Jumat, 04 Dec 2020
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

Pemohon Paspor Anjlok, Potensi Pendapatan PNBP Hilang

21 November 2020, 07: 17: 50 WIB | editor : I Komang Gede Doktrinaya

Pemohon Paspor Anjlok, Potensi Pendapatan PNBP Hilang

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja, Nanang Mustofa.  (Putu Mardika/Bali Express)

Share this      

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Jumlah permohonan penerbitan Paspot (Passport) di Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja turun drastis sejak pandemi Covid-19. Penurunan inipun berdampak terhadap hilangnya potensi pendapatan mencapai Rp 600 juta.

Berdasarkan data dari bulan Januari sampai pertengahan bulan November 2020 ini, Imigrasi Kelas II Singaraja telah mengeluarkan sebanyak 1.799 paspor dari para pemohon. Jumlah tersebut memang turun drastis jika dibandingkan dengan tahun 2019 lalu yang tembus di angka 3.815 pemohon.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Singaraja, Nanang Mustofa mengatakan, penurunan yang cukup siginifikan terjadi pada permohonan penerbitan paspor dari masyarakat yang tinggal di wilayah kerja Imigrasi Kelas II Singaraja, yakni Buleleng, Jembrana, dan Karangasem. Bahkan, persentase penurunan mencapai 60 persen.

Dikatakan Nanang Mustofa, ada beberapa faktor penyebab terjadinya penurunan permohonan pembuatan paspor. Diantaranya, penerbangan internasional yang belum dibuka. Selain itu, ada kemungkinan beberapa negara lain memberlakukan larangan bagi WNI untuk masuk ke negaranya karena situasi lockdown.

Ada pula kekhawatiran masyarakat akan tertular Virus Korona jika melakukan perjalanan keluar negeri. "Jadi sejumlah faktor ini yang mendasari permohonan paspor ini turun drastis. Jadi sangat jauh berkurangnya jika dibangingkan tahun 2019 lalu," jelas Nanang Mustofa saat dikonfirmasi, Jumat (20/11) siang.

Penurunan permohonan paspor ini, diakuinya berpengaruh terhadap Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). Nilai potensi PNBP yang hilang jika dihitung dengan rata-rata biaya satu paspor sekitar Rp 350 ribu.

Bahkan, jika terjadi penurunan 60 persen dengan mengacu jumlah tahun 2019 sebanyak 3.815 pemohon paspor, maka diperkirakan pendapatan yang hilang berkisar Rp 600 juta lebih. Kondisi ini diprediksi akan terus terjadi, selama pandemi Covid-19 belum berakhir.

"Ini akan berpengaruh pada anggaran, jadi kegiatan prioritas diutamakan dijalankan," imbuhnya.

Kendati demikian, pihaknya tetap melakukan pelayanan secara maksimal di tengah pandemi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Demi mencegah kerumunan, pihaknya pun melakukan pelayanan jemput bola.

“Khusus bagi bayi (balita) dan orang sakit. Tinggal hubungi kami dan petugas datang melakukan pelayanan, jika paspor selesai maka kami antar ke rumahnya," pungkas Nanang Mustofa. 

(bx/dik/rin/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news