. 

Dari nama juga begitu. Makanya jangan heran, misalnya ada yang namanya Wayan Moh Ibrohim. "Cuma disini di Pegayaman ciri khas nama tersebut jika dipanggil Wayan,  pastilah anak pertama,” ujarnya lagi. 

Di bidang seni, warga Desa Pegayaman juga memiliki kesenian khas berupa Bordah dan Hardah. Kedua kesenian ini bahkan sering disajikan dalam setiap perayaan yang dilakukan desa setempat. Bahkan tak jarang pentas di dua desa.

“Yang menggunakan hiasan besar yang dalam bahasa Bali-nya terbuat dari bongkol nyuh, dibuat dengan kulit sapi, dan lain sebagainya namanya Bordah. Kenapa saya katakana unik, sebab dalam penampilannya mereka akan mencirikan cirri khas Bali-nya, artinya pakai lancingan, pakai udeng, itu akan dibanggakan sekali kegiatan Bordah tersebut,” pungkas Asghar Ali.

Mau berkunjung ke Pegayaman? Desa Pegayaman masuk dalam Kecamatan Sukasada, berbatasan dengan Desa Gitgit di sebelah barat. Kemudian Desa Pancasari di sebelah selatan, Desa Pegadungan di sebelah utara, dan Desa Silangjana di sebelah timur. 

(bx/dhi/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news