Kamis, 28 Jan 2021
baliexpress
Home > Bisnis
icon featured
Bisnis

Tahun 2021, Ekonomi Bali Diprediksi Belum Pulih Sepenuhnya

25 November 2020, 19: 51: 03 WIB | editor : Nyoman Suarna

Tahun 2021, Ekonomi Bali Diprediksi Belum Pulih Sepenuhnya

TERPURUK : Sektor pariwisata Bali masih terpuruk, sehingga kondisi ekonomi Bali diprediksi belum pulih tahun 2021. (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

DENPASAR, BALI EXPRRSS- Pada triwulan keempat tahun 2020 kondisi perekonomian Bali berangsur pulih dan beberapa sektor industri sudah mengalami pertumbuhan, namun perekonomian Bali diprediksi tidak serta merta puluh pada tahun 2021.

Pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, Prof. Dr. Wayan Ramantha, beberapa waktu lalu mengatakan, untuk mengembalikan pertumbuhan ekonomi Bali ke angka 5,5 persen sampai dengan 6 persen, diperlukan waktu yang sangat lama. "Estimasi ekonomi Bali mampu menembus 6 persen kemungkinan tercapai pada tahun 2022 hingga 2023," jelasnya.

Untuk mencapai pertumbuhan angka normal ini, Ramantha mengatakan, Pulau Bali tidak bisa mengandalkan sektor pariwisata saja. Untuk kedepannya Pulau Bali perlu melakukan diversifikasi sektor lain seperti sektor pertanian dan UMKM, termasuk industri kerajinan dan ekonomi kreatif.

Selanjutnya adalah diversifikasi infrastruktur untuk mengatasi ketimpangan pembangunan yang selama ini masih menjadi kelemahan pembangunan Bali. "Dengan melakukan pengembangan ekonomi wilayah, diharapkan tidak ada lagi ketimpangan antara Bali utara, selatan, timur dan barat," lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan BI Bali Trisno Nugroho mengatakan, pada triwulan III 2020 perekonomian Bali mulai menunjukkan pemulihan, sebagaimana tercermin pada pertumbuhan sebesar 1,66 persen (qtq) atau lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan lalu sebesar -7,24 persen (qtq). Hal ini terlihat dari kenaikan nilai PDRB dari Rp 35,84 triliun di Q2 menjadi Rp 36,44 triliun di Q3 2020. "Perbaikan ini seiring dengan implementasi strategi pemulihan ekonomi, yaitu penerapan tatanan kehidupan baru, khususnya di sektor pariwisata," jelasnya.

Sejalan dengan mulai dibukanya pariwisata untuk wisatawan domestik, sektor usaha pendukung seperti penyediaan akomodasi dan makan minum, transportasi dan industri pengolahan juga mencatat pertumbuhan positif, masing-masing sebesar 3,41 persen (qtq), 3,64 persen (qtq) dan 3,4 persen (qtq).

Dari sisi penggunaan, perbaikan terjadi pada komponen konsumsi pemerintah (21,76 persen qtq), ekspor luar negeri (11,17 persen qtq), dan investasi (32,68 persen qtq). Sedangkan konsumsi rumah tangga masih tumbuh terbatas (1,87 persen qtq). "Untuk mempercepat pemulihan, penerapan teknologi dan digitalisasi merupakan sebuah keharusan pada era tatanan kehidupan baru," paparnya.

(bx/gek/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news