Jumat, 04 Dec 2020
baliexpress
Home > Balinese
icon featured
Balinese

Makam Karang Rupit, Sosok Wali Pitu Bernama The Kwan Lie

19 November 2020, 10: 09: 42 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Makam Karang Rupit, Sosok Wali Pitu Bernama The Kwan Lie

MAKAM KERAMAT:  Makan Keramat Karang Rupit di Desa Temukus, Buleleng, dikenal juga sebagai makam Wali Pitu bernama The Kwan Lie. (Dian Suryantini/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI WXPRESS-Di Dusun Labuan Aji, Desa Temukus, Kecamatan Banjar, Buleleng, ada makam yang dikeramatkan bernama Makam Karang Rupit. Makam ini

merupakan makam salah satu Wali Pitu yang juga disebut Sabatul Auliya bernama The Kwan Lie, bergelar Syeikh Abdul Qadir Muhammad.

Sejarah Makam Keramat Karang Rupit ini diawali dengan masuknya Islam di tanah Bali yang kemudian berkembang dengan pesat. 

Di sekitar lokasi Makam Keramat Karang Rupit ini, terdapat makam-makam lain yang tidak tertulis nama atau siapa pemilik makam tersebut. 

Makam-makam tanpa nama tersebut merupakan makam kerabat dan juru kunci yang berjasa merawat serta menjaga keutuhan makam tersebut. Setidaknya terdapat belasan makam yang letaknya satu areal dengan Makam The Kwan Lie ini.

Makam Keramat Karang Rupit awalnya berada beberapa puluh meter dari pantai dalam keadaan terjepit karang dan mengambang di atas permukaan air laut. Kemudian makam ini bergeser menuju tepat di tepi pantai, berdekatan dengan Pura Labuan Aji. 

Saat berpindah tempat dari permukaan air laut menuju ke tepi pantai, posisi makam hanya berbentuk tumpukan tanah lengkap dengan dua batu nisan. Yang mengherankan, makam milik Wali Pitu ini bertambah tinggi beberapa centimeter (cm) setiap bulan-bulan tertentu. Keanehan itu diungkapkan Juru Kunci Makam Keramat Karang Rupit, Samsul Hadi, pekan kemarin

“Makam itu bukan sengaja dibuat naik. Tapi entah kenapa makam itu naik sendiri. Dahulunya ya datar saja seperti makam pada umumnya. Tapi lama-lama kok makin menggunduk dan akhirnya makam itu tinggi seperti yang ada pada saat ini. Dan, makam ini dikeramatkan oleh semua umat,” ungkapnya.

Samsul Hadi menceritakan, The Kwan Lie yang bergelar Syeikh Abdul Qadir Muhammad merupakan Wali Pitu yang menyebarkan agama Islam di Bali. “Keramat kan itu karena di Bali itu ada wali tujuh. Di Loloan Barat ada satu, di Pantai Seseh satu, di Klungkung di bagian Kusamba, satu di Bedugul, di Pura Pamecutan, di Karangasem, dan yang lagi satu ada disini. Di Labuhan Aji ini yang diberi gelar Syeikh Abdul Qadir Muhammad atau yang bernama asli The Kwan Lie,” tuturnya.

The Kwan Lie merupakan saudagar Tiongkok yang telah mendaratkan perahu niaganya di pesisir pantai kawasan Bali Utara pada pertengahan abad XVI. The Kwan Lie yang memang berdarah asli Tiongkok mengenakan busana tradisi Tiongkok yang saat itu terlihat aneh bagi warga setempat. 

Sampai-sampai beliau dianggap oleh masyarakat setempat sebagai seorang raja dari negeri seberang. Sebagai seorang saudagar, The Kwan Lie singgah di berbagai wilayah perairan, bahkan negara-negara di kawasan Asia, termasuk mendaratkan perahu niaganya di perairan Pantai Lovina menuju Desa Temukus, tepatnya di Labuan Aji. 

“Semasa remaja The Kwan Lie merupakan murid dari Sunan Gunung Jati, Cirebon (Jawa Barat), dan beliau banyak belajar tentang Islam dari Sunan Gunung Jati. Beliau tidak saja melaksanakan kegiatan berdagang di kawasan ini, tetapi juga menyiarkan agama Islam,” tuturnya.  

The Kwan Lie mendaratkan kapalnya di daerah ini, karena saat itu di Labuan Aji pernah menjadi pelabuhan kecil bagi kapal-kapal dari wilayah lain yang mendarat untuk berdagang. Bahkan, Labuan Aji dan beberapa daerah di dekat Labuan Aji, seperti Tigawasa, Banjar, Banyuatis, dan beberapa daerah lainnya, terkenal juga sebagai daerah yang subur dan banyak menghasilkan berbagai macam produk bahan pokok yang dibutuhkan, seperti beras, cengkeh, kopi dan bermacam-macam  buah-buahan lainnya. 

Selain itu, Labuan Aji juga memiliki keindahan alam yang sangat menunjang wilayah tersebut, yang hingga saat ini masih ada, seperti Air Terjun Sing Sing.

Setelah The Kwan Lie wafat, atas segala jasa-jasa dalam mensyiarkan Islam di Buleleng, masyarakat serta tokoh atau ulama memberikan gelar Syekh Abdul Qadir Muhammad. Hingga kini, makam sang Wali Pitu ini pun dikenal sebagai makam keramat. 

(bx/dhi/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news