Jumat, 04 Dec 2020
baliexpress
Home > Kolom
icon featured
Kolom
LOLOHIN MALU

20 November

Oleh: Made Adnyana Ole

20 November 2020, 21: 06: 57 WIB | editor : Nyoman Suarna

20 November

Made Adnyana Ole (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

Saya pernah mengira, dulu, saat kanak-kanak, satu-satunya ajang keramaian di dunia ini adalah ajang peringatan Hari Puputan Margarana, di desa kelahiran saya di Marga, Tabanan. Tapi semakin hari, keramaian semakin banyak, apalagi belakangan festival yang isinya melulu hanya keramaian, sudah seperti jadwal hari pasaran, setiap pasah, beteng, atau kajeng. Sehingga saya tahu kemudian, keramaian bisa dibuat kapan saja; pada saat ada peringatan hari penting, atau tidak ada pengatan hari apa pun.

Mari saya beritahu cerita lucu dan memalukan. Pada masa kanak-kanak saya dan semua teman sebaya di kampung, dipastikan membeli mainan setahun sekali, ya, itu, hanya pada saat peringatan Hari Puputan Margarana, 20 November. Saat peringatan, areal monumen yang saat itu masih sempit, amatlah padat oleh pedagang, salah satunya, ya, pedagang mainan. Pedagang mainan itu mungkin datang dari Kampung Jawa di Kediri atau di Kota Tabanan. Mungkin ada juga yang jauh-jauh datang langsung dari Jawa. Sekali beli mainan, misalnya mobil-mobilan dari plastik, saya harus memeliharanya dengan baik dan telaten. Jika misalnya mobil-mobilan itu sudah rusak pada bulan Januari, maka anak-anak harus menunggu mainan baru 10 bulan lagi.

Tapi, jika itu barang benar-benar rusak pada bulan Januari, saya dan anak-anak lain harus cari akal biar mainan itu tetap bisa digunakan hingga 10 bulan kemudian. Misalnya jika rodanya lepas dan raib entah ke mana, saya dan anak-anak lain bisa menggantinya dengan roda dari buah sentul. Tahu buah sentul? Ah, sayang sekali jika tidak tahu.

Mainan dan Hari Puputan Margarana benar-benar terhubung di otak saya. Sampai-sampai saya pikir, penjual mainan hanya berjualan pada saat perayaan hari pahlawan. Kemewahan bagi anak-anak datang pada rentang hari yang cukup lama, sehingga kemewahan benar-benar langka. Kemewahan yang benar-benar istimewa. Tapi, kini pedagang mainan hadir saban hari. Bahkan pedagang mainan bisa hadir di tempat-tempat yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Yakni, di pura saat odalan. Bahkan, kadang ada joke yang menggelikan. Konon pedagang mainan yang sebagian besar datang dari Jawa itu lebih hapal jadwal odalan ketimbang umat Hindu yang menjadi penyungsung pura itu. Ah, namanya juga joke. Itu lucu. Tapi, jika dipikir-pikir, ada benarnya juga. 

Eh, kok saya cerita soal mainan. Padahal sesungguhnya saya ingin menulis hal yang lebih bermakna, misalnya tentang ritual sebuah peringatan di hari pahlawan. Untuk itu, sesekali cobalah bertanyalah kepada Putu Wirata Dwikora tentang ritual ketupat telur dan sebuah napak tilas masa kecil di sekitar Hari Puputan Margarana saban 20 November. Putu Wirata, tokoh Bali Corruption Wacth yang sejatinya adalah seorang budayawan itu akan bertutur tentang satu rangkaian perjalanan yang menyenangkan dari sebuah dusun di sudut Penebel, tempat dia lahir, ke sebuah titik peringatan di Desa Marga, Tabanan, tempat di mana dulu perang itu dikumandangkan. Jaraknya mungkin 10 kilometer, mungkin juga 100 kilometer, mungkin hanya selangkah saja.

Tapi itu terjadi sekitar tahun 1970-an atau awal tahun 1980-an. Anak-anak dari wilayah dusun-dusun hening di Cepik, Biaung, Dukuh, Buruan, Tunjuk, Buahan, Beng, Sekartaji, Sandan, Wanasari, Bungan Kapal, Legung, Gelagah, Alas Teruna, dan desa kecil lain yang tak pernah tersebutkan dalam peta, akan bergerak sebuah titik peringatan di tanah yang tak begitu lapang di Margarana, pada setiap 20 November. Atau anak-anak dari wilayah ketinggian di Tegeh, Angseri, Munduk Andong, Apuan, Petiga, Tua, Cau, Senganan, Jatiluwih, Wangaya, Penatahan, juga akan meluncur turun ke titik yang sama.

Itulah napak tilas yang sesungguhnya, napak tilas perjuangan untuk sebuah peringatan dan kenanangan. Seperti para pejuang itu, tentu saja mereka berjalan kaki. Dan betapa mereka harus bangun tengah malam dan berangkat pada dini hari yang dingin. Dan betapa semalam sebelumnya ibu-ibu mereka sudah sibuk menyiapkan ketupat dan telur dilengkapi sedikit bawang goreng dengan minyak kelapa yang masih membuncah dalam bungkus daun pisang. Ketupat dan telur itu akan mereka buka tepat pada 20 November di sekitar monumen atau di tepi pagar yang bersemak. Sementara di tengah lapangan, di depan candi perjuangan, barisan para veteran, tentara dan pejabat penting dengan gagah menggelar upacara resmi, lengkap dengan amanat dan petuah-petuah basi.

Ritual ketupat telur dan napak tilas kenangan itu nyaris tak pernah tercatat dan hanya menjadi semacam nostalgia kecil yang dicatat secara alami di sudut kepala anak-anak. Kini, setelah bangsa ini tumbuh, setelah teman kita Putu Wirata Dwikora dan anak-anak pedesaan itu beringsut ke zaman yang makin laju, peringatan 20 November tentu saja masih tetap ada. Namun ritual ketupat telur sudah tak ada lagi.

Anak-anak di sudut pedesaan Dukuh, Cepik, Biaung, atau di sela kehijauan Munduk Andong, Tegeh dan Angseri, mungkin tak mengerti lagi tentang arti sebuah napak tilas, tentang makna sebuah kenangan, tentang megahnya sebuah peringatan. Jarak antara desa mereka dengan sebuah titik yang masih dianggap penting di Margarana itu menjadi terlalu jauh. Tak ada lagi ikatan perjuangan. Satu atau dua remaja bisa saja meluncur ke Margarana, suatu hari, pada tanggal 20 November, dengan sepeda motor terbaru, namun mereka datang bukan untuk sebuah kenangan, bukan untuk sebuah peringatan.

Mainan anak-anak bukan lagi barang mewah yang bisa didapat setahun sekali. Mereka datang semata untuk sebuah hiburan, selebihnya untuk sesuatu yang tak mereka mengerti sama sekali. Jadi, masihkah sebuah peringatan punya makna ketika anak-anak sudah begitu berjarak dengan sejarah?

(bx/man/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news